Yogyakarta Butuh Obyek Wisata Baru

FOTO | ISTIMEWALiburan ke Pantai
A A A

Mau tidak mau pasarnya ada di Yogyakarta, ketika menuju ke Gunung Kidul, wisatawan masih butuh waktu lama. Itu yang jadi masalah perlu diperhatikan. Agar akses mudah ke sana, jangan sampai habis waktu di jalan. Kalau bisa satu hari semua bisa selesai di Gunung Kidul dengan menikmati gunung, air, dan pantai,

Udhi Sudiyanto Ketua ASITA

YOGYAKARTA – Pariwisata di DI Yogyakarta terancam tak lagi menjadi destinasi wisata favorit di Pulau Jawa. Berdasarkan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) Kementerian Pariwisata yang diumumkan Rakornas Kepariwisataan ke-4 di Ballroom Hotel Sultan Jakarta pada 6 - 7 Desember 2016, baru Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul yang masuk 10 daerah dengan indeks pariwisata tertinggi (IPI) di Indonesia.

Kabupaten Sleman pun hanya menempati peringkat keempat dengan skor 3,72. Sedangkan Kabupaten Bantul menempati peringkat kesepuluh dengan skor 3,22.

Ketua Asosiasi Tour dan Travel Agent Indonesia (Asita) DIY, Udhi Sudiyanto, mengatakan bahwa pemerintah harus melakukan penyebaran wisatawan sehingga tidak hanya terkonsentrasi di obyek wisata yang sudah terkenal.

Menurutnya, obyek wisata yang sudah terkenal seperti Malioboro, Prambanan, dan Keraton sudah pasti dikunjungi wisatawan yang datang ke Yogyakarta.

“Kita harus cari obyek wisata penyangganya. Contoh di Gunungkidul banyak sekali obyek wisata penyangga, seperti Gua Pindul, tapi itu juga sudah over (kapasitas),” kata Udhi ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (5/5/2017).

Udhi menilai bahwa DIY memiliki alam yang menarik sehingga bisa menjadi alternatif bagi pemerintah untuk membuka obyek wisata penyangga baru. Kabupaten Kulon Progo misalnya, kata dia, memiliki kebun teh yang ke depannya bisa menjadi maskot baru dan menjadi obyek wisata penyangga berbasis alam.

“Sekarang itu ada dua jenis wisatawan. Pertama, wisatawan yang baru pertama masuk ke Yogyakarta. Itu pasti cari yang objek wisata yang highlight. Tapi yang untuk wisatawan repeater, mereka selalu mencari hal-hal yang unik yang belum mereka kunjungi,” kata Udhi.

Bersamaan dengan menambah obyek wisata penyangga, Udhi mengatakan, pemerintah juga harus memerhatikan aksesibilitas, fasilitas, sarana, dan prasarananya. Gunung Kidul misalnya, meski wisatanya sudah mulai menggeliat, namun ia menilai jika aksesibilitas masih menjadi persoalan.

“Mau tidak mau pasarnya ada di Yogyakarta, ketika menuju ke Gunung Kidul, wisatawan masih butuh waktu lama. Itu yang jadi masalah perlu diperhatikan. Agar akses mudah ke sana, jangan sampai habis waktu di jalan. Kalau bisa satu hari semua bisa selesai di Gunung Kidul dengan menikmati gunung, air, dan pantai,” ujar Udhi.

Udhi mengatakan, pembenahan aksesibilitas juga menjadi faktor menunjang penambahan wisatawan sehingga mendongkrak peringkat wisata di DIY. Sebab jika aksesnya tak segera dibenahi, ia meyakini, wisatawan enggan mendatangi objek wisata penyangga baru yang ditawarkan.

“Saya pikir DIY untuk merealiasikan menjadi destinasi unggulan di Asia tenggara tidak terlalu sulit. Bagaimanapun juga Yogyakarta masih bisa menjadi maskot pariwisata di Jawa. Saya happy juga dengan beberapa stakeholder dan pengelola obyek wisata yang sudah mulai inovatif sehingga wisatawan yang sudah ke DIY selalu ingin mencoba hal yang baru,” kata Udhi.

Udhi pun optimis, jumlah wisatawan baik domestik dan asing yang datang ke DIY akan terus menigkat setiap tahunnya. Terbukti, kata dia, jumlah wisatawan yang datang ke DIY pada 2016 meningkat sampai17 persen dibanding 2015. Hal itu menunjukkan objek wisata di DIY masih menjadi primadona untuk di Pulau Jawa.

“Setiap long weekend Yogyakarta itu selalu dipadati oleh wisatawan domestik dan wisatawan dari luar DIY . itu juga terbukti dengan namanya hotel-hotel terutama di ring satu itu lebih sibuk. Bahkan pada long weekend kemarin, untuk mencari penginapan cukup sulit,” kata Udhi.

Kode:47
Sumber:kompas.com
Rubrik:Travel

Komentar

Loading...