Juara AFF 2016

Surat untuk Sahabatku, Thailand

FOTO | CNNTimnas Thailand juara Piala AFF untuk kali kelima setelah mengalahkan Indonesia di final leg kedua.
A A A

Dear Thailand,
Selamat, ya! Lagi-lagi kalian juara. Kami harus berbesar hati mengucapkan selamat, karena kalian memang pantas mendapatkannya.

Sudah bertahun-tahun kita menjadikan Piala AFF sebagai arena permainan masa kecil. Kita saling mengalahkan tapi tanpa rasa dendam. Kalian tak membuat kami gusar seperti Malaysia, atau membikin kami bertarung hingga berdarah-darah seperti Vietnam.

Di Stadion Rajamangala kami juga dengar pendukung kalian meneriakkan: "Indonesia...Indonesia...Indonesia". Terima kasih telah membesarkan hati kami yang sedang remuk, malam itu.

Diam-diam, kami tahu bahwa kalian adalah teman yang paling pintar urusan sepak bola. Bagaimana tidak? Kalian 'juara kelas' lima kali, sementara kami lima kali ranking dua. Soal mengerjakan tugas dari ‘guru’, seperti melakukan pembinaan atau membangun industri sepak bola, kalian selalu tepat waktu.

Bukti paling sahih ini terlihat ketika kalian mengalahkan Filipina di pertandingan terakhir fase grup A. Hanya dengan pemain-pemain lapis kedua saja kalian bisa membuat Si Anak Baru yang banyak gaya itu meringis, padahal kami setengah mati menahan mereka imbang.

Pemain yang kalian turunkan di final Piala AFF 2016 pun jadi bukti keberhasilan dalam menjalankan sepak bola secara benar. Belum habis Teerasil Dangda, eh kalian sudah melahirkan lagi Chanatip Songkrasin dan Siroch Chattong yang masih berusia 23 tahun.

Kalian perlu tahu betapa irinya kami melihat kalian yang bisa menang 2-0 tanpa menggunakan Sarawut Masuk, pemain yang di laga-laga sebelumnya selalu jadi pilihan inti. Siapa pula itu Tanaboon Kesarat, gelandang bertahan termahal Liga Thailand yang juga bisa bermain sebagai bek tengah?

Ya, ya, ya. Soal urusan bermain bola memang harus dikatakan kalau kalian lebih pintar. Identitas kalian juga sudah terbentuk dengan gaya tiki-taka yang dibawa Kiatisuk Senamuang.

Kalian tak lagi berkutat dengan hal 'remeh' seperti stamina yang tak cukup bugar yang masih jadi makanan kami sehari-hari.

Tapi kalian harus mengakui juga bahwa perlawanan kami di final bukan sembarangan. Sejarah akan mencatat bahwa kami adalah satu-satunya tim di Piala AFF 2016 yang bisa membobol Si Hebat Thailand.

Bukankah Kiatisuk kami bikin susah tidur karena memikirkan kekalahan di Pakansari? Pelatih kesayangan kalian itu kami paksa memeras otak dan merasakan tekanan. Hanya lawan sepadan yang bisa membuat kalian bekerja keras, dan setidaknya untuk 2 x 90 menit kami berhasil melakukan itu. Lumayan, bukan?!

Walau seluruh keberanian kami ini tak bisa dikonversi menjadi piala, tapi setidaknya di akhir pertandingan kami bisa menjabat tangan kalian dengan kepala yang tegak.

Di saat banyak sekali yang memandang kami sebelah mata, kami telah melawan dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan*.

Dear Thailand,
Ada sesuatu yang mengusik pikiran kami setelah kekalahan ini.

Kami sadar mungkin ini hari-hari terakhir kami bisa bermain bersama kalian dengan status yang sama. Kalian kini beranjak semakin dewasa.

Kalian sudah tak lagi takut menantang anak-anak yang lebih besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Kalian memang belum setara dengan mereka, tapi setidaknya mulai bertarung dalam arena yang sama. Kalian tak lagi terkungkung, tapi menikmati petualangan baru.

Ketika kalian menembus empat besar Asian Games 2014, rasa-rasanya juga ada sesuatu yang mebuat sesak di dada. Kami ikut bangga bahwa teman sepermainan kami di Asia Tenggara kini bisa mulai berbicara di pentas yang lebih besar.

Ya, kalian memang mulai melangkah lebih jauh dan jauh lagi meninggalkan kami. Final Piala AFF 2016 setidaknya menjadi pelajaran bahwa ada perbedaan kelas yang sangat sukar dilampaui hanya dengan keberanian, kerja keras, atau keberuntungan.

Kalian mungkin harapan sekaligus jalan bagi kami, Malaysia, Vietnam, atau Singapura. Bahwa jika kami setidaknya mau mengikuti langkah-langkah mengelola sepak bola dengan benar, mendirikan akademi, kompetisi usia muda, dan membenahi industri sepak bola, ada cara untuk bicara di level dunia.

Dear Thailand,
Dulu kita sama-sama punya mimpi menembus Piala Dunia. Kita sama-sama punya mimpi berbicara di Asia

Bergeraklah lebih dulu. Jika luka-luka akibat terjatuh di final ini sudah kami obati, kami pasti akan menyusul. Kami pasti akan bergerak dan suatu saat kita akan bertarung lagi di medan yang sama. Mungkin di Piala Asia, Asian Games, atau… jika garis nasib mengizinkan. Piala Dunia.

Tunggu kami, ya!

Sahabatmu,

Indonesia

* Dikutip dari kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia.

Rubrik:Sport

Komentar

Loading...