Hanya karena Satu Seruput Vodka,

Wanita ini 7 Tahun Sakit-sakitan

FOTO | ISTIMEWAjakarta100k_full
A A A

JAKARTA - Sepulang pesta bersama teman-teman kantor di tahun 2009, wanita ini tiba-tiba mengeluh tak enak badan. Badannya tak hanya menggigil, tetapi ototnya juga terasa nyeri disertai mual dan kram pada perutnya.

Malam itu juga, wanita yang dirahasiakan identitasnya ini mengalami demam tinggi, bahkan mencapai 38,9 derajat Celcius. Begitu juga dengan nyeri pada perutnya.

Namun ketika keesokan harinya ia mendatangi IGD, gejalanya malah membaik. Saat itu, dokter IGD menduga wanita ini terserang viral gastroenteritis atau biasa disebut flu perut.

Persoalan dikira selesai, hingga dua hari kemudian si pasien kembali ke IGD. Katanya punggungnya masih terasa nyeri dan ia sudah tidak buang air kecil sejak pertama kali jatuh sakit. Kali ini ia pun menjalani pemeriksaan menyeluruh dan hasil tes menyebutkan bahwa terjadi kerusakan pada ginjal wanita ini.

Tim dokter menduga pasien ini mengalami thrombotic microangiopathy (TMA), yaitu terjadinya pembentukan gumpalan-gumpalan di pembuluh darah kecil tubuh. Namun dalam kasus pasien ini, dokter tidak melihat adanya penyebab yang lazim.

Lazimnya TMA dipicu oleh gangguan pada proses pembentukan gumpalan darah atau infeksi bakteri E coli. Penyebab lainnya adalah bahan kimia dalam air tonik yang disebut quinine.

"Tetapi pasien ini tidak ingat ia minum pil quinine atau minum gin maupun tonik. Barulah kemudian ia ingat di saat pesta sempat menyeruput vodka tonik," ungkap Dr James George, ahli hematologi dari University of Oklahoma, sekaligus yang menjadi ketua tim peneliti kasus ini.

George menambahkan, si pasien juga menyadari bahwa reaksi yang sama pernah dialaminya 16 bulan sebelumnya di saat minum vodka tonik di sebuah pesta pernikahan. Ia pun mendatangi rumah sakit, meski gejalanya hanya sakit kepala berat.

"Ketika seseorang mengalami TMA yang dipicu quinine, itu artinya ada semacam 'auto-antibody' dalam darahnya. 'Auto-antibody' lumrah dimiliki orang-orang dengan penyakit autoimun di mana sel-sel tubuh menyerang dirinya sendiri," papar George seperti dilaporkan Livescience.

Sejatinya, setelah melakukan 'penyerangan' pada organ tubuh, quinine akan hilang dan 'auto-antibody'-nya kembali tenang. Hanya saja kerusakan kadung terjadi. Apalagi si pasien mengalami kerusakan pada ginjalnya, padahal tingkat kerentanan akibat TMA-nya adalah yang tertinggi dibanding organ lainnya.

"Namun untuk seseorang yang mengalami reaksi seburuk ini hanya karena konsentrasi quinine dalam air tonik yang hanya satu seruputan tadi, ia pastilah sangat peka terhadap bahan kimia tersebut," tegas George.

Itulah sebabnya George menyebut kasus yang dialami wanita berusia 35 tahun itu tergolong langka. George menambahkan, kondisi ini tak ada obatnya. Si pasien hanya dirawat di rumah sakit selama sepekan tetapi kondisinya sudah jauh lebih baik. Tetapi karena terjadi kerusakan pada ginjalnya, ia juga harus menjalani dialisis (cuci darah) selama dua bulan.

Dari hasil pemeriksaan terbaru atau tujuh tahun kemudian, pasien dilaporkan membaik dan bisa beraktivitas kembali. Tetapi ia masih harus mengonsumsi obat-obatan untuk menjaga kesehatan ginjalnya. Selain itu ada sedikit gangguan pada daya ingatnya.

"Otaknya menjadi agak lemot, sebab kerusakan akibat 'auto-antibody' memang bisa berpengaruh ke pembuluh darah kapiler di otak," pungkasnya.

Komentar

Loading...