Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata, ada lebih dari 300 rumah yang mengalami kerusakan dengan berbagai tingkatan, akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang Malang dan sekitar Jawa Timur pada siang tadi. Data itu terakhir diterima BNPB pada pukul 20.00 WIB. "Data BNPB hari ini, pukul 20.00 WIB, lebih dari 300 rumah rusak dengan tingkatan berbeda, dari ringan hingga berat," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati melalui keterangan resminya, Sabtu (10/4/2021). "Catatan sementara, 13 unit rumah rusak namun belum ditentukan kategori tingkat kerusakan. Sedangkan sejumlah kerusakan fasilitas umum, antara lain sarana Pendidikan 11 unit, kantor pemerintah 7, sarana ibadah 6, RSUD 1 dan pondok pesantren 1," ungkapnya.

Ketua ISMI Aceh:

Aceh Belum Merdeka dari Sisi Ekonomi

peHTemNurchalis, SP, M.Si Ketua ISMI Aceh
A A A

Solusinya kita harus melahirkan pemimpin yang inklusif, yang harus satu sama lain. Tentunya ini adalah elemen, elit Aceh harus bersatu hari ini berkomitmen terhadap Aceh

Nurchalis, SP, M.Si Ketua ISMI Aceh

BANDA ACEH - Pertumbuhan Aceh hari ini belum tumbuh secara signifikan lantaran beberapa faktor permasalahan di daerah. Corona Virus Disease (Covid-19) tidak dapat menjadi alasan berkurangnya pertumbuhan ekonomi daerah, terlebih Aceh memiliki kekuatan sumber daya alam B2G.

"Black, blue and green. Kita punya (black) mineral itu batubara, emas dan sebagainya, kemudian ada laut (blue) artinya pantai yang cukup panjang dan laut yang begitu luas, ada Selat Malaka, Samudera Hindia, ini adalah kekuatan yang sangat luar biasa. Kemudian kita ada green, itu hutan dan kebun. Leuser yang begitu luas, yang dulu kita bilang bisa kita jual oksigen, tetapi sekarang kita tidak tahu nasibnya seperti apa. Kita berharap ini program bagus, karena ini paru-paru dunia," ungkap Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Provinsi Aceh, Nurcholis, dalam program peHTem, yang tayang pada Senin, 5 April 2021.

Selain itu, kata Nurcholis, Aceh juga memiliki areal perkebunan yang luasnya hampir 466 ribu hektar, ditambah 26 pabrik kelapa sawit yang menguasai kawasan pantai barat selatan bahkan hingga timur dan utara Aceh. Namun potensi-potensi yang ada tersebut menurut Nurcholis, belum mampu menyejahterahkan rakyat Aceh secara menyeluruh.

Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Salah satunya karena Aceh belum merdeka terhadap ekonomi sendiri. Undang-undang yang diberikan khusus untuk Aceh pun tidak mampu dimanfaatkan dengan baik untuk menyejahterakan rakyat Aceh.

"Artinya kita belum merdeka dari sisi ekonomi, masih sangat bergantung kita dengan daerah lain," ujar Nurcholis.

Hingga hari ini, Nurcholis menyebut belum ada investasi yang real dibangun di Aceh. Investasi-investasi yang ada justru merupakan warisan konflik Aceh, seperti Arun dan sebagainya. Sementara pabrik-pabrik lain, bahkan hanya untuk satu pabrik minyak makan untuk 26 Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) saja belum mampu dihadirkan di daerah ini.

Penyebab ini terjadi lantaran adanya keraguan dari para investor terhadap Aceh. Menurut Nurcholis, Aceh juga belum mampu memberikan sesuatu terhadap investor yang membuat mereka bertahan untuk membangun daerah.

Selama ini, menruut Nurcholis, ekonomi Aceh hanya bertumpu pada dana Otonomi Khusus (Otsus) yang diberikan Pusat. Padahal tersebut merupakan dana stimulus yang dikucurkan untuk mengobati ketertinggalan Aceh dengan daerah lain karena konflik selama 30 tahun.

Sudah seharusnya Aceh tidak boleh bergantung selamanya dengan dana tersebut. Aceh menurut Nurcholis, perlu membangun pondasi yang tepat agar ekonomi daerah tidak lagi terpuruk ketika kucuran anggaran tersebut dihentikan.

"Artinya lubang menganga. Nih, kamu Aceh ni, kamu tutup lubang ni. Tentu yang kita targetkan adalah pondasi ekonomi yang utuh dengan kekuatan sumber daya alam yang kita miliki," kata Nurcholis.

Nurcholis optimis konsep industri hirilisasi yang tengah diajukan pihaknya ke Pusat tidak akan ditolak. Dia beralasan konsep tersebut dapat tembus lantaran untuk kepentingan peningkatan stimulus ekonomi daerah, yang juga akan berdampak kepada nasional.

"Karena ini kan siklusnya kan berputar, nasional dan daerah. Pertanyaan sejauh mana kita hari ini?"

Untuk mewujudkan hal tersebut Nurcholis berharap pemimpin di Aceh tidak merasa ekslusif, tetapi harus insklusif. Namun yang terjadi sekarang ini berbalik. Pemimpin di Aceh dinilai terlalu ekslusif. "Kita selalu per golongan, begitu pemimpinnya (dari) golongannya, golongan yang lain terbuang. Kita mau berkontribusi tidak bisa," ungkap Nurcholis lagi.

Kondisi tersebut menurut Nurcholis, membuat daerah susah untuk maju lantaran golongan yang terbuang juga menyerang kelompok penguasa. Alhasil orang-orang di Aceh ribut antarsesama dan tidak mampu mandiri secara ekonomi.

"Solusinya kita harus melahirkan pemimpin yang inklusif, yang harus satu sama lain. Tentunya ini adalah elemen, elit Aceh harus bersatu hari ini berkomitmen terhadap Aceh," kata Nurcholis.

Nurcholis khawatir dengan berakhirnya dana otonomi khusus akan membuat Aceh kembali terpuruk. Terlebih dana Alokasi Umum (DAU) Aceh saat ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Jika hanya bersandar dari dana tersebut, maka Aceh tidak mampu merawat infrastruktur yang sudah ada dan menyediakan gaji pokok untuk aparatur pemerintahan di masa mendatang.

Demi penguatan pondasi ekonomi tersebut, Nurcholis meminta pemerintah untuk menghentikan proyek-proyek besar yang dinilai belum bermanfaat. Dia justru menganjurkan pemerintah di Aceh untuk membangun satu pelabuhan repsentatif atau refenery, yang nantinya dapat dipergunakan oleh pengusaha besar nasional penguasa medan ritel bisnis di daerah tersebut. Dengan adanya hal tersebut menurut Nurcholis, Aceh akan mendapat pemasukan di kemudian hari.

Nurcholis juga menyayangkan selama ini pemerintah justru larut dengan proyek-proyek skala besar yang membutuhkan biaya perawatan di masa mendatang. Jika dana otonomi khusus tidak ada, maka hal tersebut sangat berpotensi membuat Aceh bangkrut.

Artinya, menurut Nurcholis, Aceh terpaksa kembali mengeluarkan duit perawatan terhadap proyek yang sudah ada sementara input ekonomi tidak ada. "Dengan adanya pendapatan, kita dapat merawat apa yang sudah ada. Pondasi yang harus dipertajam," kata Nurcholis.[]

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...