Zikrayanti, MLIS, PhD (Cand) menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 23 September 2021 episode 10 Tahun ke II dengan tema: Terkait Vaksin Siswa, Wali Murid Minta Gubernur Pecat Kadisdik Aceh, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Demo di Aceh Barat Ricuh

Anggota DPRK Berdarah dan Dua Terduga Provokator Diamankan

SITI AISYAHAksi unjuk rasa di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat (26/9).
A A A

ACEH BARAT - Waktu menunjukkan pukul 09.30 Wib, terlihat pemandangan yang yang berbeda di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat dari arus lalu lintas dialihkan, Hingga polisi yang berjaga di jalan dan di halaman kantor dinas para anggota legislatif.

Daerah yang dikenal dengan sebutan Tugu Pelor Meulaboh itu pelan- pelan mulai terlihat kehadiran mahasiswa yang akan berunjuk rasa. Dari balik pagar polisi berseragam lengkap dan bersiap untuk segala situasi yang darurat, serta satu unit water canon sudah siaga untuk ditembakan ke arah massa.

Adapun ribuan mahasiswa yang datang berunjuk rasa yakni dari perguruan tinggi meliputi Universitas Teuku Umar (UTU), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN), Akademi Komunitas Negeri (AKN), Akademi Keperwatan (Akper), Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Meulaboh dan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Bina Bangsa Meulaboh (STKIP BBM).

Koordinator aksi, Candra.

Para siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang masih berseragam lengkap tampak begitu bersemangat berbaur bersama mahasiwa dalam aksi demontrasi yang digelar oleh ribuan kaum terpelajar di Kabupaten Aceh Barat itu.

“Kami ikut aksi atas keinginan kami sendiri bukan di suruh, pertama memang karena baca berita anak STM di Jakarta ikut demo, yang kedua memang kami tidak sepakat juga dengan revisi beberapa undang undang saat ini, itu memang tidak berpihak dengan rakyat,” ujar Seorang Siswa, Reza Juliansyah.

Menurutnya ada juga beberapa pasal yang di nilai tidak begitu baik, apalagi sampai mendendakan seorang yang hidup terlantar. Adapun siswa yang berunjuk rasa berasal dari SMK N 2 Meulaboh, SMK N 1 Meulaboh dan SMA N 1 Arongan Lambalek.

Selama dua jam lebih secara bergantian para pendemo berorasi, dan juga menggelar teterikal menceritakan tentang kekejaman aparat yang bertindak kasar serta arogan kepada masyarakat ketika hendak menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi, bahkan sosok yang memerankan Presiden dan teater itu terlihat abai dan malah menginjak kembali rakyatnya.

Tiba-tiba mahasiswa sepakat untuk masuk menerobos pagar kantor DPRK dan tameng polisi untuk menemui wakil rakyat. Suasana semakin menegang, setelah beberapa orang mahasiswa menggoyang dan membuka paksa pagar karena dihadang aparat. Seketika itu, tanpa aba-aba terdengar ledakan gas air mata ke arah pendemo, pecahlah konsentrasi mereka.

Dalam sekejap, terlihat massa yang berunjukrasa berlarian mencari tempat aman, sebagian ada yang masuk ke warung-warung, rumah warga hingga pertokoan demi menghindari serangan gas air mata tersebut. Tak sedikit pula di antara mereka membalas balik polisi dengan lemparan batu, botol air mineral dan benda-benda lainnya, begitupula dengan para siswa yang hadir disana  bersikap layaknya demonstrasi di Jakarta yang saat ini viral.

Disisi gerbang kiri kantor DPRK, water Cannon sudah mulai beraksi untuk memukul mundur massa. Tak gentar seorang mahasiswa memanjati mobil itu untuk mematikan saluran air yang ditembakan kepada rekannya. Al hasil bom air yang dikeluarkanpun berhenti dan mobil memilih mundur meninggalkan kerumunan massa.

Akibat dari chaos yang tidak begitu lama, banyak mahasiswa mengalami sesak dan dilarikan ke rumah sakit, mayoritasnya ialah perempuan, ada sekitar 25 orang yang kini harus mendapat perawatan medis secara intesif.

Anggota DPRK yang terkena lemparan batu

Ada pula anggota DPRK setempat yang terkena lemparan batu dari massa hingga mengalami pendarahan dan luka sobek dibagian kepala sebelah kanan. Bukan mereka saja, para masyarakat yang mengamati dari kejauhan matanya memerah karena gas tersebut.

