Jalan akses menuju Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama, Kubupaten Bener Meriah lumpuh total akibat longsor dan pohon tumbang.“Mungkin kejadianya tadi malam, soalnya kemaren sore anggota saya pulang jalannya masih baik-baik saja," ungkapnya. Munurut Mustakim, longsor tersebut menimpa separuh badan jalan dengan panjang mencapai 17 meter, namun pohon-pohon dari atasnya tumbang dan menutup badan jalan sehingga jalan tersebut tidak dapat dilalui untuk saat ini.

Eks Pangkostrad dalam Tur Moge Berujung Pengeroyokan

ANTARAIlustrasi
A A A

JAKARTA- Nama Letnan Jenderal (Purn) Djamari Chaniago mencuat usai dikabarkan ikut dalam konvoi tur motor gede (moge) yang dilakukan oleh Harley Owners Groups Siliwangi Bandung Chapter (HOG SBC) menuju Sabang, Aceh.

Kegiatan tur itu terhenti di tengah jalan lantaran terlibat insiden pengeroyokan terhadap dua anggota TNI di wilayah Bukittinggi, Sumatera Barat pada Jumat (30/10).

Polisi pun sudah menetapkan lima orang sebagai tersangka yang diduga menjadi pengeroyok dua personel TNI tersebut.

Polisi memastikan Djamari tidak terlibat dalam pemukulan dan penganiayaan terhadap dua prajurit TNI itu.

Saat insiden terjadi, rombongan tur moge itu terbagi menjadi dua. Sebagian melaju terlebih dahulu di depan, dan sisanya berada di belakang rombongan yang diketahui mengeroyok prajurit TNI di tengah jalan.

Djamari sempat menduduki sejumlah jabatan penting di Korps Baret Hijau (Kostrad) sebelum akhirnya memasuki masa pensiun.

Pria kelahiran Padang, 8 April 1949 itu merupakan lulusan Akademi Militer (dahulu Akabri) Magelang, Jawa Tengah pada 1971 dari cabang infanteri.

Sosok pensiunan jenderal berbintang tiga ini memiliki karier yang dapat dikatakan cemerlang. Saat masih berpangkat Brigadir Jenderal, dia menjadi Kepala Staf Divisi Infanteri 2/Kostrad. Kemudian, dia sempat didapuk sebagai Pangdam III/Siliwangi saat berpangkat Mayor Jenderal.

Sebelum memasuki masa purnawirawan pun, Djamari diberi tanggung jawab untuk memimpin Korps Baret Hijau sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Penunjukan sebagai Pangkostrad pada 1998 berada di tengah situasi politik Indonesia yang panas. Pangkostrad kala itu, Prabowo Subianto baru saja dicopot dari jabatannya lantaran terdapat isu gerakan Kostrad dari berbagai daerah yang hendak masuk ke Jakarta.

Saat itu, kabinet hasil reformasi baru akan terbentuk dengan BJ Habibie sebagai presiden menggantikan Soeharto.

Habibie memerintahkan agar prosesi penggantian Prabowo dilakukan sesegera mungkin oleh Panglima TNI (dahulu Panglima ABRI) kala itu, Wiranto.

Walhasil, Wiranto menunjuk Pangdiv I Kostrad Mayjen Johny Lumintang sebagai Pangkostrad baru karena lokasinya berada di Jakarta. Namun jabatan itu hanya diemban selama 17 jam lantaran Wiranto disebut lebih memilih Djamari sebagai Pangkostrad yang kala itu sedang berdinas di Kodam Siliwangi.

Pada akhirnya, Djamari pun menyandang pangkat jenderal berbintang tiga, Letjen, menggantikan Johny. Setelah menjabat sebagai Pangkostrad selama satu tahun, kemudian ia dipercaya sebagai Wakil KASAD dan sebagai Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.

Usai pensiun, Djamari kemudian mengemban tugas sebagai Komisaris Utama PT Semen Padang sejak 2015.

Sumber:CNN Indonesia
Rubrik:NEWS

Komentar

Loading...