Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Aceh Selatan bertambah empat kasus baru. Dengan bertambahnya empat orang baru, kini jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Aceh Selatan menjadi 21 orang. Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan, Novi Rosmita menyatakan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu berinisial DM (56) AI (30) AZ (34) dan MR (26).

Kurang Perhatian Pemerintah:

Anak Muda Aceh Enggan Menjadi Petani

HT ANWAR IBRAHIMPengamat ekonomi dan pembangunan dari Unsyiah, Dr.Mukhlis Yunus,SE.,MS
A A A

BANDA ACEH - Pertanian merupakan sektor paling tinggi meraih kontribusi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) hingga mencapai 30 persen.

Bahkan sektor ini juga merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Aceh. Namun sayangnya Pemerintah Aceh sepertinya masih kurang serius memberi perhatian pada sektor ini.

Karena lama tak mendapat perhatian dari pemerintah telah membuat generasi muda Aceh menjadi enggan menggeluti sektor tersebut.

"Generasi muda Aceh, apalagi kaum melenial banyak yang tak mau kerja pada sektor ini. Anak muda sekarang tak mau jadi petani," kata Dr Mukhlis Yunus SE MS, pengamat ekonomi dan pembangunan dari Unsyiah, Senin (6/7/2020).

"Yang kita lihat saat ini pemuda Aceh justeru berlomba- lomba ingin menjadi kontraktor atau PNS. Karena sektor ini mareka anggap mudah mendapatkan uang dan lebih bergengsi," katanya lagi.

Bila kondisi terus seperti saat ini kata Mukhlis Yunus, maka dikhawatirkan 10 atau 15 tahun kedepan Aceh akan kekurangan petani, selain lahannya juga terus menyusut atau berkurang dampak dari pembangunan.

"Kita lihat banyak gedung atau rumah baru sekarang dibangun dilahan sawah produktif, terutama tanah sawah yang dekat dengan jalan besar," ungkapnya.

"Namun pemerintah Aceh semacam kurang perhatian dengan kondisi petani seperti itu," katanya.

Padahal lanjut Mukhlis, Plt Gubernur Aceh Ir H Nova Iriansyah pernah menyebutkan bahwa sektor pertanian adalah sektor usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Sektor ini juga paling berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh.

"Kalau tidak salah Plt Gubernur Aceh mengatakan hal itu pada pembukaan Aceh Agro Expo 2019, di Lapangan Blang Padang, pada 15 November 2019," ungkapnya.

Bahkan dikatakan, setiap tahun kontribusi PDRB Aceh dari sektor pertanian ini mencapai 30 persen, jauh melebihi sektor-sektor lainnya.

Kontribusi sektor ini diakui pemerintah hebat dibandingkan sektor lain, tapi heran tenaga tani terus berkurang, produksi tak menanjak dan lahannya juga terus berkurang.

"Nah, yang menjadi pertanyaan kita, apakah pemerintah tidak punya gagasan atau solusi untuk mengantisipasi keadaan, sebelum Aceh tidak bisa lagi memproduksi padi/beras kedepan," katanya.

Kalau sektor pertanian tidak dibuat sebagai pekerjaan yang menarik oleh pemerintah, otomatis generasi muda tidak akan mau menggeluti sektor tersebut.

"Karena pekerjaan tani dinilai tak menarik, maka mareka lebih memilih nongkrong diwarung kopi ketimbang jadi petani," ujanya.

Anak muda memiliki etos kerja dan adaptif terhadap teknologi

Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh, A Hanan, SP.,MM

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A Hanan yang di konfirmasi acehimage.com Senin (6/7/2020) sore mengatakan, teknologi pertanian dewasa ini kian berkembang.

Karena itu, Pemerintah Aceh akan sangat bangga jika anak muda milenial Aceh mau terjun dan aktif di sektor pertanian.

"Kita percaya, anak muda memiliki etos kerja yang tinggi dan adaptif terhadap teknologi termasuk sektor pertanian,” kata Hanan.

Hanan menjelaskan, Pemerintah Aceh sudah mengirim 20 orang petani milenial untuk mendalami ilmu pertanian di Songkhla, Thailand.

“Anak-anak muda yang di didik di Thailand itu sudah pulang ke daerah masing-masing. Dan, delapan orang dari 20 yang kita didik sudah berhasil menjadi petani jagung di kampungnya Aceh Selatan, bahkan dia sudah menjadi motor penggerak anak muda disana untuk terjun di bidang pertanian," ungkap Hanan.

Kata Hanan, untuk mendorong semangat bertani, sekaligus memperkenalkan potensi pertanian Aceh bagi masyarakat luas, Pemerintah Aceh rutin menggelar Pasar Tani, setiap dua mingguan setiap bulan, di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Dia mengaku optimis, dengan adanya terminal hasil tani akan memudahkanpengumpul dan harganya bisa stabil sehingga petani tidak dirugikan.

"Kedepan kita upayakan ada terminal untuk transit didaerah potensial sehingga semua komoditi agar pengumpul dapat membeli langsung dari petani untuk di jual kembali untuk penyalur," ujarnya.

Dengan begitu kata Hanan, masyarakat juga bisa mendapatkan komoditi pangan dengan harga yang stabil sekaligus juga tidak merugikan para petani karena harganya tidak bisa dipermainkan oleh para tengkulak," kata Hanan.

Selain itu kegiatan tersebut diharapkan dapat memberi ruang interaksi bagi petani dan konsumen untuk berbagi pengalaman terkait kiat bercocok tanam.

Kegiatan ini menampilkan aneka komoditi pertanian Aceh. Tidak hanya komoditi andalan Aceh, tapi juga memaparkan data pertanian, peternakan, dan perikanan Aceh.

Semoga semangat memperkuat potensi pertanian Aceh dapat terus ditingkatkan sehingga dapat berkontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Aceh,” imbuhnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...