Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Camat Syiah Utama:

Semua Pihak Harus Berpikir Jernih Terhadap Kondisi Samar Kilang

SAMSUDINCamat Kecamatan Syiah Utama, Khalisuddin
A A A

BENER MERIAH – Sejak Indonesia merdeka masyarakat Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama mendambakan akses jalan utama mereka dibangun selayaknya seperti wilayah lain.

Wilayah paling ujung di Kabupaten Penghasil Kopi Arabika itu, kurang lebih 40 kilo meter dari kota Pondok Baru Kecamatan Bandar hingga hari ini sepanjang 8 kilo meter belum tersentuh pembangunan akibatnya dikala musim penghujan masyarakat yang melintasi daerah tersebut harus berjibaku dan ekstra hati-hati untuk melintas mengunakan sepeda motor atau mobil karena resiko kecelakan dan kerusakan sepada motor mereka cukup tinggi dengan konsisi jalan seperti saat ini.

Baru saja, masyarakat disana akan menyambut riang program pembangunan peningkatan jalan tersebut secara proyek Multy Years yang bersumber dari Otsus tiba-tiba harus menerima info yang tidak pernah mereka harapkan yakni keinginan kuat DPRA membatalkan proyek tahun jamak itu.

Menyikapi hal tersebut, Camat Kecamatan Syiah Utama, Khalisuddin kepada awak media menyampaikan, melihat dari penambahan aspal sepanjang 8 kilometer pada tahun 2019 menjadi setimulius (rangsangan) bagi masyarakat yang disana memulai usaha yang sedang dijalani seperti usaha pertanian, budidaya jagung bahkan di beberapa kampung Di Kacamatan Syiah Utama sudah menjadikan sentral produksi di Bener Meriah seperti di Kampung Tembolon dan Rusip.

Kata Khalisuddin, saat ini hasil perkebunan disana juga sudah mulai bergairah, karena masyarakat telah merawat kembali kebun mereka sebab jarak tempuh dan tidak terlalu berat lagi dila dibandingkan dengan sebelumnya karena sepanjang 16 kilometer lagi jalan menuju Samar Kilang belum diaspal tetapi sudah mendapat pengerasan sepanjang 8 kilometer namun yang separuh tersebut sangat rusak parah yang berimbas pada pemasaran hasil-hasil pertanian dan perkebunan masyarakat Syiah Utama.

“Selain itu, sektor wisata allhamdulilah di Kecamatan Syiah Utama lagi bergairah seperti Tirta khususnya panorama hutan yang masih bisa dinikmati dan sebenarnya tidak terlalu jauh dari Kota Pondok Baru Kecamatan Bandar ke Syiah Utma diperkirakan hanya sepanjang 40 kilo meter," terang Camat Khalisuddin.

Menurut Khalisuddin, jika semua jalan menuju Samar Kilang sudah diaspal hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam dari Pondok baru kesana, jadi seluruh hasil pertaniaan, perkebunan, sudah bisa diangkut ke Pondok baru.

Untuk itu, Khalisuddin berharap kepada semua pihak untuk berpikir jernih untuk memahami persoaalan ini betul-betul dari bawah, sebab akses jalan yang rusak sangat menganggu infrastruktur dari instansi-instansi yang akan dibangun di sana seperti dari Kementrian Agama karena biayanya terlalu tinggi.

Diterangkan Khalisuddin, kemudian persoalan jembatan disana juga bermasalah, karena sebenarnya sentral produksi pertanian dan perkebunan mereka adalah di kampung yang dulu di tinggalkan bukan tidak disengaja tapi ditinggalkan segaja karena aspek keamanan pada konflik tahun 2002 seluruh Kampung di Samar Kilang di kumpulkan disuatu komplek.

Alhasil, harta benda yang mereka diami sejak zaman-zaman itu seperti sawah, rumah dan lain-lainnya jadi terbengakalai. Sementara untuk kembali rasanya cukup berat karena Jembatan dan sarana jalan ke lokaski sangat tinggi kosnya .

"Coba bayangkan ibu-ibu panen padi darat , dimana disana ada kelompok janda-janda yang bertani mereka jaga siang dan malam ternyata separuh hasil pertanianya harus menjadi ongkos untuk melansir atau memobilisasi karena harus manual mulai dari digotong atau dipikul kemudian baru naik sepeda motor baru sampai kerumahnya," beber Khalisuddin.

Dengan kondisi seperti itu, sambung Khalisuddin, kita bukan membilang lebih baik dimasa penjajahan tapi kenyataanya saya lihat ia seperti itu, jadi kami juga selaku pemerintah jadi kurang pede bertugas, karena nyata-nyata sudah dibutuhkan tapi tidak terialisasi, sudah didepan mata ternyata ada yang Cut ( potong ) proyek peningkatan pembangunan jalan disana. Sehingga kami cukup sulit menjelaskan pada masyarakat.

Selain itu, menyangkut tentang ilegal loging dengan majunya pariwisata ini akan berhenti secara sendiri karena dengan insfarstruktur jalan sudah terbangun sendiri tentu mereka (pelaku ilegal loging ) tidak mau berisiko dengan hukum dan ini sudah dimulai.

Sementara hal-hal lain yang terjadi, ada warga yang sakit dan ada juga yang sempat melahirkan ditengah jalan akibat akses jalan yang sulit dilalui kendaraan dari Samar Kilang ke Rumah Sakit, untuk itu, dia meminta kepada pihak-pihak lain agar berpikir jernih jangan hanya mementingkan kepentingan kelompok-kelompok dari pada kepentingan masyarakat banyak.

"Olehnya kami berharap jangan sempat terjadi pembatalan proyek peningkatan jalan Multy Years itu, dan kami percaya Pemerintah Aceh semua elemen yang menangani semua persoalan di Aceh," pungkasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...