Akibat tingginya curah hujan mengakibatkan dua unit rumah warga Kampung Lampahan Timur, Kecamatan Timah Gajah, Kabupaten Bener Meriah tertimbun tanah longsor, Jumat (15/1/2021). Selain itu, satu unit gudang yang berada di dekat rumah ikut tertimbun. Plt Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Bener Meriah, Safriadi melalui Kabid Kedaruratan, Anwar Sahdi menyampaikan, dua rumah warga yang tertimbun bagian dapurnya itu yakni rumah, Musliadi dan Muklis yang merupakan Reje Kampung Setempat.

Geruduk Rumah Mahfud MD, Hendropriyono Ingatkan FPI

ISTIMEWA Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono
A A A

JAKARTA - Aksi demonstrasi yang menggeruduk kediaman orang tua Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) di Pamekasan, Jawa Timur, pada Selasa (1/12/2020) lalu

Aksi demonstrasi yang diduga dilakukan oleh ratusan massa ormas Front Pembela Islam (FPI) itu ternyata mendapatkan respon dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) AM. Hendropriyono.

Pasti banyak pembaca yang penasaran dengan respon dari ayah mertua dari KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa ini?

Dalam pernyataan lengkap Hendropriyono terkait kasus tersebut?

Mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono angkat bicara soal aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para Ormas Front Pembela Islam (FPI) di rumah orangtua Menkopolhukam Mahfud MD di Pamekasan, Madura.

“Jangan sekali-kali berdemonstrasi di rumah keluarga siapa pun, seperti yang dilakukan di kediaman Pak Mahfud MD itu, di mana anggota keluarga seperi istri, anak, dan orang tua tidak tahu apa-apa tiba-tiba didemo. Itu berbahaya,” kata Hendropriyono dalam keterangan resminya, Kamis (03/12/ 2020).

Mantan Pangdam Jayakarta era Presiden Soeharto ini menegaskan, menjadikan rumah pribadi sebagai sasaran demonstrasi merupakan perbuatan melanggar hukum, karena aksi demonstrasi mensasar keluarga orang lain dapat dikategorikan sebagai tindakan penyerangan terhadap keluarga seseorang.

Dilansir Viva militer hari ini Purnawirawan Jenderal TNI lulusan Magelang tahun 1967 tersebut menjelaskan, dalam peraturan hukum perundang-undangan dalam pasal 48 dan pasal 49 KUHP memberikan kelonggaran kepada yang diserang untuk melakukan pembelaan diri.

Pasal 49 KUHP tersebut mengatur mengenai perbuatan “pembelaan darurat” atau “pembelaan terpaksa” (noodweer) untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat.

Sedangkan pasl 48 KUHP mengatur overmacht, yakni orang yang melakukan tindak pidana karena daya paksa tidak dapat dipidana.

Dengan demikian, Guru Besar Intelijen STIN itu menyatakan, bahwa hukum kita membenarkan jika pembelaan tersebut sampai melampaui batas.

Dalam keamanan masyarakat yang mengkhawatirkan saat ini, jika pihak yang diserang membela diri secara terpaksa sampai melampaui batas, mereka tidak dapat dihukum.

“Karena itu saya ingatkan agar demonstrasi jangan dilakukan ke kediaman, di mana keluarga yaitu anak, istri dan orangtua yang tidak tahu apa-apa bernaung untuk hidup. Kita berada di negara bangsa Indonesia ini untuk hidup bersama, bukan untuk mati bersama- sama,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa hari lalu kediaman orangtua Mahfud MD di Pamekasan, didatangi ratusan massa simpatisan Ormas Front Pembela Islam (FPI).

Massa yang datang dengan menggunakan sejumlah truk itu langsung menggeruduk dan mengepung kediaman keluarga Mahfud MD. Mereka berteriak mencari dan meminta Mahfud MD untuk keluar dari rumah.

Padahal, Mahfud MD tengah bertugas di Jakarta, dan di rumah itu hanya terdapat Ibu kandung Mahfud MD yang sudah sepuh dengan beberapa keluarga lainnya.

Rubrik:NEWS

Komentar

Loading...