Hari Ketiga Pasca Gempa Pidie Jaya

Warkop “Transit” Ule Glee Tinggal Kenangan

Foto | antaraPetugas mengoperasikan alat berat untuk mencari korban yang tertimpa reruntuhan bangunan rumah toko (ruko) akibat gempa di Desa Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12). Data sementara yang dihimpun Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh, menyebutkan korban meninggal akibat gempat sebanyak 92 orang, luka berat dan ringan 213 orang dan ratusan bangunan rusak, jaringan listrki putus serta beberapa ruas jalan nasional rusak.
A A A

PIDIE JAYA - Warung kopi di Ule Glee yang menjadi transit para pengguna jalan kini tidak bisa lagi disinggahi untuk istirahat, karena sudah rata dengan tanah akibat gempa berkekuatan 6,5 skala richter yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Rabu (7/12) pagi.

Pantauan di lokasi, Jumat, warkop yang terkenal dan berada di pinggir jalan raja Banda Aceh-Medan, Sumut, di Kecamatan Ule Glee dan berdampingan dengan SPBU terbesar di Aceh itu tidak saja rata dengan tanah, tapi juga menyebabkan 19 warga meninggal dunia tertimpa reruntuhan.

Anton, salah seorang warga Ule Glee menyebutkan, selain penjaga warung juga ada warga yang transit menjadi korban meninggal.

Ia menyebutkan, ada satu keluarga asal Kabupaten Aceh Timur dalam perjalanan ke Banda Aceh menjadi korban meninggal, saat sedang istirahat di warung tersebut menjelang Shalat Subuh itu.

Namun, seorang anaknya selamat, karena tertidur di mobil, sedangkan kedua orang tuannya meninggal tertimpa bangunan yang roboh.

"Menurut ceritanya, warga yang duduk di warung itu tidak sempat menyelamatkan diri, karena terjadinya musibah tersebut sangat cepat, mungkin hitungan detik. Jadi bersamaan dengan guncangan gempa di saat itu juga warung tersebut roboh," katanya.

Ada juga warga selamat karena sedang mengambil air whuduk untuk Shalat Subuh di mushala yang ada di warung tersebut.

Pada hari pertama musibah, ke-19 korban langsung dievakuasi setelah alat berat dari tim SAR, TNI, Polri dan relawan  membersihakan puing-puing bangunan warkop tersebut.

Warkop tersebut menjadi favorit bagi warga yang melakukan perjalanan untuk singgah, karena menu makanannya lengkap, selain kopi, teh dan minuman juz buah-buahan dan kue, juga ada sate matang, kerang rebus, nasi goreng, mie goreng, martabak telur, dan nasi "kucing".

Warung tersebut juga dilengkapi dengan kamar mandi yang ada di pom bensin dan airnya banyak dan juga ada mushala, sehingga warga merasa nyaman singgah di itu.

"Mungkin warga Aceh banyak yang merasa kehilangan dengan robohnya warung tersebut. Kita harapkan pemiliknya segera membangun kembali, karena memang seorang kontraktor dan pemilik SPBU tersebut," katanya.

Sumber: antara
Rubrik: Aceh

Komentar

Loading...