Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sabang melakukan penggeledahan Dinas Perhubungan Sabang dan SPBU Bypass, Rabu (2/12/2020). Penggeledahan dimulai dari pukul 10.00-13.00 WIB itu dipimpin Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sabang Muhammad Razi SH. Kegiatan penggeledahan tersebut dilakukan dalam rangka mencari barang bukti terkait kasus dugaan korupsi belanja BBM/Gas dan Pelumas serta suku cadang yang bersumber dari DPPA SKPD Dinas Perhubungan Sabang tahun anggaran (TA) 2019 sebesar Rp 1.567.456.331.

Buyer Menyetop Permintaan

Imbas COVID-19, Harga Kopi Gayo Anjlok

ISTIMEWAKetua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Aceh, Armia
A A A

BENER MERIAH - Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Aceh, Armia memberikan tanggapannya terkait permasalahan kopi Gayo saat ini.

Menurutnya, pandemi Covid-19 sangat berkaitan dengan harga kopi. "Saat ini, permasalahan ekonomi tak hanya terjadi di Gayo saja, tapi global," kata Armia Jum'at (23/10/2020).

Disampaikan, ketergantungan masyarakat Gayo dengan kopi menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perekonomiannya. Namun, ditengah pandemi global saat ini, tak banyak yang bisa dilakukan.

Hal ini, berbeda dengan masyarakat penghasil kopi arabika lainnya di Indonesia, seperti Sintong, Temanggung dan lainnya. Kehidupan mereka akan anjloknya harga kopi tidak terlalu berpengaruh karena bukan penghasilan utama.

"Namun bagi kita di Gayo, ketergantungan masyarakatnya terhadap harga Kopi hampir 85 persen. Akhirnya, pandemi Covid-19 yang menyebabkan harga kopi tak menentu merembet kepada kehidupan sosial dan ekonomi," kata Armia.

Menurut Armia, anjloknya harga kopi bukan akibat adanya permainan, namun lebih kepada masalah global pandemi Covid-19 saat ini.

Katanya, negara-negara yang menjadi buyer kopi Gayo, saat ini seperti Amerika, Eropa Barat, Australia saat ini masih menyetop permintaan terhadap kopi Gayo, jika pun ada permintaan jumlahnya sedikit.

"Banyak cafe-cafe di negara tujuan kopi Gayo yang tutup, roaster juga tutup. Dan ada negara Buyer kita yang terkena resesi, ini juga sangat berpengaruh," tegasnya.

"Sementara di negara buyer kita, cafe-cafe banyak yang gulung tikar," kata Armia. Ditanya terkait solusi, Armia hanya menjawab diplomatis.

Menurutnya, masalah yang terjadi saat ini bukan masalah lokal antara Gayo-Sumatera Utara dan Jakarta saja, melainkan menjadi masalah global.

"Jadi masalah ini, menjadi masalah global. Seluruh titik-titik yang terkait, seperti pelabuhan, untuk mencari kapal untuk mengirim barang, sebulan belum tentu ketemu. Ini terjadi, karena ada pembatasan pelabuhan juga," terangnya.

Masalah ini, kata Armia lagi adalah masalah berantai yang terjadi hampir diseluruh titik, dan ini diluar kontrol dari eksportir kopi Gayo. "Kita tidak bisa mengaturnya, karena ini masalah global," terangnya.

Untuk menormalkan kembali harga kopi, Armia mengatakan hanya waktu yang bisa menjawab. "Jika mau cepat, ayo sama-sama kita akhiri Covid-19 ini, dengan mematuhi protokol kesehatan. Di negara tujuan kopi Gayo, mereka tengah mengantisipasi gelombang kedua penyebaran Covid-19, sementara di kita gelombang pertama juga belum selesai," ungkapnya.

Menurut Armia, harga kopi Gayo saat ini yang berkisar Rp 6 ribu hingga Rp7 ribu perbambu juga harus disyukuri. Karena menurutnya, harga terminal New York saat ini hanya berkisar 2 dollar saja.

"Artinya, kopi kita di saat pandemi ini masih tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan Brazil yang hanya berkisar 2 ribu hingga 3 ribu perbambu," katanya.

Solusi yang tepat kata Armia, kita harus hadapi pandemi ini dengan mengatur pola pengeluaran, hindari membeli barang yang tidak penting.

"Saat ini, tidak mungkin kopi dibeli dengan uang APBK, tidak akan cukup. Program ketahanan pangan yang digaungkan sebenarnya sudah cukup baik, jangan biarkan lagi lahan kosong, tanami dengan apa yang cepat tumbuh dan dapat dikonsumsi," harapnya.

Lain itu, Armia menganjurkan agar semua petani memanfaatkan Sistem Resi Gudang yang sudah ada. "Meskipun kecil, tapi ada pengaruh," katanya.

Disampaikan lagi, beberapa waktu lalu Presiden Jokowi telah menjanjikan dana talangan untuk membeli kopi Gayo 1 Triliun Rupiah. "Jika dana ini jadi diberikan, maka harus ada skema khusus dalam penanganannya. Plotkan saja semua dana itu untuk Resi Gudang, jangan dibuat cara baru yang kemungkinan membuat kita semua rugi ke depannya," tegas Armia

Terkait demo kopi, Armia mengakui bahwa para buyer di luar negeri sangat cepat mengamatinya. Dirinya mengaku, sempat ditelpon oleh buyer terkait aksi dari petani.

"Saya juga kaget, kenapa mereka tahu ada demo kopi disini. Dan dari percakapan dengan saya, justru mengarah kepada makin anjloknya harga kopi. Mereka minta harga kopi di turunkan lagi, ini kan buat kita rugi," tegas Armia.

"Jadi kalau demo, itu yang untung buyer, sementara kita disini sangat dirugikan. Jadi alanglah baiknya, jika bahas solusi kopi senyap-senyap saja (operasi senyap)," tambahnya.

Lain lagi, masa pandemi ini kata Armia harus disikapi dengan cermat dalam hal pemakaian pestisida yang mengandung gliposat.

"Jadi, saat pandemi ini penggunaan gliposat harus benar-benar ditiadakan. Ditengah kita semua punya waktu banyak ke kebun sebagai tempat menjalankan protokol kesehatan, harusnya kebun kita semua bersih tanpa gliposat," kata Armia.

"Mari kita benahi bersama manajemen petani kopi Gayo kita. Karena disaat pandemi inilah waktunya. Kita masih bersyukur ada yang beli kopi meski harganya 6 sampai 7 ribu perbambu," demikian Ketua ARKI Aceh, Armia

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...