Puluhan papan bunga ucapan Selamat dan Terimakasih kepada Gubernur Aceh berjejer terpasang di depan Pendopo Gubernur Aceh tepatnya di jalan Jalan Japakeh No.1, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh. Pantauan acehimage.com, pada Jumat (5/3/2021). Papan bunga ini terpasang mulai di depan Museum Aceh hingga pagar samping pendopo (pintu masuk Anjong Mon Mata). Memang papan bunga yang terpasang kali ini berbeda dengan yang dipasang di depan Kantor Gubernur Aceh beberapa waktu lalu. Kali lebih kepada program "pencitraan" Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Jumlah Sangat Fantastis

Dana Hibah COVID-19 Dinilai Tidak Menguntungkan Masyarakat Banyak

ISTIMEWAYudi Gayo saat menyampaikan orasi di depan Gedung DPRA
A A A

BENER MERIAH - Kader Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND ) EK_Lhokseumawe, Yudi Gayo menyebut pemerintah Aceh terkesan semena-mena mengeluarkan atau memberikan Dana hibah yang relatif besar kepada 100 badan, lembaga atau organisasi swasta dalam rangka penanganan COVID-19.

Menurutnya, dana hibah dalam rangka penanganan COVID-19 hanya dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu saja, bukan kepentingan masyarakat banyak.

“Seandainya bisa untuk kepentingan masyarakat banyak, kita katakanlah dana hibah itu untuk bantuan rumah dhuafa, bisa berapa banyak masyarakat yang dapat terbantu dengan dana hibah yang tepat sasaran, juga dapat menutupi sebahagian angka kemiskinan di Aceh,” kata Yudi Gayo, Jum’at (15/1/2020).

Apalagi, tambah Yudi, Anggaran dana hibah yang dikucurkan oleh Pemerintah Aceh kepada 100 lembaga tersebut mencapai Rp9,5 Miliar. Jumlah dana yang dikucurkan dinilai sangat fantastis.

"Sama sekali tidak menguntungkan atau tersentuh kepada Masyarakat Aceh, melainkan hanya sebahagian kelompok masyarakat tertentu," cetusnya.

Selanjutnya Yudi meminta pemerintah Aceh untuk segera menganggarkan sebahagian dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk membeli kopi petani dengan konsep pemerintah harus terapkan sistem ekonomi berdikari demi kemajuan daerah dan mengurangi angka kemiskinan di bumi serambi Mekkah ini.

“Maksud ekonomi berdikari, yaitu daerah yang mengolah barang sendiri dan memasarkannya tanpa bergantung dengan pihak yang mencari keuntungan banyak,” ungkapnya

Seharusnya pemerintah Aceh lebih jeli melihat kondisi masyarakat saat ini, seperti yang di alami oleh masyarakat di wilayah Tengah Aceh yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.

Saat ini harga jual buah kopi gelondong (buah baru petik) ditingkat petani hanya berkisar Rp 4000 –Rp 5000 per bambu. Padahal sebelumnya dapat mencapai Rp 9000 – Rp 12.000. Kondisi itu tentunya menyulitkan kehidupan para petani kopi.

“Bukan malah membuang dana cuma-cuma yang tidak ada keuntungan untuk masyarakat banyak dan yang paling kami desak adalah agar pemerintah Aceh segera mengeluarkan sebagian anggaran otsus yang di terima untuk pembelian kopi,” demikian Yudi Gayo.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...