Anggota DPR Aceh HT Ibrahim ST MM meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk menunda melakukan penataan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh untuk sementara waktu. Ini disampaikan Ibrahim setelah mendengar keluhan dari masyarakat yang selama ini bergantung hidup di daerah tersebut. "Apalagi saat ini, sama-sama kita ketahui sedang Pandemi COVID-19 yang membuat ekonomi masyarakat terpuruk," kata Pria yang akrab disapa Ampon Bram, Kamis (22/10/2020).

Demi Kualitas Kopi Gayo, Pertamina Tingkatkan Kapasitas Petani

NETIlustrasi
A A A

BANDA ACEH - Salah satu produksi kopi terbaik dan terkenal di Indonesia adalah kopi Aceh, terutama wilayah tinggi gayo seperti di Kabupaten Merah Meriah.

Lalu produksi kopi Indonesia, menurut data dari International Coffee Organisation pada tahun 2019, Indonesia hanya mampu memproduksi kopi 12 juta per tahun dan menduduki posisi keempat.

Artinya, jumlah produksi kopi di Indonesia masih kalah dibandingkan Vietnam yang mampu memproduksi 28 juta kopi per tahunnya dan bertengger di posisi kedua dunia.

Pada tahun 2020 ini, Indonesia bertekad untuk menggeser posisi negara Vietnam. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Brodjonegoro, mengungkapkan peningkatan produksi kopi menjadi salah satu program ekonomi nasional.

Mendukung cita-cita Pemerintah tersebut, PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) I memberikan pelatihan kopi untuk mitra binaan Pertamina wilayah Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Menurut Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR I. Roby Hervindo, pihak Pertamina tidak hanya memberikan pelatihan, namun para petani ini juga diberikan bibit Unggul kopi yang telah bersertifikat.

“Melihat potensi kopi di Indonesia (Aceh) yang besar untuk dikembangkan, Pertamina MOR I memberikan pelatihan untuk 46 petani kopi yang menjadi mitra binaan Pertamina. Kegiatan pelatihan ini pun akan dilaksanakan selama 22 minggu,” ujar Roby Hervindo, Jumat (18/9/2020).

Roby menambahkan, 46 petani kopi ini sudah menjadi mitra binaan Pertamina sejak tahun 2019. Pinjaman yang diberikan Pertamina MOR I adalah sebanyak Rp 1,92 miliar.

Pelatihan ini terdiri dari tiga tahap. Pertama adalah tahap assessment yang dibagi menjadi analisis tanah & tanaman, analisis kualitas biji kopi, analisis hama tanaman, sosialisasi rekomendasi, serta pengadaan bibit Unggul bersertifikat.

Kemudian tahap pelatihan merupakan tahap pembelajaran bagaimana menanam dan budidaya tanaman kopi yang baik dan benar.

Tahap terakhir adalah tahap penanaman, pendampingan, monitoring, serta finishing. Tahap ini meliputi tahapan untuk penanaman bibit unggul dan pemantauan serta pengawasan kondisi tanaman pasca proses penanaman.

“Pengembangan kapasitas ini sebagai bagian dari upaya Pertamina mengembangkan usaha UMKM, terutama di tengah situasi pandemi," ujarnya.

Harapan Pertamina dengan bantuan ini katanya, dapat mengembangkan petani ini sehingga membantu Indonesia terhindar dari resesi. Untuk pelatihan kopi ini, Pertamina menggelontorkan sebanyak lebih dari Rp 139 juta.

Memberikan bibit unggul bersertifikat

Salah satu petani kopi yang mengikuti pelatihan, Rohmah, mengungkapkan sebelum ada pelatihan ini, petani kopi di wilayah Bener Meriah memiliki kendala tidak mengetahui cara menanam yang benar.

Syukurnya, dengan adanya program ini para petani diajarkan metode menanam yang baik.

“Pemberian bibit unggul dari Pertamina diharapkan dapat meningkatkan kualitas kopi kami, sehingga semakin diminati oleh masyarakat Indonesia,” tutur Rohmah.

Berdasarkan fakta di lapangan tersebut, Pertamina berinisiati untuk meningkatkan kapasitas petani kopi Bener Meriah dengan memberikan bibit unggul bersertifikat jenis arabica dengan varietas gayo 2.

Varietas Gayo 2 sendiri juga merupakan varietas yang telah dilepas oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia sebagai varietas unggul sesuai keputusan mentri Pertanian nomor: 3999/Kpts/SR/120/12/2010.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...