Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin, S.Sos, MSP, menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 30 September 2021 episode 12 Tahun ke II dengan tema: Pantaskah Alhudri Ultimatum Kepala Sekolah? yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Ngui Beulaku Tuboh Pajoh Beulaku Atra

Analisis Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat Lebih Penting dan Utama dalam Sebuah Ide Pembangunan

IstimewaIlustarsi
A A A

Alasan diperlukan analisis dampak sosial ekonomi masyarakat penting menjadi yang utama dalam mengimplementasikan ide membangun adalah disebabkan oleh tujuan pembangunan itu sendiri menuju masyarakat yang makmur

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

SUDAH menjadi keharusan dalam mengimplemenatsikan sebuah ide untuk melakukan pembanguna ada kewajiban untuk dilakukan analisis dampak lingkungan (amdal) walaupun sesungguhnya itu dalam banyak kasus bisa dinegosiasikan. Tetapi memang surat keterangan dari Amdal itu sendiri merupakan syarat mutlak yang harus ada dan itu patut didukung. Manfaat dari Amdal itu sendiri bisa jadi untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan terhindar dari kerusakan yang fatal terhadap permukaan bumi dan lain sebagainya beigitu kira-kira pemahaman saya yang awam dan secara spesifik manfaat Amdal itu sendiri biasa dijawab dari yang ahli bidang Amdal itu sendiri. Namun, dalam tulisan pendek ini penulis mencoba menawarkan tambahan solusi terutama menyangkut penyediaan public good dan bisnis privat itu sendri harus ditambah analisis dampak sosial ekonomi masyarakat dalam merencanakan dan mengaplikasi ide-ide mambangun, baik pemangku kepentingan publik dan pelaku bisnis privat.

Alasan diperlukan analisis dampak sosial ekonomi masyarakat penting menjadi yang utama dalam mengimplementasikan ide membangun adalah disebabkan oleh tujuan pembangunan itu sendiri menuju masyarakat yang makmur. Oleh sebab itu, kunci dari implementasi pembangunan sangat ditentukan pada perencanaan awal yang mengakaji bagaimana kiranya dampak terhadap kehidupan masyarakat yang berdampak langsung atau tidak langsung untuk jangka waktu pendek atau jangka waktu panjang. Karena bial diamabaikan pada analisis dampak sosial ekonomi masyarakat, maka bisa jadi secara analisis amdalnya sudah terpenuhi namun dampak untuk spillover ekonomi masyarakat malah tidak ada dan jika begitu adanya sungguh tidak terjawab arti dari pembangunan itu sendiri. Tetapi bila itu tujuannya hanya sebagai mercusuar untuk tujuan sekedar realisasi dan mendapatkan benefit pribadi saja, maka sah-sah saja untuk menampakan tampilan fisik yang mentereng padahal sesungguhnya tidak menjadi mobil penggerak kegiatan ekonomi masyarakat menuju kemakmuran.

Bila kita mengamati sejauh mata memandang yang terjadi di Aceh sepertinya kita bertanya-tanya kenapa Amdal bisa keluar pada pembangunan yang menimbun sawah untuk dibangun pembanguan fisik, menimbun rawa-rawa secara total untuk dialihkan untuk membangun yang lain, dan bagaimana bisa perantaran sungai bisa dibangun gedung serta lain sebagainya, dan itu pasti lewat kajian Amdal barangkali sudah memenuhi syarat (tergantung mereka yang mengeluarkanlah karena mereka ahlinya). Tetapi jika kita hubungkan dengan ekonomi masyarakat yang nota bene masyarakat kita termasuk masyarakat agraris, maka menimbun sawah sesuatu yang harus dihindarkan dan jika pun harus ditimbun karena kebutuhan mendesak maka harus ada lahan pengganti guna menjamin sas tabelnya kehidupan ekonomi masyarakat itu sendiri. Begitu juga ketika pemangku kepentingan memiliki ide untuk mewujudkan model kota metropolitan dengan memodernisasi pembangunan kota tidak boleh kemudian melupakan analisis dampak sosial ekonomi masyarakat. Sehingga, tidak akan terjadi kontra produktif yang tadinya tujuan memodernisasikan kota agar masyarakat makmur malah menjadi sebaliknya, seperti mendiskualifikasi pasar yang sudah berjalan baik dan terdampak positif pada ekonomi masyarakat, membangun sesuatu yang belum tentu dibutuhkan alias mubazir dan lain sebagainya.

Bagaimana bisa suatu pembangunan mubazir? karena suatu pembangunan itu bermakna harus juga ditinjau pada sosial budayanya dan tingkat populasi penduduk itu sendiri serta karakteristik dari aliran ekonomi masyarakat. Sebagai contoh, di Aceh belum sesuai dibangun mall yang super  atau mewah seperti yang ada di kota lain karena karakteristik aliran ekonomi masyarakat sebagaian besar belum terkatagorikan bisa berbelanja pada tingkatan tersebut, sehingga bila dipaksakan dibangun juga maka kemudian tak bertahan lama dan akhirnya closed, dan membangun hotel berbintang lima yang mewah juga akan tidak berguna didaerah yang ekonomi masyarakatnya masih terkatagori belum kaya dan lain sebagainya. Maknanya adalah kehidupan ini persis seperti idiom yang ditinggalkan oleh endatu ureng atjeh “ngui beulaku tuboh pajoh beulaku atra” dan itu sebenarnya hakikta hidup modern, yaitu hidup seimbang dan tak terbebani, dan maju itu bukan menyamakan dengan yang lain tetapi hidup secara wajar menurut tempat, kondisi dan budaya. Tulisan ini hanya sekedar menyemarakan untuk membuka wawasan bukan untuk mendzolimi siapapun, semoga kita Aceh banga sebagai kaum teulebeh penjaga kalimat taibah. Semoga lekas dicabut bala pandemi COVID di Negeri tercinta ini. Atjeh loen sayang.

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Pemerhati Sosial Ekonomi Masyarakat, Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...