Serie A 2016/2017:

Persaingan Seru di Zona Liga Europa dan Degradasi

FOTO | REUTERSJuventus sang juara Serie A
A A A

JAKARTA - Serie A 2016/2017 akhirnya selesai dan gelar scudetto kembali hinggap di tangan Juventus atas 91 poin yang dimilikinya. Gelar yang diraih musim ini merupakan scudetto keenam secara beruntun. Tapi superioritas Juventus itulah yang justru menjadi Serie-A musim ini kembali dianggap membosankan atas dominasinya.

Sementara Serie-A lagi-lagi justru ramai di perebutan kursi-kursi susulan Liga Champions maupun Liga Europa. Sedangkan di zona degradasi seru pada garis akhir jelang selesainya Serie-A 2016/2017.

Lagi-lagi Cuma Ketat di Zona Liga Europa
Tidak perlu berpikir panjang jika memperkirakan Juventus akan juara lagi pada musim ini. Benak itu sudah muncul sejak melihat aktivitas transfer pada bursa musim panas 2016, ketika Juventus mencomot pemain-pemain penting kesebelasan pesaingnya, yaitu Roma dan Napoli. Dari Roma, Juventus berhasil membajak Miralem Pjanic yang merupakan playmaker dan eksekutor tendangan bebas kesebelasan tersebut. Sementara dari Napoli, Juventus mengambil mesin gol Gonzalo Higuain. Tentu saja transfer-transfer itu melemahkan Roma dan Napoli yang notabene adalah pesaing langsung dalam perebutan scudetto musim sebelumnya.

Bursa transfer Juventus juga diperkuat dengan kedatangan Dani Alves, Mehdi Benatia, Marko Pjaca, dan Juan Cuadrado, ditambah Tomas Rincon pada Januari 2017. Kedatangan-kedatangan mereka membuat Juventus tetap kuat, dengan skuat yang kian dalam walau ditinggal Alvaro Morata, Hernanes, Paul Pogba, Patrice Evra, Roberto Pereyra, dan Simone Zaza pada awal musim. Dan transfer musim panas 2016 itu bisa dibilang sebagai strategi belanja terbaik Giuseppe Marotta, CEO dan Direktur Olahraga Juventus sejak 2010.

Buktinya, selain meraih gelar scudetto, Juventus juga berhasil merebut Coppa Italia 2016/2017. Mereka kini juga sedang menunggu hari sampai di Cardiff untuk menjalani pertandingan final Liga Champions musim ini melawan Real Madrid. Jika mampu menang pada Minggu (4/6) dinihari WIB, lengkaplah sudah keinginan Juventus meraih treble seperti yang pernah dilakukan Internazionale Milan pada musim 2009/2010. Juventus saat ini memang merupakan penyelamat sekaligus bumerang bagi Liga Italia.

Pencapaian Juventus di Liga Champions bisa dibilang menyelamatkan wajah sepakbola Italia yang tenggelam sejak 2010 -- melangkah ke final mengulang pada 2015 lalu. Sementara pencapaiannya itu juga menjadi bumerang atas kualitas kompetisi Serie A itu sendiri. Karena lagi-lagi Serie A hanya ramai di perebutan kursi susulan kompetisi Eropa saja.

Roma dan Napoli yang sejak awal musim terus berambisi menjadi juara Serie A, pada akhirnya harus berjuang cuma untuk menjadi runner-up agar lolos langsung ke Liga Champions musim depan. Menempati peringkat tiga otomatis wajib menjalani partai kualifikasi dan jalur kemenangan melalui fase itu sedang buruk bagi kesebelasan Italia dalam beberapa waktu terakhir ini. Musim ini saja Roma harus disingkirkan FC Porto saat partai kualifikasi sehingga harus puas sekadar berlaga di Liga Eropa. Nasib seperti Roma juga pernah dirasakan SS Lazio ketika menjalani kualifikasi Liga Champions 2015/2016.

Kejutan dari Bergamo
Pertarungan yang justru sengit terjadi pada papan tengah Serie A musim ini. Setidaknya lima kesebelasan saling memperebutkan kursi Liga Eropa 2017/2018, yaitu AC Milan, Atalanta, Fiorentina, Internazionale Milan dan Lazio. Sampai pada akhirnya secara mengejutkan Atalanta yang berhasil meraih kursi pertama Liga Europa karena menempati peringkat empat dan disusul Lazio yang berada di bawahnya. Sementara Milan bisa saja menyusul jika mampu melewati fase kualifikasi Liga Europa 2017/2018.

Milan sendiri kelimpahan jatah Liga Europa mengingat juara Coppa Italia, Juventus, telah menembus Liga Champions lewat posisi akhirnya di papan klasemen Serie A. Di sisi lain, Inter dan Fiorentina hanya bisa gigit jari melihat kebangkitan Atalanta, Lazio dan Milan itu sendiri.

Pelatih Atalanta Gien Piero Gasperini pernah mengatakan bahwa terjadi kesenjangan besar mendominasi sepakbola Italia. "Ketika saya berada di Genoa, Preziosi mengatakan kepada saya bahwa ia harus menjual pemain karena ada kebutuhan yang mendasar dari anggaran. Itu pada bulan Juni, itu diperlukan untuk membayar gaji. Itu suatu keharusan dan saya dengan berat hati harus mengerti. Di Bergamo malah telah mengungkapkan kesenjangan yang besar mendominasi sepakbola Italia," imbuhnya.

