Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Direktur RSUDYA Tanggapi Kritikan Pegiat Sosial Media

ISTIMEWADirektur RSUD Yulidin Awai Tapaktuan, dr Erizaldi M.Kes Sp.Og,
A A A

ACEH SELATAN - Direktur RSUD Yulidin Awai dr Erizaldi menanggapi santai terhadap kritikan dari salah seorang pemuda Aceh Selatan yang juga pegiat sosial media. Pemuda yang bernama Refan Kumbara ini meminta Bupati daerah setempat agar mencopot dr Erizaldi dari jabatannya sebagai direktur RSUDYA.

Pihak Rumah Sakit, kata Refan tidak pernah melakukan uji swab terhadap pasien perempuan dari Kecamatan Sawang, Aceh Selatan namun disaat yang bersangkutan meninggal dunia dikebumikan sesuai dengan protokol COVID-19.

Direktur RSUDYA dr Erizaldi kepada acehimage.com menyampaikan semua pasien disana selalu diisolasikan guna menyangkal akan penyakit yang diduga oleh dokter kearah COVID-19.

"Masalah swab yang tidak diambil karena dokter penangung jawab pasien sudah berkoordinasi dengan lab unsyiah dan lab RSUZA. Unsyiah katanya lab tutub karena hari libur dan RSUZA kehabisan reagent,"kata Erizaldi ketika dikonfirmasi acehimage.com, Senin (17/8/2020).

Sementara laporan dokter penanggung jawab pasien memgatakan gambaran klinis, foto rontgen dan lab sangat mengarah ke penyakit tersebut, sehingga protap penanganan pasien meninggal dengan kecurigaan mengarah ke penyakit tersebut dilakukan sesuai protokol kesehatan.

"Hasil rapid reaktif juga,"tambahnya.

Lalu menyangkut permintaan pergantian dirinya sebagai direktur RSUDYA, dr Erizaldi mengaku siap bila sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.

"Ya saya selaku direktur siap kapan saja diganti kalau itu memang prosedur yang dilakukan RS selama saya memimpin dianggapap salah dan tidak sesuai dengan protokol kesehatan. kalau masalah memfitnah itu silakan dilaporkan ke pihak yang berwajib karena dokter membuat kriteria suspek sesuai data dukung yang didapatkan dalam pemeriksaan,"kata direktur menerangkan.

"Tujuan kita selaku petugas kesehatan jelas untuk memutus rantai penyebaran dan penularan penyakit tersebut,"tambanya.

Sebelumnya, Pegiat Sosial Media Atau Selebgram asal Aceh Selatan Refan Kumbara kepada Media ini mengatakan, dia sangat kecewa atas sikap RSUDYA Tapaktuan yang langsung memvonis pasien meninggal karena COVID-19, padahal tes SWABnya tidak dilakukan.

"Ibu R, Wanita Asal Kecamatan Sawang, divonis COVID-19 oleh RSUDYA Tapaktuan, beliau dimakamkan secara protokol kesehatan, sehingga keluarga tidak ikut berperan secara langsung ketika Almarhumah R di Makamkan,"jelas Refan.

"Saya minta Bapak Bupati Aceh Selatan untuk mencopot Direktur RSUDYA Tapaktuan karena memfitnah saudari R terinfeksi Covid-19,"tegasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...