Enam unit rumah di Desa Titi Mas, Kecamatan Babul Rahmah, Kabupaten Aceh Tenggara ludes terbakar, Senin (1/3/2021). Satu diantaranya merupakan rumah pribadi wakil bupati Aceh Tenggara. Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Mohd Asbi, dikonfirmasi membenarkan kebakaran tersebut. "Dalam kejadian kebakaran sekitar pukul 12.00 WIB siang, api baru dapat dipadamkan setelah empat unit mobil damkar dikerahkan kelokasi kebakaran," ungkap Asbi.

Dibawah Kepemimpinan Nova Iriansyah

Ironi Kemiskinan dan Dana Segar untuk OKP

AK JAILANIKoordinator Masyarakat Pengawal Otsus (MPO) Syakya Meirizal saat berhadapan dengan personel Satpol PP di lokasi pemasangan papan bunga
A A A

Hari-berganti hari, persoalan pun terus terjadi di bumi serambi Mekkah yang juga sering disebut dengan sebutan Tanah Rencong, lihat saja belum lama ini mayarakat di Provinsi Aceh yang kini masih dibawah kepemimpinan Gubernur Nova Iriansyah mempersoalkan penyaluran dana hibah COVID-19 kepada seratus OKP, namun persoalan itu belum usai, Provinsi paling barat Indonesia ini kembali dihebohkan menjadi "Juara" daerah termiskin se Sumatera.

BANDA ACEH - Pagi tadi, suasana di depan kantor Gubernur Aceh di di Jalan T Nyak Arief, Jeulingke, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh mendapat pandangan yang berbeda. Disana dipajang sejumlah papan bunga ucapan selamat kepada Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan Nova Iriasyah.

Ini, bukan ucapan selamat atas pelantikan jabatan baru maupun ucapan bahagia resepsi perkawinan seperti yang kita lihat diberbagai acara yang lazim diselenggerakan.

Papan bunga dipasang tadi sebagai bentuk kritikan kepada Pemerintah Aceh setelah Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis angka kemiskian di Provinsi paling barat indonesia ini. Dimana berdasarkan data yang dikeluarkan BPS, penduduk miskin di Aceh meningkat 19 ribu orang pada September 2020. Secara persentase, angka kemiskinan sebesar 15,43% atau tertinggi di Sumatera.

Mau tahu apa isi tulisannya? KLIK:Papan Bunga Aceh Juara Termiskin Berjejer di Banda Aceh

Nah, itu sebabnya, seorang pria bernama Syakya mengaku memasang papan bunga dengan ucapan-ucapan menyeleneh itu sebagai resposn dirinya sebagai masyarakat Aceh terhadap kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh Pemerintah Aceh yang dianggap kurang terukur.

"Ini adalah wujud respon kita, respon publik karena kita tau Provinsi Aceh memiliki anggaran yang sangat besar dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. Di Sumatera APBA atau APBD kita yang terbesar se Sumatera, Rp17 Triliun tahun 2020 kemarin, sementara Bengkulu itu hanya Rp3 Triliun. Kita kalah dengan Bengkulu, enam bulan yang lalu pada Maret 2020 itu jumlah angka kemiskinan Aceh presentasenya itu turun sedikit dibandingkan Bengkulu,"kata Syakya.

"Tapi hari ini, enam bulan kemudian turun drastis lagi, sehingga menjadi termiskin se Sumatera, artinya Pemerintah Aceh selama ini tidak bekerja dengan
baik untuk memperbaiki keadaaan,"cetus pria asal Bireuen, Rabu (17/2/2021).

Koordinator Masyarakat Pengawal Otsus (MPO) Aceh ini pun sangat menyayangkan ketika Pemerintah Aceh tidak memanfaatkan dana refocusing APBA tahun 2020 demi peningkatan ekonomi rakyat ditengah musibah pandemi COVID-19, yang sejatinya merupakan amanah dari aturan yang ada.

"Yang harus digaris bawahi, pada saat terjadi Pandemi COVID-19 ini ada perintah refocusing anggaran yang salah satunya adalah menyediakan bantuan sosial untuk masyarakat miskin terdampak COVID-19. Nah kita tau dari APBA kemarin, dalam refocusing APBA 2020 kemarin ada Rp1,5 T anggaran yang diperutukan, untuk Bansos masyarakat terdampak COVID-19."

"Tetapi anggaran yang telah ditetapkan sendiri oleh Pemerintah Aceh tidak dicairkan dibuat menjadi SILPA, seandainya anggaran itu dicairkan mungkin angka kemiskinan kita tidak akan terdongkrak terlalu tinggi mungkin bisa mengatrol,"katanya, seraya mengatakan Pemerintah Aceh lebih memilih menyalurkan dana segar kepada kelompok-kelompok yang tidak memiliki relevansi.

Apa itu?, secara tegas, ia mengatakan pemberian dana hibab COVID -19 kepada seratus OKP, padahal tidak ada urgensinya dan tidak ada relevansinya dalam penanganan COVID-19, akan tetapi Pemerintah Aceh dibawah komando Nova Iriansyah, kata dia memuluskan penyaluran dana tersebut.

"Justru itu sebuah ironi ketika masyarakat miskin, anggaranya tidak disalurkan hak-hak rumah-rumah dhuafa yang telah ditetapkan selama 3 tahun di Baitul Mall itu dibatalkan tidak dibangun, anggaran bansos tidak dicairkan satu rupiah pun, untuk masyarakat miskin tapi untuk OKP yang tidak ada urgensinya dan tidak ada relevansinya dalam penanganan COVID-19 Justru dicairkan, ini sebuah ironi, sikap paradog gubernur Nova,"cetusnya.

"Makanya kritik dengan media papan bunga hari ini,"tambahnya.

Tak hanya itu, wartawan media ini juga turut mempertanyakan apakah pemasangan papan bunga sebagai bentuk kritikan kepada Pemerintah Aceh merupakan "sponsor" tunggal oleh dirinya?, sebab tidak ada terlihat dari pihak lain disana yang wara-wiri selain pihak Satpol PP dan para pewarta yang sibuk mengabadian suasana dilokasi.

"Ini inisiatif saya, tetapi saya meminta kepada kawan-kawan yang punya sepehaman untuk menyumbang papan bunga ada yang menyumbang satu papan
bunga ada yang menyumbang dua papan bunga,"terang dia.

"Solidaritas dari teman-teman yang memiliki sepemahaman,"ujar nya lagi dengan wajah ceria.

Lantas, apa komentar Pemerintah Aceh menyangkut kiriman papan bunga tersebut?

Wartawan acehimage.com, mengirimkan pesan via layanan WhatsApp Messenger, kepada Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Aceh, Muhammad Iswanto sembari mengirimkan link berita dengan judul Gubernur Aceh "Dihadiahkan" Juara Termiskin se Sumatera. Tapi, hingga berita ini diterbitkan Iswanto tidak membalas.

Padahal, wartawan media ini sudah mengirimkan pertanyaan tersebut sejak pukul 11;23 WIB dengan status pesan terkirim alias centang dua, kontak mantan Kabag Humas Pemkab Aceh Besar ini pun sempat dalam kondisi online, meski pesan tidak tercentang biru, ini disinyalir yang bersangkutan mematikan tanda baca.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...