Donald John Trump

Siap Bertemu Presiden Iran Kapan Saja dan Tanpa Prasyarat

ReutersPresiden Amerika Serikat Donald John Trump (kanan) saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Italia Giuseppe Conti di Gedung Putih, Senin (30/7/2018)
A A A

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump menyatakan siap untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani kapan saja dan tanpa prasyarat. Pernyataan orang nomor satu di Gedung Putih ini muncul setelah Washington dan Teheran saling mengumbar ancaman militer.

"Kapan saja mereka mau," kata Trump kepada wartawan."Jika mereka ingin bertemu, saya akan bertemu," katanya lagi, seperti dikutip Reuters, Selasa (31/7/2018).

Trump membuat komentar tersebut setelah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conti di Gedung Putih pada hari Senin waktu Washington. "Saya pasti akan bertemu dengan Iran, jika mereka siap untuk bertemu," ujar Trump.

Strategi Trump terhadap Iran ini mirip dengan apa yang dia lakukan terhadap Korea Utara. Awalnya, Trump dan kabinetnya mengambil pendekatan garis keras dengan mengumbar ancaman militer, namun kemudian melunakkan sikapnya dengan mengajak "musuh"-nya ke meja perundingan.

Presiden Amerika ini telah menarik negaranya dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau dikenal sebagai perjanjian nuklir Iran tahun 2015. Dalam perjanjian yang diteken Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) tersebut, Teheran bersedia mengekang program nuklirnya. Sebagai imbalannya, sanksi internasional terhadap Iran dicabut.

Namun, sejak AS dipimpin Trump, perjanjian yang ditekan era Presiden Barack Obama "dikhianati". Setelah keluar dari JCPOA 2015, AS memutuskan untuk memberlakukan sanksi lagi terhadap Teheran.

Minggu lalu, Trump mengancam Presiden Rouhani dengan pesan huruf kapital di Twitter. "Jangan pernah, sekalipun, mengancam AS lagi atau akan menderita konsekuensi sepanjang sejarah," bunyi ancaman Trump.

Ancaman pemimpin Amerika ini untuk menanggapi pernyataan Rouhani yang mendesak Washington untuk menahan diri dengan tidak memprovokasi Iran.

"Amerika harus memahami dengan baik bahwa perdamaian dengan Iran adalah ibu dari semua perdamaian, dan perang dengan Iran adalah ibu dari semua perang," kata Rouhani. "Itu hanya akan menyebabkan penyesalan," katanya lagi.

Beberapa hari lalu, media Australia, ABC, mengutip pejabat Perdana Menteri Malcolm Turnbull memprediksi bahwa AS akan menyerang Iran bulan depan. Namun, prediksi itu dibantah Turnbull.

Menteri Pertahanan AS James Norman Mattis meyakinkan para wartawan bahwa AS tidak memiliki kebijakan untuk mengubah rezim di Iran. Dia mengecam laporan spekulasi media Australia yang dia sebut sebagai "fiksi".

Kode:47
Sumber:sindonews.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...