Zikrayanti, MLIS, PhD (Cand) menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 23 September 2021 episode 10 Tahun ke II dengan tema: Terkait Vaksin Siswa, Wali Murid Minta Gubernur Pecat Kadisdik Aceh, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Antara Banda Aceh Dan Langsa Potret Kemakmuran Aceh

IstimewaPeta Aceh
A A A

ADA tugas dari kampus untuk menghadiri workshop pedampingan pembukaan program studi baru dan penulisan artikel bereputuasi yang diadakan oleh L2Dikti wilayah 13 di kota Langsa tepatnya diadakan di Hotel Harmoni pada tanggal 5–7 Agustus 2021. Sejak keberangkatan sengaja merekam sekilas lewat mata memandang tentang fenomena-fenomena yang bisa dilihat bagamana kiranya tampilan fisik atau dibalik fisik kehidupan ekonomi masyarakat disepanjang jalan Negara dari Banda Aceh hingga Kota Langsa. Begitu kami berangkat yang berwal dari kampus Universitas Serambi Mekkah dikawasan Gampong Batoh Kota Banda Aceh terlihat ada kegiatan pembangunan jalan Tol yang sedang dikerjakan dan memang tercermin kehidupan dipinggir jalan raya dikawasan Aceh Besar sedikit menurun karena dampak dari wabah COVID-19, namun rumah-rumah yang permanen bergaya minimalis juga terlihat berdiri tegak yang hampir ada walaupun letaknya jarang-jarang dan sudah banyak sawah yang sudah ditimbun dialihkan kepada pembangunan fisik, baik rumah maupun pertokoan. Hingga kami memasuki kawasan perbukitan seulawah atau tepatnya di Saree yang semakin padat disamping kiri dan kanan jalan tempat berbisnis masyarakat terutama menjajakan olahan makanan dari umbi-umbian yang telah digoreng hingga buah-buah segar yang sebagian besar diproduksi sendiri dikawasan tersebut.

Kemudian, kami memasuki kawasan tingkat dua Pidie juga terlihat ada beberapa aktivitas pembangunan perbaikan jalan dan terlihat juga sudah banyak kawasan sama yang sudah teralihkan kepada pembangunan fisik berupa pertokoan (ruko) yang rata-rata bertingkat dan ada rumah gedongan yang berdiri disepanjang jalan, terlihat kesibukan aktivitas ekonomi masyarakat masih semarak walaupun ada penurunan karena dimana-mana terpangpang spanduk patuhi protokol kesehatan disepanjang jalan Negara dikawasan Kabupaten Pidie, tetapi terlihat banyak masyarakat tidak bermasker, dan apakah memang tidak ada yang namanya keterpaparan COVID-19 disana, kemungkinan COVID-19 tidak begitu dihiraukan demi menacari rejeki buat menopang kehidupan mereka, dan kita doakan tidak ada COVID-19 disana.

Selanjutanya, kami memasuki kawasan pecahan Kabupaten Pidie, yaitu Kabupaten Pidie Jaya hampir tidak berbeda dengan dua Kabupaten yang ada (Pidie dan Aceh Besar). Tetapi sangat ketara terlihat signifikan perubahan area sawah kepada pembangunan fisik terutama dikawasan Simpang Tiga Meureudu tempat berdirinya pusat Pemerintahan Pidie Jaya dan nampak megahnya Kantor Bupati serta turunannya, maka terkesan geliat ekonomi masyarakat ada peningkatan (entahlah itu benar atau tidak). Alasan kenapa bisa kita terkesan ekonomi masyarakat meningkatan ekonomi masyarakat dikawasan Pijay karena terlihat banyak pertokoan yang mentereng sepanjang jalan dan ini membuktikan itu salah satu alasan ada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Kemudian, kami masuk kawasan kabupaten Bireuen juga terlihat disepanjang berdiri tegak ada beberapa rumah gedongan yang minimalis dan pertokoan yang tidak jauh beda dengan kabupaten-kabupaten sebelumnya.

Memasuki di kabupaten Aceh Utara juga terlihat hat yang sama sudah banyak kawasan produktif yang teralihkan kepada pembangunan fisik dan itu lagi-lagi bisa disimpulakan secara kasat mata ada peningkatan dari aktivitas ekonomi masyarakat hingga bisa membangun perkotokan (ruko) dan banyak rumah yang termasuk mewah berdiri disepanjang jalan Negara. Selanjutnya, kami memasuki kawasan Aceh Timur lagi-lagi terlihat hal yang sama dan hampir tidak putus-putus sambung menyambung pertokoan dengan tampilan bermacam gaya dan ini juga membuktikan bahwa adan kesemarakan kegiatan ekonomi dari masyarakat itu sendiri. Kemudian, kami mememasuki kota Langsa juga lagi-lagi kami melihat kesemarakan ekonomi masyarakat dan tetap banyak terlihat spanduk untuk mematuhi protokol kesehatan demi rakyat terlndungi, inya Allah semua rakyat Aceh terlidungi dari wabah yang sedang menimpa.

Berdasarkan sepanjang mata memandang dari kota Banda Aceh hingga kota Langsa sepertinya kemakmuran Aceh sudah tercemin tidak tergolongkan miskin, karena boleh kita katakana pertokan (ruko) bisa dijumpai disepanjang jalan dan berdiri banyak rumah yang bisa kita golongkan sebagai rumah mewah disepanjang jalan, dan ini lagi-lagi kita bisa simpulkan rakyat Aceh sudah berekonomi baik tidak tergolong miskin. Pertanyaannya, bagaimana kehidupan masyarakat yang tinggal jauh dri jalan raya?, Mungkin kehidupan terlihat baik tampilannya hanya disepanjang jalan raya (jalan negara) saja tetapi bila kita masuk jauh kedalam (gampong-gampong) apakah masih terlihat seperti yang dipinggir jalan Negara, dan bisa jadi dikatakan Aceh masik terkategorikan miskin barangkali tampilan baik hanya ada disepanjang jalan raya dan perkantoran pemangku kepentingan yang mentereng tetapi kehidupan masyarakat di gampong-gampong masih jauh dari harapan kemakmuran itu sendiri. Semoga kedepan azas pemerataan pembangunan dan pendistribusian pendapatan bisa merata hingga kepelosok gampong-gampong yang ada di provinsi Aceh, Insya Allah.

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...