Personel Satuan Reskrim Polres Aceh Timur menangkap pelaku diduga merampas telepon genggam seorang gadis di kabupaten itu serta memperkosanya. Kasubbag Humas AKP Muhammad Nawawi di Idi, Minggu, mengatakan tersangka berinisial SA (23) warga Tano Ano,[ Kecamatan Idi, Aceh Timur. Sedangkan korban berinisial LI (18), warga Kecamatan Darul Ihsan, Aceh Timur.

Pemimpin Gagal

Tanpa Rencana, Sebuah Kabupaten/kota Tanpa Impian…? Pasti yang Terjadi Adalah Kegagalan

FOTO | ISTIMEWA.
A A A

Itulah alasan, mengapa dalam ilmu managemen hadir istilah ‘the right man in the right place

HT Anwar Ibrahim Pemimpin Redaksi

Seorang pemimpin dibutuhkan, karena mereka adalah matahari harapan, penunjuk jalan kemana rakyat yang mareka dipimpin akan dibawa, diantarkan, sesuai dengan mimpi sang pemimpin dan rakyat yang memilihnya.

Karena untuk itulah mereka dipilih menjadi pemimpin!.

Seorang pemimpin pemerintahan, misalnya pimpinan kabupaten Pidie, mareka dipilih bukan sekedar karena kesan kesederhanaan, kesantunan, apalagi sekedar tampli apa adanya. Karena kesederhanaan itu pola hidup, bukan karena miskin atau pura-puraan tak memiliki harta.

Tujuan utama seorang pemimpin, ibarat seorang nahkoda dia harus mengetahui pulau harapan yang dituju, bagaimana jalan menuju kesana, dan juga yang terpenting mengerti kondisi penumpang dan para awak kapal dengan baik.

Untuk itulah, pemimpin Pidie saat ini harus punya rencana (tujuan) Punya visi, misi yang jelas tentang mimpi dan gagasannya.

Dalam pemerintahan Pidie yang sudah berjalan 2 tahun visi dan misi dapat  diwujudkan dalam dokumen sebagaimana dicantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Namun yang terkesan pemerintahan Pidie yang sekarang sangat berbeda jauh dari pimpinan Pidie sebelum-belumnya.

Inilah peta jalan sebuah daerah, dalam satu priode kepemimpinan seperti Bupati- wakil Bupati Roni Ahmad - Fadhlullah TM Daud ST.

Panduan hendak kemana Kabupaten Pidie dalam lima atau sepuluh tahun kedepan. Apakah pemimpin tanpa rencana, menjadi ancaman sebagai daerah gagal?

Persoalanya, pemimpin daerah punya rencana? Punya visi yang jelas, terukur dan sistematis? Melihat kondisinya sekarang sulit di jawab, kendati faktanya pemerintah Pidie telah gagal?

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya selama ini, kegagalan utama pemerintahan Pidie bermula dari kegagalan memilih pemimpin.

Melihat bagaimana para calon kepala daerah beradu gagasan didepan publik dengan visi dan misi mereka, untuk mendapatkan kepercayaan pemilih.

Beberapa diantara para calon yang saya amati memang memiliki visi, gagasan dan mimpi, namun terpilih, sedangkan beberapa diantaranya memiliki pengetahuan dan rencana yang jelas bagaimana mereka akan membawa daerahnya maju, tapi tak terpilih.

Namun anehnya, mengapa mereka yang tidak memiliki gagasan yang jelas tersebut, justru dipilih oleh mayoritas pemilih? Nah, itu hanya masyarakat yang dapat menjawab secara logis.

Seakan ajang sosialisasi dan debat kandidat yang dilakukan oleh KPU, tidak memiliki pengaruh dan bekas apa-apa bagi keterpilihan seorang calon?

Tentu saja ada banyak alasan, salah satunya soal uang. Calon kepala daerah yang paling royal memberikan biaya transport, bantuan rumah ibadah akan memiliki kemungkinan keterpilihan.

Kemudian representasi demografi identita dan soal waktu sosialisasi.

Demikian pula politik identitas yang berbasis daerah asal, gampong (desa), dan kecamatan, serta yang ketiga barulah soal berapa lama calon tersebut melakukan sosialisasi.

Maka karena alasan itu masih dominan, tak heran dari pilkada ke pilkada, Pidie hanya melahirkan para kepala daerah pemburu rente, kaum penjual atau para salesmen penjual diri tanpa isi.

Selain faktor kegagalan dalam memilih pemimpin, ancaman Pidie gagal terjadi pula karena kepala daerah terpilih dirinya disandera oleh para tim sukses, yang biasanya terdiri dari ragam latar belakang seperti kontraktor, pengusaha, birokrasi, dan akademisi yang juga sama-sama tidak punya rencana yang jelas kemana dan akan melakukan apa bagi Kabupaten Pidie dan mengawal kepala daerah yang didukungnya.

Mungkin bagi rakyat Pidie, tidak soal para tim sukses tadi mendapatkan posisi dan porsi dalam pemerintahan.

Namun, harusnya posisi dan porsi mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing dan tidak berbenturan dengan aturan yang ada, dan tidak menggerogoti dana APBK hanya untuk kantong pribadi apalagi sampai melakukan korupsi.

Kalau, soal birokrasi tidak perlu lagi ditanyakan, karena berapa banyak birokrat daerah yang menjadi pegawai negeri bukan karena mereka paham hendak berbuat apa, bermimpi apa ?

Namun hanya karena alasan bisa dapat apa setiap bulan, setiap kenaikan pangkat dan jabatan?

Saya adalah orang yang selalu percaya, kegagalan bermula dari sebuah rencana yang gagal. Rencana yang gagal berasal dari informasi yang gagal dari orang yang salah.

Itulah alasan, mengapa dalam ilmu managemen hadir istilah ‘the right man in the right place’.

Untuk bisa keluar dari ancaman kegagalan tadi, sudah waktunya kita membenahi faktor dasar yang membentuk potensi kegagalan daerah tersebut.

Tentu saja mari memilih pemimpin yang punya rencana dan visi yang jelas, kemana daerah ini akan dibawa.

Sudah waktunya mereka yang punya visi, gagasan dan mimpi untuk berani terjun bekerja bersama membenahi Pidie, tentu saja dengan mempersiapkan dan membenahi diri sendiri dengan rencana dan mimpi yang jelas serta realistis!

Penulis:HT Anwar Ibrahim
Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...