Permasalahan Sampah Kabupaten Aceh Singkil Harus Segera Diselesaikan dan Dituntaskan

Marhaban Lingga.
A A A

Saat ini pelayanan dan pengelolaan persampahan di Aceh Singkil hanya diprioritaskan untuk daerah yang mudah dijangkau oleh Truk pengangkut sampah, dan penghasil sampah yang tinggi meliputi Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Gunung Meriah, Simpang Kanan dan Suro.

Marhaban Lingga

Permasalahan sampah saat ini masih menjadi kendala di setiap daerah, tak terkecuali daerah Aceh Singkil yang masih mengalami persoalan dalam persampahan.

Kabupaten Aceh Singkil memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berlokasi di Kampung Baru Kecamatan Singkil Utara, dengan luas area lahan TPA 6 (H) dan muatan kapasitas TPA 76,797 (m³). Berdasarkan Data dari Diriktoral Cipta Karya sampah masuk kedalam TPA Kampung Baru berkisar antara 3,072 Ton, yang bersumber dari hasil kegiatan rumah tangga, pasar, perkantoran, tempat wisata dan lain sebagainya.

Saat ini pelayanan dan pengelolaan persampahan di Aceh Singkil hanya diprioritaskan untuk daerah yang mudah dijangkau oleh Truk pengangkut sampah, dan penghasil sampah yang tinggi meliputi Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Gunung Meriah, Simpang Kanan dan Suro.

Tingginya sampah yang dihasilkan di setiap daerah Kecamatan tersebut, tidak sebanding dengan sarana prasarana pelengkap dalam pengelolaan persampahan. Jika melihat lembaga yang berwenang dalam menangani masalah persampahan, yaitu pihak pemerintah, juga kurang maksimal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat setempat dan kedatangan truk pengangkut sampah yang tidak tepat waktu, tak jarang membuat banyaknya keluhan di masyarakat karena tumpukan sampah yang telah membusuk dan meluber ke area jalan.

Sampah selalu timbul dan menjadi persoalan rumit dalam lingkungan masyarakat. Padahal sudah jelas diatur dalam Qanun Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan di wilayah Kabupaten Aceh Singkil. Ketidakdisiplinan mengenai kebersihan dapat menciptakan suasana lingkungan yang kumuh sehingga membuat lingkungan tidak asri, dan membuat bau tidak sedap, lalat berterbangan, dan gangguan berbagai macam penyakit siap menghadang di depan mata. Tidak cuma itu, peluang pencemaran lingkungan disertai penurunan kualitas estetika pun akan menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat.

Namun, belakangan ini sering kejadian yang membuat masyarakat menjadi resah dalam persampahan di Aceh Singkil yang masih lambat di atasi dan ditangani oleh Pemerintah setempat, seperti sampah yang masih berserakan diarea Pantai Cemara Indah (PCI) Gosong Telaga, Pasar Harian Desa Lae Butar, Perumahan BRR Singkil dan sampah area lainnya yang masih banyak ditemukan sampah berserakan di bahu jalan, dan yang paling menghebohkan dalam sepekan terakhir ini ialah pembuangan sampah medis yang dilakukan di TPA Kampung Baru diantaranya sampah botol bekas cairan infus, jarum suntik, kain kasa, dan kapas.

Jika melihat kejadian diatas, sampah yang dibuang secara sembarangan tentu sangat berbahaya. Apalagi sampah medis sangat dilarang untuk dibuang ke TPA, hal ini jelas diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MENLHK) Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sehingga sangat berbahaya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Saat ini, sistem pengelolaan sampah Kabupaten Aceh Singkil belum dilakukan secara maksimal, optimal, dan terstruktur dari pembuangan sampah ke kontainainer, Tempat Pembuangan Sementara atau TPS, pengangkutan dan menuju pemrosesan akhir (TPA). Perlu dilakukan, upaya pengelolaan sampah secara paradigma baru di wilayah Aceh Singkil (Kumpul, Pilah, Olah, Angkut, Buang) dan penerapan pola 3R (Reduce, Reuse dan Recycling) mulai dari rumah warga sampai ketingkat yang lebih tinggi. Sehingga saat berada di TPA, sampah bisa di pilah berdasar jenis dan bisa di daur ulang. Pengelola TPA juga mestinya jangan setengah-setengah dalam pengelolaannya.

Bila program ini dilakukan, maka sampah yang dihasilkan di Kabupaten Aceh Singkil akan berkurang dan mengalami penurunan timbunan setiap hari. Sehingga menjadi suatu keuntungan terhadap masyarakat setempat dalam proses mendaur ulang sampah yang menjadi nilai ekonomis dan membuka lapangan pekerjaan terhadap masyarakat sekitar. Pengelolaan sampah dengan baik dapat ditunjukkan dengan pemilahan sampah. Sampah organik dapat kita gunakan sebagai pupuk, sedangkan sampah non organik dapat di daur ulang kembali untuk dijadikan barang baru seperti pot gantungan pintu, bunga hias, gantungan kunci, bunga dan berbagai macam lainnya.

Melalui pembangunan Sustainable Development Goal (SDG) untuk sistem penanganan persampahan perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Agar sistem persampahan dapat selesaikan dan diatasi secara baik. Ini menjadi tugas besar bagi Pemerintah Aceh Singkil di bawah kepemimpinan DulSaza, lebih khusus Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Singkil dalam memperhatikan permasalahan sistem persampahan. Hal terpenting yang perlu difikirkan dan dilaksanakan pemerintah sejak saat ini yaitu, bagaimana sampah bisa terangkut sehingga dapat dikelola dengan baik dan mensosialisasikan serta mengkampayekan kepada masyarakat tentang pengelolaan persampahan secara continue, karena untuk mengubah pola pikir seseorang sangat sulit, lebih-lebih dalam hal pembuangan sampah yang dilakukan setiap hari.

Kemajuan dan kecanggihan teknologi saat ini, harusnya mampu mengatasi persoalan sampah di Aceh Singkil. Mengapa tidak, begitu banyak contoh Kabupaten/Kota yang telah menerapkan pengelolaan persampahan dan berhasil mendapatkan penghargaan Piala Adipura tentang Kebersihan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seperti contoh Kota Banda Aceh. Salah satu Kota yang berada di pusat Provinsi Aceh, dengan pengelolaan sampah terbaik di Indonesia. Maka dari itu pihak instansi terkait harus banyak belajar dan bekerja sama dengan daerah lain yang sudah menerapkan dan melakukan pengelolaan persampahan yang jauh lebih baik dari kita, supaya Aceh Singkil tidak selalu mendapat permasalahan yang terus menerus dialami dan didapatkan dalam beberapa tahun belakangan ini, sehingga Aceh Singkil dapat kembali Asri dan dicintai lingkungan oleh para tamu yang datang saat berkunjung liburan ke daerah tersebut.

*Penulis merupakan Mahasiswa Teknik Lingkungan UIN Ar-Raniry. Asal Kabupaten Aceh Singkil dan Aktif Peduli Terhadap Permasalahan Lingkungan.

Penulis:Marhaban Lingga
Kode:47
Rubrik:Opini

Komentar

Loading...