Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sabang melakukan penggeledahan Dinas Perhubungan Sabang dan SPBU Bypass, Rabu (2/12/2020). Penggeledahan dimulai dari pukul 10.00-13.00 WIB itu dipimpin Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sabang Muhammad Razi SH. Kegiatan penggeledahan tersebut dilakukan dalam rangka mencari barang bukti terkait kasus dugaan korupsi belanja BBM/Gas dan Pelumas serta suku cadang yang bersumber dari DPPA SKPD Dinas Perhubungan Sabang tahun anggaran (TA) 2019 sebesar Rp 1.567.456.331.

Ini Penyebab Turunnya Konsumsi Kopi secara Global

ISTIMEWASekertaris Komisi B DPRK Bener Meriah, Yuzmuha
A A A

BENER MERIAH- Para petani kopi di Bener Meriah menghadapi tiga masalah besar yang sangat krusial. Ketiganya adalah kualitas kopi, permodalan, dan pasar.

Hal ini berpengaruh terhadap menurunya konsumsi kopi secara global. Persoalan komoditas kopi ini harusnya jadi titik perhatian pemerintah.

Sekertaris Komisi B DPRK Bener Meriah, Yuzmuha melalui keterangan tertulisnya, Selasa (17/11/2020) menerangkan, bahwa permasalahan kopi ini harus ikut menjadi perhatian Pemerintah agar petani kopi dapat sejahtera.

Ia juga melihat konsumsi kopi di dunia di tengah pademi Covid-19 menurun akibat ada pengurangan volume distribusi logistik jalur perdagangan luar negeri, hal ini dapat dilihat dari keterbatasan container kualitas pun jadi tantangan,namun meningkatnya kebutuhan pasar lokal hal ditandai dengan banyaknya kedai-kedai kopi yang bermunculan di Indonesia khususnya di Aceh.

"Seiring dengan banyaknya kedai kopi yang bertebaran, isu kualitas kopi dimunculkan oleh para eksportir asing dengan melakukan sertifikasi produk kopi,"ujar Yuzmuha.

Di tengah produksi, para petani kopi menolak sertifikasi tersebut dan menilai kualitas kopinya cukup rendah. Hal ini pun diakibatkan karena para pelaku usaha kecil dan menengah belum memiliki teknologi pengolahan yang memadai.

“Teknologi pengolahan industri kopi gren bean / ready exspor untuk pasar luar negeri relatif tradisional akibatnya mutu kopi sebagai bahan baku industri luar negeri relatif rendah yang berdampak kepada harga kopi petani rendah, persoalan ini dapat dilihat pelaku usaha kecil kesulitan mengeringkan biji kopi di musim hujan yang mengkibatkan aroma dan citarasa rusak pada saat tes cup,"sebut Politisi Partai Aceh Bener Meriah itu.

Disisi lain, penurunan harga kopi petani di akibatkan pelaku usaha kecil masih jemur biji gabah dan bahkan green bean di atas jalanan sehingga terjadinya kerusakan dan pecahnya biji kopi pada saat tester yang mingkat jumlah pesel ini sering terjadi di pasar lokal rata-rata kadar air 18.

Namun meningkatnya kebutuhan pasar lokal hal ditandai dengan banyaknya kedai-kedai kopi yang bermunculan di Indonesia khususnya di Aceh dan bahkan di Gayo, kopi semacam ini biasanya mengutamakan kualitas,aroma dan rasa jadi procesing biji kopi semacam ini megutamakan kualias dan tampil beda dengan fasilitas yang memadai dengan menggunakan teknologi namun sayangnya masih berskala kecil petani yang menjual kopinya dengan harga yang tinggi.

Masalah pengetahuan penanganan pascapanen juga jadi kendala yang serius. Pemerintah daerah harus mampu memberikan kepastian kepada Petani menangani pascapanen tentunya menggunakan fasilitas teknologi yang memadai

"Untuk memastikan menjaga mutu kopi sekaligus mempertahankankualitas aroma dan citarasa yang khas dan di kenal di dunia international, akibatnya mutu kopi sebagai bahan baku industri pengolahan kopi dunia relatif tinggi dan diminati oleh dunia atau paling tidak harga kopi petani pasti meningkat," ujarnya.

Terkait dengan fasilitas industry, Yuzmuha mengaku, sudah mengakomudir aspirasi rakyat pada saat reses untuk anggaran 2021 dan sampai saat ini sudah ada di RKPD tentu mengajak segenap masyarakat untuk mengawal proses ini yang akan dibahas pada RKA bulan ini

Perkebunan kopi di Bener Meriah saat ini masih didominasi oleh perkebunan rakyat. Dalam data yang dikeluarkan oleh Pertanian Bener Meriah pada tahun 2016 lahan perkebunan kopi mencapai lebih kurang 46.000 Ha

Sedangkan data tahun 2020 yang tentunya semakin meluas bertambah masih dalam proses pendataan oleh instansi terkait.

Untuk komposisi kopi robusta mencapai lebih kurang 8 persen dari total prouksi kopi Bener Meriah dan sebanyak 92 persen merupakan kopi arabika.

Dalam isu permodalan, Yuzmuha mengaku dalam satu ton kopi yang diproduksi oleh petani dapat memakan biaya lebih kurang sebesar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta dengan luas lahan berbeda - beda.

Panen kopi pun hanya dapat dilakukan dalam setahun sekali, sehingga petani kopi memiliki tantangan untuk mengatur pengeluaran yang didapat saat panen kopi.

"Terkadang persoalan modal muncul akibat konsistensi petani dalam menghasilkan kopi. Dengan bantuan KUR, diharapkan mampu menggenjot produksi kopi bener meriah namun disayangkan pada saat pademi pihak bank juga sudah menutup dana KUR sehingga diharapkan kepada pemerintah daerah dan provensi harus mengambil langkah yang serius tentunya sesuai prosedur dan peruntukan ," jelasnya.

Sedangkan untuk isu pasar, para petani dan pedagang kopi kerap merasa kewalahan untuk memenuhi keinginan pasar yang megutamakan kulitas aroma dan citarasa sehingga hasil panen kopi petani bisa memberikan kepada pembeli yang menawar harga tertinggi.

"Di sini terlihat bahwa penyediaan stok kopi berkualitas untuk memenuhi pasar menjadi persoalan sekaligus tantangan bagi petani untuk meningkatkan produksinya," tambahnya.

"Peran pemerintah pun sangat penting untuk mengembangkan komoditas kopi baik secara jumlah maupun kualitas,"tutup Yuzmuha.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...