Guru Honor Dibayar Rp15 Ribu,

Tsunami Cup Rp11 Milyar

FOTO | AK JAILANIKetua Komisi II DPRA | Nurzahri, ST
A A A

Yang menjadi perdebatan adalah mengenai besaran honor yang akan diberikan kepada 11.392 orang tenaga kontrak yang terdiri dari guru kontrak, penjaga sekolah, clining service dan tenaga kontrak lainnya,

Nurzahri, ST Ketua Komisi II DPR Aceh

BANDA ACEH - Ketua Komisi II DPR Aceh menyebutkan, pemerintah Aceh hanya menganggarkan honor sebesar Rp. 15.000 per jam pelajaran bagi guru kontrak dan 500 ribu perbulan bagi tenaga kontrak lainnya baik penjaga sekolah, clining service dan lain-lain.

“Saya merupakan salah satu anggota badan anggaran DPRA yang menentang keras besaran honor yang diberikan ini walau pun menurut pemerintah Aceh besaran tersebut karena tidak tersedianya anggaran,”ujar Politisi Partai Aceh itu, Rabu (20/09).

Nurzahri mengatakan pada rapat antara Badan Anggaran DPR Aceh dengan Tim Anggaran Pemerintah Aceh terjadi perdebatan alot antara beberapa anggota badan anggaran DPRA dengan Tim pemerintah Aceh. Salah satu persoalan yang menjadi perdebatan adalah terkait gaji guru honorer SMK/SMA yang selama ini belum terpenuhi.

“Yang menjadi perdebatan adalah mengenai besaran honor yang akan diberikan kepada 11.392 orang tenaga kontrak yang terdiri dari guru kontrak, penjaga sekolah, clining service dan tenaga kontrak lainnya,”tambahnya lagi.

Nurzahri meminta agar Pemerintah Aceh patuh kepada kebijakannya sendiri terkait Upah minimum provinsi yang telah ditetapkan sebesar 2,3 juta rupiah, sehingga seluruh guru kontrak, penjaga sekolah, tenaga clining service harus mendapat upah minimal sebesar UMP tersebut.

“Dan merupakan pembohongan publik apabila pemerintah Aceh mengatakan tidak memiliki anggaran untuk gaji para kontrak tersebut karena disisi lain ternyata pemerintah Aceh menyediakan anggaran bagi program-program kurang bermanfaat seperti tsunami cup (11 milyar), panjar beli pesawat (10 milyar), sabang sail (9,7 milyar) pengadaan mobil di Jakarta bagi wagub (3 milyar) dan program-program aneh lainnya,”lanjutnya lagi.

Menurut Nurzahri, permasalahan kesejahteraan para guru kontrak tersebut menyangkut rasa kemanusian dimana para guru kontrak telah bersusah payah mengajar anak-anak Aceh agar berpendidikan tetapi menurutnya kurang dihargai oleh pemerintah Aceh.

“15.000 per jam atau 500 ribu perbulan tentunya sangat jauh dari kebutuhan hidup seorang manusia merdeka, wajar kiranya kemiskinan di Aceh tidak pernah teratasi karena ternyata pemerintah Aceh lah yang memiskinkan para pahlawan tanpa tanda jasa Aceh, padahal tanpa guru-guru tersebut mungkin Irwandi tidak akan menjadi Gubernur dan Nova Iriansyah tidak akan menjadi wagub,”pungkas Nurzahri.

Dan merupakan pembohongan publik apabila pemerintah Aceh mengatakan tidak memiliki anggaran untuk gaji para kontrak tersebut karena disisi lain ternyata pemerintah Aceh menyediakan anggaran bagi program-program kurang bermanfaat seperti tsunami cup (11 milyar), panjar beli pesawat (10 milyar), sabang sail (9,7 milyar) pengadaan mobil di Jakarta bagi wagub (3 milyar) dan program-program aneh lainnya,
Kode:47
Sumber:antero
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...