Rupa-rupanya pemicu ricuh diduga disebabkan oleh pihak luar yang tidak bertanggungjawab lalu menerobos masuk ke kerumunan masa dan memprovokasi agar bertindak anarkis.

“Ricuh yang terjadi disaat aksi, ada beberapa oknum yang memancing keributan di kelompok mahasiswa, oknum itu,” ungkap Koordinator aksi, Candra.

DPRK Temui Pendemo

Paska Ricuh, beberapa pot bunga yang diletakkan di depan gedung DPRK juga tampak berantakan dan rusak, sampah berserakan, serta kaca mobil rio milik polisi juga ikut pecah karena terkena lemparan batu.

Suasana hening sejenak, bundaran simpang Tugu Pelor Meulaboh tampak lenggang. Berselang waktu mobil komando massa memberi intruksi kembali. “Jangan takut, jangan gentar mahasiwa kumpul,” kalimat tersebut terdengar lantang dan jelas sembari diteriakkan berulang-ulang.

Padahal kedatangan mereka hanya menuntut agar pihak DPRK untuk membuat penentuan dan menyatakan sikap untuk sepakat dengan apa yang diprotes yakni menghapus RKUHP yang dinilai tidak masuk akal, membatalkan RUU KPK yang terkesan memuluskan jalan korupsi di Indonesia, RUU ketenagakerjaan yang menindas buruh lalu RUU pertanahan yang rentan terhadap perampasan tanah rakyat, mereka juga meminta pemerintah untuk mengusut dan menjamin tak ada lagi pelanggaran HAM di Papua.

Akhirnya anggota dewan yang sedang berada dalam gedungpun turun menemui para pendemo, para anggota legislatif itu dibariskan oleh mahasiswa di depan kantor DPRK dibawah terik matahari tanpa payung atau pelindung. Sempat, ketua DPRK Samsi Barmi hendak memberikan tanggapan namun ditolak mentah-mentah.

“Anggota Dewan baris ke sana (halaman DPRK) yang bukan anggota dewan dilarang berbaur dengan mereka,” teriak orator aksi, Deni. DPRK tampak patuh dan langsung menuruti kemauan mahasiwa.

Ada sekitar satu jam lebih anggota legislatif dibariskan oleh mahasiswa, Kapolres Aceh Barat AKBP Bobby Aria Prakasa dan Dandim 0105 Aceh Barat, Letkol Kav Nurul DIyanto yang hadir disana mencoba meredam emosi mereka. Ketika Adzan dzuhur berkumandang maka suasana kembali hening dan anggota dewan serta pendemo memasuki perkarangan kantor untuk beribadah dan beristirahat sejenak.

Kemudian aksi dilanjutkan kembali, massa sebenarnya hanya meminta 80 persen wakil rakyat hadir disana untuk mendatangani petisi yang disiapkan mereka, berupa pernyataan sikap menolak adanya sejumlah Revisi terhadap beberapa UU. Akan tetapi hanya sebagian saja legislative yang ada disana, sementara sebanyak 10 orang lainnya sedang bertugas di Banda Aceh.

“Kalau mereka inginkan 80 persen itu tidak ada untuk sekarang, karena ada anggota kita yang masih kegiatan di Banda Aceh,” kata Ketua DPRK Aceh Barat, Samsi Barmi.

Akhirnya, para kaum intelektual itu memilih bertahan dan menduduki gedung DPRK. Hingga menjelang malam, massa aksi sudah masuk dan bersantai di ruang rapat paripurna.

Polisi Amankan Terduga Provokator

Disisi lain, Kepolisian Resort (Polres) Aceh Barat mengamankan dua pemuda yang diduga sebagai pelaku pelemparan batu terhadap petugas kepolisian yang mengamankan aksi unjukrasa. Belum diketahui siapa mereka, sebab saat ini masih dalam proses pemeriksaan pihak penyidik.

Kedua pemuda itu diduga kuat menjadi aktor provokasi sehingga menyebabkan aksi damai yang digelar mahasiswa menjadi chaos hingga mengalami bentrokan dengan petugas. Bahkan mereka sendiri diyakini bukan bagian dari peserta aksi.

"Saat ini sedang diperiksa,” kata Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...