Korut Dinilai Kalah Jika Perang Lawan AS,

Tapi Dampaknya Mengerikan

FOTO | REUTERSPemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersama para pejabat militernya di Ryomyong Street, Pyongyang, 16 Maret 2017.
A A A
Kami tidak menggunakan kekuatan militer untuk memaksakan hal ini pada orang lain, tapi kami tidak akan ragu untuk menggunakan militer kami untuk mempertahankan sekutu kami dan cara hidup kami,

WASHINGTON - Retorika perang antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) semakin gencar. Para wartawan perang dan komentator politik luar negeri menilai Korut akan menderita kekalahan jika perang dengan AS pecah.

Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu mengkritik keras pemimpin Korut Kim Jong-un. ”Dia bertindak sangat, sangat buruk,” katanya, seperti dikutip Reuters, Senin (20/3/2017). Trump mengatakan para pejabat pemerintahannya melakukan pertemuan selama akhir pekan tentang Korut dan isu-isu lainnya.

Para Presiden AS sebelum Trump telah menolak untuk melancarkan perang dengan Korut. Sinyal Pemerintah Trump untuk meluncurkan perang terhadap rezim Kim Jong-un semakin jelas ketika Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menyatakan bahwa serangan pre-emptive terhadap Korut adalah “opsi di atas meja”.

”Kami tidak menggunakan kekuatan militer untuk memaksakan hal ini pada orang lain, tapi kami tidak akan ragu untuk menggunakan militer kami untuk mempertahankan sekutu kami dan cara hidup kami,” katanya di pangkalan militer Yongsan Garrison, rumah bagi militer AS di Korea Selatan (Korsel).

Seorang wartawan perang dan komentator politik luar negeri John Pilger kepada IBTimes UK menilai perbedaan Trump dengan presiden-presiden AS pendahulunya tipis.

”Trump adalah versi kartun dari pendahulunya dan sedikit tak terduga, dan AS tidak memiliki bahasa internasional hari ini selain menghasut perang,” katanya.

Pengamat memperingatkan bahwa sebuah serangan pre-emptive akan memicu eskalasi ke perang habis-habisan.

Jurnalis perang lainnya, Max Fisher dari New York Times, menulis; ”Korut tahu mungkin akan kalah perang jika suatu saat terjadi, rencananya (Korut) menyerukan untuk (perang) skala penuh, kemudian melakukan pembalasan untuk menghentikan Amerika dalam jejak mereka.”

”Strategi ini menanggung sikap putus asa, menciptakan risiko yang telah lama didera para perencana perang Amerika. Korut akan melihat serangan terbatas sebagai awal dari perang dan menanggapi dengan persenjataan penuh,” katanya.

“Perang penuh, sengaja atau tidak sengaja, akan berisiko pada dampak yang mengerikan,” imbuh dia.

Perang tidak hanya akan melibatkan negara rezim Kim Jong-un, tetapi kemungkinan akan menyeret China karena negara ini akan kehilangan penyangga fisik.

Meski demikian, menurut Pilger, Trump bukan jadi akar penyebab bencana tersebut. Ancaman yang ditimbulkan Trump, kata dia, tidak berbeda dibandingkan dengan pemerintahan Obama.

”Rekor Obama jelas,” ujarnya. ”Dia adalah salah satu presiden yang lebih ganas dan rakus di era modern,” sebut Pilger.

”Dia menderita tujuh perang, sebuah rekor. Dia membangun hulu ledak nuklir lebih dari presiden siapa pun sejak Perang Dingin dan mengarahkan dana USD1 triliun untuk pengembangan senjata nuklir di masa depan, setelah berjanji untuk melakukan yang sebaliknya,” kritik Pilger.

Obama juga dikenang pengobar serangan pesawat nirawak dalam kampanye melawan terorisme yang meluas.

”Jadi, Trump harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalan, namun pertanyaan yang beredar adalah mengapa orang berpendidikan menyangkal fakta ini?,” katanya.

Sumber:sindonews.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...