Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Tim Upuh Kio Kembangkan Kembali Tenun Gayo yang “Hilang”

SAMSUDDINKegiatan revitalisasi Teknologi melalui Inovasi tradisional Tenun Gayo dan Kerawang Gayo.
A A A

BENER MERIAH – Sabagai wujud kepedulian Tim Upuh Kio terhadap Tenun Gayo yang hampir punah, Tim tiga serangkai yang terdiri dari Peteriana Kobat (Inen Nami sebagai Ketua Tim), Zulfikar Ahmad (Aman Dio Pengumpul data) dan Achrial (Aman Ega) menggelar kegiatan revitalisasi Teknologi melalui Inovasi tradisional Tenun Gayo dan Kerawang Gayo.

Revitalisasi tersebut terbagi dalam tiga kegiatan diantaranya, Riset Tenun Gayo, Seminar, dan Workshop yang di buka langsung oleh Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi di aula Setdakab Bener Meriah. Senin (14/9/2020).

Dalam laporannya Ketua Tim Upuh Kio, Peterianan Kobat (Inen Nami) menyampaikan, kegiatan revitalisasi Teknologi tradisonal melalui inovasi kerawang gayo. Dimana kegiatan ini merupakan serangkaian kegiatan yang akan berlangsung kurang lebih selama tiga bulan kedepan.

Seluruh kegiatan ini, dibiayai anggaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dirjen Kebudayaan. Program Fasilitas Bidang Kebudayaan tahun 2020.

Wanita yang akrab disapa Ana Kobat itu menyampaikan, pada tahun 2018 lalu pada pembukaan acara GamiFest tepat pada pukul 20.00 wib (jam 8 malam ) sebanyak 350 personel penari bersama hujan dan kami menamai tarian tersebut adalah tarian Upuh Kio.

“Kala itu, sebelum masal Upuh Kio ditampilkan dari pangung terdengar MC membacakan sinopsis tari massal yang intinya menjelaskan makna opuh kio. Dimana Upuh kio adalah kain tenun tradisional Gayo yang telah punah,"cerita Ana Kobat.

Koreografi tari masal mengungkapkan, pasca penampilan itu banyak kritikan dan masukuan ia didapat pada umumnya mempertanyakan apa arti Upuh kio, benarkah gayo memiliki tenunun? "Pertanya tersebut sangat mengangu pikiran saya,"ucapnya

Ana menegaskan, bahwasanya nama opoh kio ia ambil dari status facebook Aman Dio yang sebelumnya telah meminta izin kepadanya. Aman Dio bercerita banyak tentang opoh kio yang semakin membuat dirinya penasaran bercampur sedih, ternyata banyak kebudayaan Gayo telah lenyap tergilas roda zaman.

Lebih jauh Ana Kobat bercerita, sejak saat itu ia bertekat untuk menemukan kembali salah satu budaya gayo dimana sebelumnya juga ia telah berhasil menyusun koreografi Tari Sining.

Dikatakan Ana, beberapa kali ia bertanya kepada Aman Dio berusaha mengali bukti-bukti keberadaan tenun gayo, setelah cukup yakin adanya tenun di gayo, selanjutnya mulai mencari sumber pembiayaan untuk menekuni kembali tenun gayo yang telah lama punah.

"Meskipun kami yakin adanya tenun di gayo, namun kami tidak yakin dapat merekontruksi alat tenunnya, setelah kerkonsultasi dengan bidang kekayaan khazanah budaya gayo di Majelis Adat Gayo (MAG) Aceh Tengah disana kami menyampaikan niat kami kepada Achrial (Aman Ega) untuk merekontruksi alat tenun gayo,"tuturnya.

Justru itu, melalui kegiatan revitalisasi teknologi tradisonal inovasi kerawang gayo itu pihaknya berharap muncul sebuah masukan yang positif guna untuk menumbuh kembangkan tradisional tenun gayo dan meningkatkan perekonomian masyarakat melaui pengerajinan tenun gayo.

Untuk itu, pihaknya akan memberikan penghargaan berupa alat tenun kepada 9 peserta terbaik nantinya.

Sementara itu, Zulfikar Ahmad (Aman Dio) menambahkan, tujuan dilaksanakan seminar tersebut menvasilidasi pengumpulan data dari tokoh –tokoh adat, budaya dan seniman. “Jika data yang kami dapat salah tentu kita ingin tau dimana salahnya, dan jika ada yang kurang maka kita akan berupaya menambahnya dan kami siap untuk memperbaikinya,"ujar Zulfikar.

Aman Dio itu menuturkan, ada tiga tahapan pengumpulan data, (Apakah bener ada tenun gayo) hal itu dcoba petik dari hasil reverensi- reverensi dimasa kolonia.

"Kemudian apakah ini bisa kita kembangkan ditengah masyarakat ini yang akan kita coba latih masyarakatnya. Merekonstruksi alat tenun gayo, saat ini kita tidak tau alatnya dimana untuk itu kita akan coba rekontruksi,"jelas Aman Dio.

Sementara itu Bupati Bener Meriah , Tgk H Sarkawi dalam kesempatan itu mengucapkan terimakasih dan apresiasi atas munculnya gagasan dan ide-ide dari Tim Opoh Kio dalam mengangkat kembali budaya Gayo berupa Tenun Gayo yang mungkin sudah terlupakan.

”Kata pertama yang ingin saya ucapkan adalah penggagas oouh Kio luar biasa, dengan ide atau konsep yang berlian untuk menggali budaya Gayo yang sudah punah seperti tenun Gayo,”ucap bupati

Bupati Bener Meriah mengharapkan melalui seminar revitalisasi teknologi tradisional ini dapat mengangkat derajat dan martabat budaya Gayo nantinya.

"Seiring perkembangan zaman itulah harus kita akui, tapi jangan pernah melupakan budaya kita,"harap Bupati.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...