Jangan Sembarangan Donor ASI,

Risikonya Sangat Fatal untuk Bayi

FOTO | ISTIMEWAIlustrasi
A A A

Jadi, tidak semudah itu memberikan donor ASI. Belum lagi bicara penyimpanan dan idealnya pengiriman harus diperlakukan seperti darah, yaitu disimpan dalam kotak pendingin khusus dan petugas pengelolanya menggunakan alat pelindung diri,

dr Yohmi

DONOR ASI di Indonesia sudah berjalan ke arah yang tidak terkendali. Era media sosial membuat komunikasi antara pendonor dan penerima ASI semakin mudah. Sering pencarian donor ASI beredar di grup-grup pesan instan atau media pertemanan sosial.

Seperti Diana Yunita Sari, ibu yang baru melahirkan sekitar enam bulan lalu merasakan bagaimana dia mudah sekali mendapatkan donor ASI. Diana melahirkan prematur di usia kehamilan 34 minggu dan harus langsung masuk ICU karena kondisi kesehatannya menurun.

Begitu dia mengunggah di media sosial, tidak lama datang tawaran ASI donor. Dokter perinatologi yang merawat bayi Diana sempat memberikan ASI donor, tetapi muncul reaksi bayi yang tidak diharapkan. “Akhirnya ASI donor tidak jadi diberikan,” ucap Diana.

Donor ASI memiliki keuntungan dan kerugian. Sebagai alternatif makanan bayi, ASI donor memang terbaik karena paling bisa ditoleransi. Tetapi, ada pula kerugiannya.

“Meskipun ASI itu adalah susu, ia sebenarnya adalah produk darah yang dapat mentransfer berbagai penyakit. Kasus yang paling sering ditemui adalah penularan virus CMV, hepatitis B dan C, dan HTLV (virus pemicu leukemia dan limfoma),” ungkap Ketua Satgas ASI IDAI dr Elizabeth Yohmi SpA IBCLC dalam acara Media Aturan Main Donor ASI.

Ilustrasi

Karena itu, tidak sembarangan mendonor ASI. Bahkan, Badan Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tidak merekomendasikan ASI donor tanpa didahului skrining. Skrining atau penapisan tidak hanya dilakukan pada ASI, tetapi pada ibu yang memproduksi ASI.

Jadi, sebelum mendonorkan ASI, ada serangkaian skrining yang harus dilakukan. Skrining ini dapat berupa pemeriksaan secara lisan (wawancara) atau tertulis, dilanjutkan skrining laboratorium.

Pertanyaan meliputi apakah ibu menerima transfusi dalam 12 bulan terakhir, apakah minum alkohol, sedang minum obat hormonal, dan apakah seorang vegetarian yang akan berdampak pada kualitas ASI. Pemeriksaan laboratorium untuk skrining hepatitis dan HIV sudah dapat dilakukan di sini dengan mudah. Sayangnya, pemeriksaan HTLV belum ada di Indonesia.

Selesai sampai di sini? Belum. Jika pun hasil skrining ibu terbukti sehat, dia masih belum layak menjadi donor. ASI donor harus diperas dan disimpan dengan cara yang benar, bahkan dipasturisasi.

Ilustrasi

“Jadi, tidak semudah itu memberikan donor ASI. Belum lagi bicara penyimpanan dan idealnya pengiriman harus diperlakukan seperti darah, yaitu disimpan dalam kotak pendingin khusus dan petugas pengelolanya menggunakan alat pelindung diri,” tutur dr Yohmi. Sayangnya, hal ini tidak banyak diketahui masyarakat, bahkan tenaga medis.

Seperti pengalaman Pradaningrum Mijarto, konsultan heritage . Kebetulan adiknya yang baru melahirkan meninggal dunia sehingga dia bertanggung jawab mengurus keponakannya yang kini sudah 3,5 tahun.

Perawat menganjurkan mencari donor ASI. Tanpa bekal informasi yang cukup, dia pasrah saja menerima ASI donor. Dani kebetulan beragama nasrani dan bayinya laki-laki. Tetapi, dia menerima donor ASI dari ibu yang muslim dan bayinya perempuan.

“Saya tidak tahu bahwa seharusnya donor ASI diberikan jika jenis kelamin anak sama. Tetapi, si ibu itu bilang tidak apa-apa dan justru dialah yang menjadi donor utama sampai 9 bulan,” kata Dani.

Dr Yohmi mengatakan, pembentukan bank ASI di Indonesia masih terhambat persolan peraturan (terutama muslim), dana (untuk skrining), dan fasilitas penyimpanan ASI.

Edukasi paling penting adalah mengajak ibu hamil mempersiapkan proses pemberian ASI sejak dini, antara lain dengan mengikuti kelas laktasi minimal dua kali selama kehamilan.

“Ibu-ibu saat ini sudah sangat sadar untuk memberikan ASI kepada bayinya. Sayangnya, dengan mudahnya mendapatkan tawaran donor ASI, mereka jadi tidak mau berusaha memeras atau menyusui sendiri,” pungkas dr Yohmi.

Ketua Satgas ASI IDAI dr Elizabeth Yohmi SpA IBCLC mengatakan, ASI terbaik adalah ASI dari ibu ke anaknya sendiri karena tubuh ibu memproduksi ASI dengan komposisi menyesuaikan kondisi bayinya, apakah lahir matur atau prematur.

Indikasi donor ASI di antaranya jika bayi lahir prematur dan ibu belum siap memproduksi ASI, kemudian bayi yang memiliki sindroma kelainan penyerapan usus, yang tidak dapat diberikan susu formula, serta bayi dengan alergi protein susu sapi yang berat.

Namun, dia menegaskan agar tidak sembarangan mendonor atau menerima donor ASI. Sebab, hal ini justru bisa mendatangkan penyakit bagi si kecil. Karena itu, skrining atau pemeriksaan lebih lanjut sangat dianjurkan guna mengetahui apakah ASI layak didonorkan.

Tidak main-main, ini berkaitan dengan penularan HIV. Data terbaru HIV di Indonesia menunjukkan tren kenaikan. Kasus HIV tertinggi ketiga adalah pada kelompok ibu rumah tangga.

Umumnya ibu rumah tangga ini tertular dari suami dan belum tentu dia menyadari terinfeksi HIV. Bisa dibayangkan jika mereka menjadi pendonor ASI, tentu akan menularkannya kepada bayi-bayi lain.

Ibu-ibu saat ini sudah sangat sadar untuk memberikan ASI kepada bayinya. Sayangnya, dengan mudahnya mendapatkan tawaran donor ASI, mereka jadi tidak mau berusaha memeras atau menyusui sendiri,
Kode:47
Sumber:okezone.com
Rubrik:Kesehatan

Komentar

Loading...