Ingatan 14 Tahun Tsunami

Upaya Memaknai Hidup

ISTIMEWAM Rizal Falevi Kirani saat orasi
A A A

Tanggal 24 Mei 2003 saya di tangkap. Menjadi tahanan politik, diganjar 6th 8bn penjara. Dengan tuduhan terhadap saya melawan pemerindan dan menyebar kebencian kpd pemerintah indonesia(Makar) waktu Itu adalah konsekwensi terhadap  saya  dlm memperjuangkan hak2 rakyat  Aceh yg di rampas oleh Neagra.  Waktu itu saya bergabung di berbagai buffet aksi diantaranya FARMEDIA, PERAK, Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dan Himpunan Aktivis Antimiliter (HANTAM).

Selaku mahasiswa sejak  kuliah hingga di tangkap dengan segala siksaan adalah pilihan atas nilai keadilan dan kemanusian.

Tak pernah menyesal dapat berbuat baik atas segala konsekuensi waktu konflik. Bisa saja saya ketika itu sebagai mahasiswa fokus belajar tanpa peduli atas ketidakdilan yang terjadi sekitar kita. Apalagi kedua orang tua  saya adalah PNS.

Tapi panggilan kemanusian  dan keadilan menggelora, maka saban minggu selalu ikut demontrasi menuntut keadilan. Malah, kendaraan dan handpon saya menjadi "alat" komunikasi aktivis lainnya.

Setelah proses sidang selesai, sehari-hari saya habiskan waktu di penjara Keudah Kota Banda Aceh. Dengan membaca ,menulis, diskusi dan olahraga. Tetapi setiap sore, dua perempuan "hebat" selalu mengantar nasi. Kedua perempuan "hebat" itu saling pergi berbarengan untuk mengantar makanan ke Keudah. Nama perempuan itu adalah Dek Hur, adik kandung saya, dan Kak Dar, istrinya Pak Irwandi. Tak pernah absen mereka berdua mengunjungi kami, dengan masakannya yang berbeda-beda.

26 Desember 2004
Setelah sidang dipengadilan BNA saya di Vonis 6.th 8bln  penjara, kemudian saya mangajukan banding dan kasasi, itu semua sangat siap saya lalui demi perjuangan keadilan bagi rakyat aceh . Orang tua di kampung, terus memberi dukungan melalui adik kandung saya "perempuan hebat".

Minggu 26 Desember 2004, tsunami datang. Tembok penjara berhamburan diterjang air, semua bergerak, bertakbir, membaca nama Allah. Dalam seketika penghuni penjara diterjang air. Saya melihat Bang Wandi naik ke atas. Beliau memanggil saya dan tahanan yang lain "ka euk laju u ateuh, nyoe ie tsunami" katanya. Bagi saya ini tanda kiamat. Tak lain.

Saya berusaha melihat, meminta yang lain juga untuk naik ke atas musalla. Ada yang ikut ke atas, ada juga yang tidak sempat lagi cari tempat yang tinggi termasuk saya diseret oleh air tusnami yg begitu kecang, kemudia saya terdampar ke atas Ruko termial Keudah. Ketika Kami berada di atap ruko. Ketika kami berada di atas.  Pada saat itu saya melihat para tahanan ada di atap musalla dan atap  kantor Kalapas.

Terjangan air tsunami, menghembaskan kami keluar penjara sepanjang deretan pertokoan. Baju dan celana jean yang saya pakai terhembas dari badan. Di ruko itu  saya menemukan celana dan baju. Allah membebaskan saya dari penjara(Amnesti Allah SWT).

Kami Segerombolan di atas Ruko tak pernah terlihat. Ditengah air tsunami yang masih tergenang, saya masih sembunyi-sembunyi dari keramaian. Supaya tidak tertangkap. Mencari akal, supaya dapat sampai ke rumah kos adik dan abang sepupu di Beurawe.

Pelan-pelan, sambil terus berdoa keselamatan bagi yang lain. Pagi tsunami, di Keudah, melalui perjalanan yang berat dan sembunyi-sembunyi. Menjelang magrib baru tiba di Beurawe.

Sampai di Beurawe. Kebingungan, tidak tahu lorong dan letak rumah kos adik dan abang sepupu. Karena waktu mereka kos di Beurawe saya sudah dalam penjara. Tidak pernah juga saya tanyakan alamat lengkap.

Allah Maha Pemberi Petunjuk. Saya ingat, ada abang leting saya di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, tinggal di kos Beurawe. Pernah saya antar dengan kereta yang saya miliki sekitar tahun 2002. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Beurawe. Lokasi itu tidak tergenang air tsunami.

Tak lama kemuadian, saya ketemu  dengan  Askalani, misdarul ihsan dan juga Radhi (Alm) mareka sedang berdiri di depan rumah Kos juga terlihat mereka tidak takut  karenan saya tahanan politik, kemudian askal mempesilahkan  saya dan Amrilrullah  masuk kedalam.  Lalu Bang  Radhi Beliau seorang jurnalis yang kesetiakawanannta tak diragukan. Baru saja meninggal 2 tahun lalu. Alfatihah untuk Bang Razie.

Dari beliau lah. Saya diberi petunjuk lorong dan deteil lokasi rumah kos adik dan abang sepupu. Setelah magrib saya ke tempat itu, rupanya rumah kos adik dan abang sepupu masih terendam dengan air. Dari balik cendela saya lihat honda mereka masih di dalam rumah. klalpon terendam air tsunami.

Saya tanya kepada tetangga, mereka jawab sebagian warga lorongnya telah mengunggsi ke Blang Bintang dengan truk tadi. Termasuk mereka katanya. Kenapa mereka naik truk, kereta ken ada di dalam. Tanya saya dalam hati. Saya bersyukur mereka selamat. walau belum bertemu. Saya titip pesan sama tetangga mereka. Saya mencari mereka.

Besoknya kami bertemu. Inilah awal pecah tagis itu. Tak lama, cek dan abang sepupu saya yg datang gampong  tiba di Beurawe, besoknya setelah  ashar saya dg menungakan motor, melakukan penyamaran dengan mukena dibawa ke Kiran Jangka Buya Pidie Jaya.

Satu malam saya nginap Peulakan Tambo Kec bandar dua kab pijay  tempat Keluarga, karena solidaritas keacehan yang tak ternilai. Saya terhubung dengan beberapa petinggi GAM dan Ketua Konsulat Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA-Medan) dan juga teman-teman aktivis kemanusian untuk segera ke Sumatera Utara. Di Medan telah ada tim yang  yg menjemput di termilan dan akan menampung saya untuk diberi pilihan apakah tetap di Indonesia atau pergi keluar negeri.

Besoknya, dengan izin Abu dan Mak. Saya dibantu oleh banyak orang menjalani perjalanan darat ke medan. Hingga selamat atas takdir Allah SWT.

Itulah cerita 26 Desember 2004. 14 Tahun yang lalu. Sebuah cerita, tentang Kehendak Allah dan berupaya bertahan hidup yang dapat bermakna untuk khalayak. Itulah alasan, saya belum bosan memberi makna hidup dengan politik. Dan terus berujuang untuk mewujudkan Aceh Hebat.(segelumit cerita saya tentang Tsunami).

bersambung edisi lengkap....

Penulis:M Rizal Falevi Kirani
Kode:47
Rubrik:Opini

Komentar

Loading...