Jalan akses menuju Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama, Kubupaten Bener Meriah lumpuh total akibat longsor dan pohon tumbang.“Mungkin kejadianya tadi malam, soalnya kemaren sore anggota saya pulang jalannya masih baik-baik saja," ungkapnya. Munurut Mustakim, longsor tersebut menimpa separuh badan jalan dengan panjang mencapai 17 meter, namun pohon-pohon dari atasnya tumbang dan menutup badan jalan sehingga jalan tersebut tidak dapat dilalui untuk saat ini.

Reje Buka Suara Terkait Pengrusakan Kantor

SAMSUDINReje Kampung Kute Kering Riduansyah
A A A

BENER MERIAH -- Reje Kampung Kute Kering Riduansyah akhirnya buka suara terkait insiden pengrusakan kantor Reje (kepala) Kampung oleh sejumlah warga di desa tersebut.

Peristiwa tidak elok itu diduga akibat belum terelisasinya Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan ketahanan pangan. Warga yang melakukan aksi di kantor reje pada Senin (1/6) kemarin didominasi oleh kaum ibu-ibu.

Para emak-emak tersulut emosi menagku akibat Reje Kampung Kute Kering memukul meja saat ditanya warga terkait BLT dan ketahanan pangan.

Reje Kampung Kute Kering, Riduansyah saat dikonfirmasi mengakui dia sempat emosi dan memukul meja. Menurut Riduan, masyarakat yang datang menuntut dana BLT, sedangkan untuk BLT harus memiliki 14 kretria yang harus dipenuhi untuk disalurkan. Kemudian ada peraturan baru dari 14 menjadi tujuh kriteria penerima.

Baca juga:Masyarakat Kampung Kute Kering Hancurkan Kantor Reje

"Terakhir lagi keluar peraturan dari 7 tinggal 3 kretria yang berhak menerima dan itu saya jelaskan semua kepada masyarakat. Namun, setelah saya menjelaskan masyarakat tidak menerima, dan kenapa mereka tidak mau menerima penjelasan saya rupanya yang dimaksud bukanlah dana BLT tetapi dana ketahanan pangan,"terang Riduansyah kepada acehimage.com, Selasa (2/6/2020).

Itu sebabnya dia (reje) merasa tersinggung ketika sudah diberikan penjelasan kepda masyarakat, namun mareka tidak menggubris terkait penjelasan yang telah dipaparkan.

“Jadi saya bingung karena diminta keterangan BLT sudah saya jelaskan mereka tidak menerima rupanya yang mereka maksud adalah dana ketahanan pangan, baru paham saya ada salah satu warga menjelaskan kepada saya bahwa yang diminta ada keterangan terkait dana ketahanan pangan bukan BLT," tambah Riduan.

Namun, terkait belum disalurkan dana ketahanan pangan di desanya, Riduan menuturkan, Juknis dan juklisnya belum selesai jadi belum mengetahui terkait aturan yang menjadi pegangan dasar oleh pihak desa.

“Kami sebagai kepala desa patuh peraturan, terjerat peraturan nanti, begitu kami melakukan kebijakan berarti kami harus melawan peraturan saya terpikir kebijakan itu lemah dari pada peraturan," papar Riduan

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...