Sebanyak 2.303 calon pengantin di Aceh melaksanakan akad nikah sepanjang April-Mei 2020. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariat Kanwil Kemenag Aceh, Drs H Hamdan MA. Menurut Hamdan, di tengah masa darurat Covid-19 dan pembatasan larangan akad nikah di luar KUA sejak April-Mei, tercatat 3096 pendaftaran nikah di KUA ----- Memasuki hari ke enam lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah, puluhan pekerja bangunan dari Sumatera Utara mulai tiba di Kabupaten Bener Meriah. Hal itu disampaikan Ketua Tim Publik Safety Center (PSC) 119 Kabupaten Bener Meriah Zulkifli Burhanuddin saat dikonfirmasi awak media via seluler, Senin (1/6/2020) ----- Aksi pengerusakan Kantor Reje (Kepala) Kampung di Kecamatan Bukit kembali terulang, dimana sebelumnya dua kantor Reja Kampung di Kecamatan Bukit yakni Kampung Blang Tampu dan Blang Panas diobarak abrik masyarakat disana. Peristiwa itu juga dialami Kantor Reje Kampung Kute Kering Kecamatan Bukit, warga yang didominasi kaum ibu-ibu mengamuk dan memecahkan kaca jendela baigain depan, Senin (1/6/2020)

Permainan Tradisional

Tradisi Main Layang-layang Usai Masa Panen

MUHAMMAD FAISALTerlihat Warga lagi menyambung benang agar layang bisa diterbangkan Seneubok Dalam,Minggu(22/3/2020)
A A A

ACEH TIMUR - Tradisi masyarakat di pedalaman Aceh Timur yang tidak hilang oleh zaman moderen, sebagian kecil warga tetap menjaga dan melestarikannya dengan bermain layang selepas musim panen sawah atau masa (Luah Blang) .

Salah satunya masih terlihat di Gampong Seuneubok Dalam, Kecamatan Idi Tunong, melalui permainan tradisional yang dilakukan oleh warga, baik orang dewasa maupun anak - anak yang mengisi waktu libur sekolah karna wabah Virus Corona( Covid-19).Tradisi main layang pada masa panen padi saat sawah lagi kosong, Dengan Layang berbagai jenis baik ukuran besar maupun kecil, Minggu (22/3/2020).

Keunikan bermain layang bila telah terbang tinggi dengan humbusan angin kecang maka benang akan mengeluarkan seperti bunyi kumbang lagi terbang.

Keunikan itulah yang membuat warga selalu tertarik untuk memainkan layang setiap selesai panen padi. Bahkan, permainan ini bisa dibilang sebagai tradisi warga yang telah dilakukan sejak lama di Gampong Seuneubok Dalam.

"Sejak kecil saya sudah ada tradisi ini," kata Ismail Muhammad(65 tahun ) warga Gampong Seuneubok Dalam yang sedang asyik memainkan dan mengulur benang layang yang berukuran besar,Tradisi bermain layangan ini juga dilakukan anak-anak Gampong Seuneubok Dalam.

Bagi Masyarakat,permainan layangan ini selalu dijadikan suatu alat untuk mempererat tali persaudaran dan silaturahmi antar warga Dan tetangga Gampong (Desa) disetiap paska panen padi, mereka bisa berkumpul di area persawahan dengan penuh kegembiraan.

Orang dewasa dan anak-anak saling adu ketangkasan menerbangkan layangan setinggi yang mereka mampu, Suara benang layang-layang mulai terdengar bunyinya ditarik angin dengan bermacam warna dan ukuran mengudara mengisi lagit biru. Suasana menjelang sore angin pun ikut menghilang, layang layang pun jatuh satu persatu menuju persawahan dan pepohonan dekat area persawahan, suara sorakan pun pecah saat melihat layang yang jatuh.

"Tradisi main layang ini mampu menjaga silaturahmi kami yang setiap harinya disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Selain itu, kami bisa benar-benar bahagia saat bermain layang layang," kata Zulfatli yang ditemani adiknya lagi bermain layangnya.

Keunikan dari layang yang diterbangkan oleh warga, Tidak terlepas dari suasana politik yang khas di Aceh. Terlihat layang yang penuh dengan corak berbagai bentuk dan warna, ada yang khas seperti Partai Aceh (PA), ada juga yang berwarna khas dengan Partai Nangrou Aceh (PNA),ada juga yang mengunakan kertas merah putih yang identik dengan bendera Republik Indonesia (RI).

Rubrik:Travel

Komentar

Loading...