Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata, ada lebih dari 300 rumah yang mengalami kerusakan dengan berbagai tingkatan, akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang Malang dan sekitar Jawa Timur pada siang tadi. Data itu terakhir diterima BNPB pada pukul 20.00 WIB. "Data BNPB hari ini, pukul 20.00 WIB, lebih dari 300 rumah rusak dengan tingkatan berbeda, dari ringan hingga berat," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati melalui keterangan resminya, Sabtu (10/4/2021). "Catatan sementara, 13 unit rumah rusak namun belum ditentukan kategori tingkat kerusakan. Sedangkan sejumlah kerusakan fasilitas umum, antara lain sarana Pendidikan 11 unit, kantor pemerintah 7, sarana ibadah 6, RSUD 1 dan pondok pesantren 1," ungkapnya.

Generasi Cerdas Melek Informasi Hoax

Subhan Toni
A A A

Kecanggihan teknologi memungkinkan sebuah informasi asli dimanipulasi untuk mengelabui bahkan memprovokasi pembaca agar percaya pada konten yang dibuat

Subhan Tomi ASN Pemkab Aceh Singkil

MEDIA sosial merupakan media daring yang dapat menghubungkan para penggunanya dengan mudah dalam hal berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Blog, jejaring sosial, dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Seiring dengan kecanggihan teknologi tersebut banyak manfaat dan tujuan kemudahan yang didapatkan dari media sosial sebagai sarana komunikasi untuk menghubungkan antar pengguna dengan cakupan wilayah yang sangat luas, menyampaikan sebuah pemikiran dan opini, sarana bisnis promosi produk serta jual beli.

Laporan Statisik mencatat, pengguna media sosial di Indonesia pada 2020 paling banyak yakni berusia 25-34 tahun. Rinciannya, pengguna laki-laki dan perempuan masing-masing sebanyak 20,6% dan 14,8%.

Posisi selanjutnya yakni pengguna berusia 18-24 tahun.  Rinciannya, pengguna laki-laki dan perempuan masing-masing sebanyak 16,1% dan 14,2%.

Dari amatan penulis pada penggunaan media sosial baik Facebook, Twitter, Instagram hampir tidak pernah sepi tiap harinya dengan beragam tampilan, yang disuguhkan oleh para penggunanya, yang di satu sisi memiliki segi positif dan juga negatif tergantung pada postingan pemilik akun.

Generasi muda berperan penting dalam perkembangan tekhnologi dan media sosial. Hal ini karena kehidupan mereka yang seakan tidak pernah bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Oleh karena itu generasi muda ini sangat potensial untuk dipengaruhi oleh berita hoax. Semua orang berpotensi sebagai pembuat hoax. Hoax terkait dengan apa saja yang tidak benar adanya, tetapi dijual sebagai sebuah kebenaran dengan tujuan tertentu. Pada akhir-akhir ini kita sebagai masyarakat Indonesia tidak asing dengan istilah berita Hoax.

Berita bohong atau hoaks (bahasa Inggris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Organisasi non-profit First Draft mencatat setidaknya ada tujuh jenis mis-informasi serta disinformasi yang marak beredar di dunia maya, yaitu:

Satir

Satir merupakan konten yang dibuat sebagai sindiran pada pihak tertentu. Konten yang dimuat dikemas dalam unsur parodi, ironi bahkan sarkasme. Umumnya, satir dibuat sebagai bentuk kritik pada individu atau kelompok atas berbagai masalah yang sedang terjadi.

Misleading Content (Konten Menyesatkan)

Misleading content atau konten menyesatkan adalah penggunaan informasi untuk membingkai suatu isu atau pihak. Konten semacam ini dibuat secara sengaja dan diharapkan dapat menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi. Misleading content  terjadi dengan cara memanfaatkan informasi asli seperti gambar, pernyataan resmi atau statistik namun diedit dan tidak dihubungkan dengan konteks aslinya.

False Context (Informasi Salah Konteks)

Sesuai dengan namanya, false context menggunakan informasi asli, tetapi disebar dalam konteks yang keliru. Umumnya, informasi yang dipakai adalah pernyataan, foto atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat namun konteks yang ditulis tidak sesuai dengan realita. Ini terjadi lantaran karena jurnalistik yang buruk atau untuk mendorong opini khalayak.

False Connection (Salah Koneksi)

Selain false context, ada pula false connection yang memakai caption, judul, atau sumber visual yang tidak sesuai dengan konten tulisan. Berita bohong semacam ini biasanya dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan berupa profit atau ekspos berlebih dari konten sensasional.

Imposter Content (Konten Tiruan)

Sesuatu yang berbau tiruan juga merambah pada ranah informasi. Konten tiruan atau imposter content mendompleng ketenaran suatu pihak. Mereka membuat tiruan yang terlihat seolah asli agar dapat menipu masyarakat. Sudah banyak kasus semacam ini mencatut lembaga atau perusahaan resmi.

Manipulated Content (Konten Manipulasi)

Kecanggihan teknologi memungkinkan sebuah informasi asli dimanipulasi untuk mengelabui bahkan memprovokasi pembaca agar percaya pada konten yang dibuat. Peristiwa semacam ini sering menimpa media-media besar yang beritanya disunting oleh tangan-tangan usil.

Fabricated Content (Konten Palsu)

Di antara jenis berita bohong lain, fabricated content termasuk konten dengan menciptakan informasi baru yang sama sekali tidak dapat dipercaya. Fabricated content berbahaya bila pembaca tidak cermat ketika mengakses informasi tersebut.

Generasi muda, sudah semestinya melakukan hal-hal positif di dalam bermedia sosial. Caranya dengan menyadari bahwa pentingnya etika di dalam bermedia sosial, dengan melihat norma-norma kewajaran di dalam memposting segala sesuatu, dengan tidak menyebarkan sesuatu yang dapat menimbulkan kebencian, keresahan, ketidaknyamanan dan kesesatan dalam informasi. Selanjutnya generasi muda senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan sedang atau yang akan terjadi.

Selalu berhati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat situs karena menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut hanya sebahagian yang telah terverifikasi. Periksa fakta, perhatikan dari berita mana berasal dan siapa sumbernya. Cek keaslian foto. Di era teknologi saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca, ikut serta grup diskusi anti-hoax di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax serta melaporkan bila ada informasi hoax.[]

Note: Penulis merupakan seorang ASN di Pemkab Aceh Singkil 

Penulis:Subhan Toni
Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...