Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

15 Tahun Perdamaian

Aceh Perlu Dibangun dengan Rasa Humanisme dan Solidaritas Tinggi

IKHSANAnggota DPR Aceh Sulaiman SE
A A A

BANDA ACEH - Momentum perdamaian Aceh pada MoU (Memorandum of Understanding) di Helsinki, merupakan bentuk perjalanan panjang dan melelahkan. Proses yang sangat panjang sehingga menjadikan masyarakat Aceh yang bermartabat.

Sebab itu, Anggota DPR Aceh Sulaiman SE menyebut, menjaga dan merawat perdamaian di Aceh sangat penting. Untuk itu ia mengajak masyarakat, khususnya Pemerintah Aceh untuk bersinergi dan bahu membahu menjaga perdamaian ini.

Menurutnya, perdamaian menjadi inklusi untuk Aceh yang hebat dan sejahtera. Sehingga harus dijaga bersama. Namun tentu dalam perjalanannya tidak selalu jalan lurus, terkadang juga mengalami jalan berliku dan kerikil tajam yang harus dilewati.

Ia bersyukur Aceh telah damai setelah mengalami konflik berkepanjangan.

"Alhamdulillah 15 tahun yang lalu Aceh telah berdamai dengan kesepakatan MoU Helsinki, setelah sebelumnya mengalami konflik senjata 30 tahun lamanya," sebut Sulaiman, Jum'at (14/8/2020).

Menurutnya, perdamaian Aceh terjadi atas dukungan berbagai pihak. Diantaranya, masyarakat Aceh, Pemerintah Republik Indonesia, dan pihak dunia internasional untuk membangun Aceh.

15 tahun perdamaian Aceh ini, Sulaiman mengatakan, Pemerintah Aceh harus terus menurunkan angka kemiskinan dan peduli pada pelestarian lingkungan. Selain itu, masyarakat Aceh harus bersikap kritis dan serius dalam pembangunan gampong.

"Kita harus terus merealisasikan butir-butir perjanjian Helsinki dan seluruhannya. Yaitu dengan menetapkan APBA tepat sasaran, memperkuat strategi sosial dan lainnya. Untuk itu, para ulama dan mahasiswa, kaum perempuan, TNI atau Polri dan sebagainya merupakan orang yang tepat untuk pembangunan Aceh dan membangun daerahnya sendiri," jelasnya.

Seperti diketahui, hari perdamaian untuk Aceh ini lahir setelah adanya perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005.

Maka untuk itu, masyarakat Aceh agar tetap merawat perdamaian ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai, katanya, peristiwa di masa lalu kembali terulang.

Mantan Ketua DPRK Aceh Besar ini juga menyebut, agar Aceh terus bangkit, maka harus dengan mengutamakan pembangunan dan menciptakan kemakmuran ekonomi masyarakatnya.

"Masyarakat Aceh butuh banyak pembangunan, butuh kemakmuran ekonomi. Kita memiliki spirit perjuangan dan spirit untuk kemajuan ekonomi, Insya Allah ini akan kita perjuangkan dan kita kawal bersama," katanya.

Sulaiman juga menambahkan, berbicara eksistensi Aceh, memiliki potensi untuk dibawa pada arus kebanggaan bersama. Terutama kebanggaan ekonomi. Caranya adalah, menyelesaikan sumbatan-sumbatan komunikasi politik antara elit Aceh dan Aceh dengan Jakarta.

Sumbatan ini harus diselesaikan dengan basis kejujuran dan keikhlasan dari anasir-anasir jahat. Peluang memajukan Aceh selalu terbuka, jika semua unsur solid.

"Fokus penting dari perubahan Aceh adalah ekonominya harus bangkit, rakyatnya harus sejahtera. Mewujudkan itu semua, Aceh perlu dibangun dengan rasa humanisme dan solidaritas tinggi," pungkasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...