Aliansi Pemuda Aceh Menggugat (APAM) kembali menggelar aksi unjuk rasa di Halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Rabu 24 Februari 2021. Aksi tersebut dilakukan untuk meminta Gubernur Aceh dan DPR Aceh untuk lebih peduli kepada masyarakat miskin.

Gunakan Uang Rakyat ke LN, Alibi Cari Investor Tapi Kemiskinan Bertambah

ISTIMEWAAkademisi dari Universitas Muhammadiyah Aceh Dr Taufik A Rahim
A A A

Oleh: Dr Taufiq A Rahim

KENAIKAN angka kemiskinan di Aceh menjadi 15,43 persen atau sebesar 833.910 atau mengalami kenaikan sekitar 19.000 orang dibandingkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2020.

Artinya ini menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran belanja publik, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2020, yang diatas Rp17 triliun tidak efektif dan juga tidak tepat sasarannya.

Tidak hanya dana APBA yang Rp 17 triliun, tapi demikian juga dengan penggunaan dana refokusing Aceh sekitar Rp 2,7 triliun.

Hal ini membuktikan bahwa, terindikasi penyalahgunaan anggaran atau tidak dimanfaatkan belanja publik secara benar, berimplikasi kepada bukti nyata bagi kehidupan ril masyarakat.

Indikator perhitungan yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap perumahan, bensin dan listrik, ini merupakan kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Jika ini menjadi pertimbangan penilaian dan evaluasi, maka menunjukkan bahwa pejabat dan Pemerintah Aceh sama sekali tidak berfikir bagaimana cara mengatasi serta menyelesaikan kesusahan kehidupan rakyat selama masa pandemi corona virus diseases 2019 (Covid-19) saat ini.

Tetapi mareka hanya berfikir untuk dirinya sendiri, elite Aceh dan kelompoknya, tidak sama sekali berfikir untuk kepentingan rakyat.

Jika pun ada upaya mencari solusi hanya sekedar, tidak all out, selebihnya sibuk dengan acara-acara seremonial dan menghamburkan anggaran belanja publik dan jelas tidak tepat sasaran untuk rakyat luas.

Apapun argumentasi yang ingin dibantah oleh Pemerintah Aceh, angka statistik dan kuantitatif kemiskinan di Aceh hari ini terbumti bertambah.

Ini merupakan bukti empirik dan perhitungan secara angka bahwa orang miskin bertambah, ironisnya Gubernur Aceh sibuk dengan keterbatasan kapasitasnya dan kompetensinya untuk berjalan-jalan ke luar, termasuk ke luar negeri dengan alibi mencari investor.

Sementara investor yang pernah ada pergi, "hengkang" ke luar tidak bertahan di wilayah Aceh.

Semua aktivitas ke luar yang digunakan menggunakan uang/dana publik, uang perjalanan dinas, atau ada rombongan atau pengusaha tertentu yang memanfaatkan jabatan Gubernur Aceh untuk "melancong" ke luar negeri. Apakah bisa dipastikan akan mendapatkan investor?

Sementara itu realitas kehidupan rakyat Aceh semakin bertambah yang miskin, bahkan berada pada posisi tertinggi di Sumatera.

Sangat memalukan dan miris, pejabat Aceh bersenang- senang dengan berjalan ke luar negeri, sementara rakyat miskin terus bertambah di Aceh.

Padahal uang yang digunakan berasal dari negara yang notabene di dalamnya ada uang orang-orang miskin dan dhu'afa.

Penulis merupakan akademisi Universitas Muhammadyah Aceh

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...