Kongkalikong RAPBA 2018,

Samsul Bahri: Irwan Djohan Mendiskreditkan Anggota DPRA

FOTO | ISTIMEWASamsul Bahri alias Tiyong
A A A

Tudingan tersebut juga merendahkan marwah dan citra DPRA secara kelembagaan. Hal ini juga bentuk serangan atas Pemerintah Aceh yang seakan-akan telah berkomplot dengan DPRA,

Samsul Bahri alias Tiyong Anggota Komisi IV DPRA

BANDA ACEH - Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Samsul Bahri alias Tiyong, menyesalkan pernyataan Wakil Ketua DPRA, Teuku Irwan Djohan terkait tudingan bahwa pembahasan RAPBA 2018 terlambat karena tidak ada lagi kong kalikong antara eksekutif dan legislatif.

Tiyong menilai pernyataan itu dapat menimbulkan mispersepsi dan kesalahpahaman di mata publik. Pernyataan itu secara tidak langsung telah mendiskreditkan dan merendahkan martabat anggota DPRA lainnya.

"Tudingan tersebut juga merendahkan marwah dan citra DPRA secara kelembagaan. Hal ini juga bentuk serangan atas Pemerintah Aceh yang seakan-akan telah berkomplot dengan DPRA," katanya.

Menurut Tiyong, selama ini anggota dewan telah banyak juga melakukan tugas dan fungsi dewan lainnya yang layak diapresiasi oleh masyarakat.

"Dengan pernyataan saudara Irwan ini, masyarakat akan beranggapan anggota dewan hanya fokus mengurusi kepentingan pribadi," jelas Tiyong.

Tiyong menambahkan, kalau memang selama ini saudara Irwan Djohan menemukan indikasi kongkalikong, sudah seharusnya sebagai salah satu pimpinan DPRA, ia berdiri paling depan untuk menentangnya.

"Tetapi selama tiga tahun keberadaannya di DPRA kita tidak pernah mendengar beliau mengungkapnya. Hal ini tentu jadi tanda tanya. Apakah selama ini saudara Irwan telah ikut terlibat untuk berkomplot dalam melakukan suatu permufakatan jahat sebagaimana tudingannya tersebut?," kata Tiyong mempertanyakan.

Politisi PNA itu menyesalkan pernyataan yang terkesan provokatif dan spekulatif tersebut. Kata dia, apa yang disampaikan Irwan Djohan hanya akan memperkeruh suasana, di tengah harapan agar DPRA dan TAPA dapat segera menyepakati RAPBA bulan.

Hal ini sangat kontraproduktif dengan semangat kebersamaan antara TAPA dan DPRA sebelumnya agar APBA dapat disahkan melalui Qanun.

"Dugaan saya tindakan saudara Irwan hanya sebagai bentuk pencitraan personal di depan publik. Selama ini yang bersangkutan telah beberapa kali membangun panggung pencitraan untuk dirinya sendiri di saat DPRA mendapat cibiran dari masyarakat," katanya.

Harusnya sebagai pimpinan kata Tiyong, Irwan Djohan adakah yang paling bertanggung jawab untuk membangun citra positif lembaga DPRA. Bukan justru meruntuhkan harkat dan wibawa lembaga.

"Dia ingin jadi pahlawan, yang lain jadi pecundang. Inikan tidak benar. Saya mengimbau saudara Irwan untuk berhenti mengeluarkan statement yang dapat menimbulkan polemik di tengah publik," tambah Tiyong.

Menurutnya semua harus fokus mengawal pembahasan RAPBA sehingga dapat disahkan secepat mungkin. Itu yang di tunggu-tunggu oleh rakyat. Pernyataan yang bersifat politik citra, tidak akan bikin rakyat kenyang.

"Kita juga mengimbau seluruh stakeholder yang terlibat dalam proses pengesahan APBA agar benar-benar fokus dan berkomitmen untuk segera menyelesaikannya," lanjutnya.

Dia ingin jadi pahlawan, yang lain jadi pecundang. Inikan tidak benar. Saya mengimbau saudara Irwan untuk berhenti mengeluarkan statement yang dapat menimbulkan polemik di tengah publik,
Kode:47
Sumber:Rilis
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...