Anggota DPR Aceh HT Ibrahim ST MM meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk menunda melakukan penataan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh untuk sementara waktu. Ini disampaikan Ibrahim setelah mendengar keluhan dari masyarakat yang selama ini bergantung hidup di daerah tersebut. "Apalagi saat ini, sama-sama kita ketahui sedang Pandemi COVID-19 yang membuat ekonomi masyarakat terpuruk," kata Pria yang akrab disapa Ampon Bram, Kamis (22/10/2020).

Sekolah di Aceh Utara Segera Berlakukan Belajar Tatap Muka

SAID AQIL AL MUNAWARKadis Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Saifullah,M.Pd
A A A

ACEH UTARA - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara akan berlakukan Proses Belajar dan Mengajar (PBM) bagi siswa di sekolah secara Tatap Muka. PMB tersebut direncanakan paling cepat pada akhir bulan Agustus, dan Paling Lambat pada pertengahan September.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Razali MPd kepada acehimage.com. Selasa (25/08/2020).

"Sesuai dengan surat ederan baru dari empat Menteri -menteri, disitu disebutkan bahwa di daerah Zona kuning dan Zona hijau, sekolah boleh melakukan proses belajar secara tatap muka, tentunya harus mengikuti sesuai protokol COVID-19 yang telah di tentukan Pemerintah,"ujarnya.

Ia menjeslakan, berhubung Kabupaten Aceh Utara sebagai daerah Zona Kuning sesuai yang disebut dalam Surat ederan menteri dengan ketentuan setiap wali murid harus memberikan izin untuk Pembelajaran~ secara tatap muka.

"Namun, dari dulu kita sudah lakukan inventarisir izin sekolah dari orang tua siswa. Rata- rata orang tua menyetujui izin sekolah tatap muka, maka untuk proses selanjutnya kita sedang meminta izin persetujuan belajar dari tim gugus tugas COVID-19 Aceh utara, jika izin sudah keluar maka pada awal September atau di akhir Agustus ini belajar tatap muka akan diberlakukan,"terangya.

Razali optimis PMB di Aceh Utara Akan segera diberlakukan, karena tim gugus tugas juga akan melihat peraturannya, sesuai surat ederan bersama empat menteri tersebut zona hijau dan zona kuning diperbolehkan belajar secara tatap muka.

"Tentunya pemberlakuaan belajar tatap muka ini tetap mengikuti protokol COVID-19, prosedurnya di setiap sekolah harus menyediakan tempat cuci tangan memakai masker dan setiap guru dan siswa saat masuk harus dilakukan pemeriksaan Suhu tubuh dulu,"terangnya.

Disamping itu, Razali menjelaskan, adapun tentang metode pembelajaran secara tatap muka, siswa dalam satu ruangan kelas maksimal sebannyak 18 orang. Apabila sekolah kekurangan ruang kelas dapat diatur jadwal shift.

"Kita juga akan terapkan Pysical Distancing, dengan jarak kursi satu meter, kalo misalnya belajar biasa dalam satu ruangan rata- rata siswa minimal 28 orang, maka dengan penerapan ini jika sekolah ada yang tidak cukup ruang dapat diatur ship, apakah sebagian belajar pagi atau siang tentunya itu dapat disesuaikan masing -masing sekolah nantinya,"kata Razali.

Pembelajaran dimasa pandemi COVID- 19 ini dilaksanakan secara terbatas karena dalam surat ederan 4 menteri tidak diwajibkan menutaskan semua kurikulum.

"Kalo misalnya di hari biasa kita belajar menghabiskan selama 5 jam, ini hanya 2 atau 3 jam saja. Namun mata pembelajaranya tetap seperti biasa, kalo ada mata pembelajaran yang terpotong akibat pembagian shift tadi, maka ini disiasati oleh guru bagaimana memberikan tugas-tugas dikerjakan dirumah tentang pelajaran yang tinggal disekolah tadi akibat pembagian Shift ini,"pungkas Razali.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...