Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin, S.Sos, MSP, menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 30 September 2021 episode 12 Tahun ke II dengan tema: Pantaskah Alhudri Ultimatum Kepala Sekolah? yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Demonstran Hong Kong Kini Miliki Lagu Kebangsaan

AP PhotoDemonstran Hong Kong saat blokir bandara.
A A A

JAKARTA- Demonstran Hong Kong kini memiliki lagu kebangsaan yang mereka nyanyikan saat melakukan aksi protes.

Lagu menentang pemerintah China itu pertama kali muncul di YouTube pada 31 Agustus dan dengan cepat ditonton oleh banyak orang. Tidak diketahui siapa yang menciptakan lagu tersebut

Seperti dikutip dari AFP, dalam waktu kurang dari dua pekan, lagu "Glory to Hong Kong" diputar lebih dari 1,3 juta kali.

Lagu itu juga dibuat parodi dengan menampilkan orang-orang mengenakan helm, kacamata dan masker gas persis seperti yang dikenakan oleh para demonstran.

Ratusan aktivis menyanyikan lagu tersebut saat berunjuk rasa pada Rabu malam lalu, meski banyak dari mereka yang belum hafal lirik sehingga membacanya dari secarik kertas.

"Untuk seluruh air mata di tanah kami / Apakah Anda merasakan kemarahan di tangisan kami," demikian lirik pembukaan lagu.

"Bangkit dan angkat bicara, suara kita bergema / Kebebasan akan menyinari kita".

Tidak hanya saat unjuk rasa, lagu itu juga dinyanyikan saat pertandingan sepakbola antara Hong Kong melawan Iran pada Selasa malam.

Ketika lagu kebangsaan China dikumandangkan, para suporter mencemooh. Mereka malah menyanyikan "Glory to Hong Kong" saat pertandingan dimulai.

Menghina bendera dan lagu kebangsaan China merupakan suatu pelanggaran. Beijing memasukkan aturan tersebut sebagai amandemen konstitusi Hong Kong. Akan tetapi rangkaian demonstrasi membuat aturan itu tak kunjung disahkan.

Rentetan unjuk rasa mendera Hong Kong dalam tiga bulan belakangan ini. Demonstrasi dipicu oleh pembahasan Rancangan Undang-undang Ekstradisi. Dalam rancangan awal, RUU tersebut memungkinkan tersangka satu kasus di Hong Kong bisa diadili di wilayah lain, termasuk China.

Pembahasan tersebut memicu protes dari masyarakat Hong Kong. Untuk mengakhiri protes tersebut, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengumumkan resmi membatalkan pembahasan RUU ekstradisi pada minggu ini.

Namun, upaya tersebut belum memuaskan pengunjuk rasa. Demonstrasi terus berkembang dengan tuntutan akhir, mendesak Carrie Lam mundur. Mereka juga mendesak agar Hong Kong bisa melepaskan diri dari China.

Sumber:CNN Indonesia
Rubrik:DUNIA

Komentar

Loading...