"Bagaimana bisa Atalanta, misalnya, menolak tawaran penting seperti Roberto Gagliardini yang telah memainkan 10-11 pertandingan? Angka tertentu membantu memastikan kelangsungan, jika tidak yang lain akan lebih sulit," sambung Gasperini.

Tapi pada akhirnya, Gasperini di Atalanta berhasil menembus kesenjangan itu sendiri pada musim ini. Atalanta mengakhiri musim di peringkat empat dan menembus Liga Europa 2017/2018 merupakan hal di luar dugaan. Mereka juga sanggup mengalahkan Inter dan Napoli serta menahan imbang Milan, Roma, Fiorentina dan Juventus pada musim ini. Padahal pada musim-musim sebelumnya, Atalanta sering menjadi bulan-bulanan kesebelasan-kesebelasan tersebut.

Beberapa musim sebelumnya, Atalanta justru lebih sering berkutat di papan bawah untuk menghindari zona degradasi, atau mencari zona aman di papan tengah. Tapi pada musim ini, secara mengejutkan Atalanta berakhir di peringkat empat dengan pemain alakadarnya yang didominasi darah-darah muda. Bahkan mereka pun kehilangan Roberto Gagliardini karena direkrut Inter pada bursa transfer Januari 2017 lalu. Tapi Atalanta masih memiliki bakat muda hebat lainnya seperti Alberto Grassi, Andrea Conti, Andrea Petagna, Bryan Cristante, Franck Kessie, Leonardo Spinazzola, Mattia Caldara, dan lainnya.

Pemain-pemain muda itu dikombinasikan dengan seniornya seperti Andrea Gomez dan Rafael Toloi. Juga pemain-pemain baru yang direkrut pada bursa transfer musim panas lalu seperti Abdoulay Konko, Alberto Paloschi, Ervin Zukanovic, serta Etrit Berisha. Ditambah dengan permainan agresif yang diterapkan Gasperini, perpaduan klub dari Bergamo itu berhasil menjadi warna lain dalam dominasi yang ada di Serie A.

Jurang bagi Empoli dan Palermo
Palermo memang tidak seperti musim-musim sebelumnya dalam memecat pelatihnya. Hanya tiga kali pergantian pelatih yang terjadi di Serie A 2016/2017, yaitu Roberto De Zerbi kepada Corini, kemudian berganti kepada Diego Lopez, sampai pada akhirnya Diego Bortoluzii menjadi caretaker sampai selesainya musim ini. Kendati melakukan tiga kali pergantian, nyatanya Palermo tetap saja tidak bisa selamat dari degradasi ke Serie B 2017/2018. Lagipula sulit jika hanya bergantung kepada Alessandro Diamanti yang sudah 34 tahun.

Akhirnya, Palermo mengakhiri musim di peringkat 19 dengan raihan 26 poin, menemani Pescara yang sudah lebih dulu dipastikan turun divisi. Kemudian Empoli secara mengejutkan menyusul Palermo dan Pescara yang degradasi. Padahal Empoli berada di atas jurang degradasi pada beberapa giornata Serie A 2016/2017 sebelumnya. Bahkan Empoli cukup kuat bertarung di papan tengah Serie-A selama dua musim sebelumnya. Tapi pada musim ini, Empoli harus jatuh ke jurang degradasi di pekan akhir Serie A 2016/2017.

Penentuannya adalah pertandingan giornata ke-38 pada akhir pekan lalu. Empoli yang melawan Palermo, bersamaan dengan pertandingan Crotone menghadapi Lazio. Empoli masih menempati peringkat 17 pada waktu itu, di atas Crotone yang berada di zona degradasi.

Mungkin pada laga tersebut Empoli agak santai karena menghadapi Palermo yang sudah pasti terdegradasi, sementara Crotone menghadapi Lazio yang lebih sulit.

Namun pada kenyataannya Empoli justru kalah dari Palermo dengan skor 2-1. Sementara tidak terduga Crotne mampu mengalahkan Lazio dengan skor 3-1. Alhasil, Crotone mampu membanting Empoli ke peringkat 18 di zona degradasi. Sementara Crotone menyalip posisi Empoli di peringkat 17 dan bisa bernapas lega karena bertahan di Serie-A musim depan. Selain lolos dari degradasi, Crotone juga menciptakan penyerang subur baru di Italia bernama Diego Falcinelli.

***

Serie A 2016/2017 bisa dibilang tak terlalu menarik untuk perebutan gelar juara. Juventus kembali menjadi juara, sebagaimana yang sudah diprediksi banyak pihak pada awal musim. Di bawahnya pun diikuti oleh Napoli dan AS Roma, dua kesebelasan yang memang sering menjadi pengganggu Juventus.

Namun persaingan ketat terjadi di perebutan tiket Liga Europa dan zona degradasi. Penampilan Atalanta musim ini pun menjadi rangkuman yang paling menarik dari Serie A 2016/2017. Sementara itu, cerita Crotone yang selamat dari jurang degradasi pada pekan terakhir pun menjadi cerita tersendiri.

Kode:47
Sumber:sport.detik.com
Rubrik:Bola

Komentar

Loading...