Penangkapan Pangeran Arab,

Perebutan Takhta Kerajaan?

FOTO | AFPPutra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman.
A A A

Sabtu (4/11) malam lalu Kerajaan Arab Saudi membuat pengumuman heboh tentang penangkapan triliuner dan investor terkemuka Pangeran Alwaleed bin Talal, ditambah 10 pangeran lainnya, empat menteri, dan puluhan mantan menteri.

Operasi penangkapan besar-besaran ini tampaknya merupakan bagian dari upaya konsolidasi kekuasaan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, putra kesayangan dan penasihat utama Raja Salman, menurut sebuah artikel di New York Times, Minggu (5/11).

Putra Mahkota yang baru berusia 32 tahun itu sudah menjadi tokoh dominan di lingkup pembuat kebijakan militer, luar negeri, ekonomi, dan sosial Arab Saudi, sehingga muncul desas-desus adanya perpecahan di keluarga kerajaan.

Di pihak lain, Pangeran Alwaleed, 62, adalah salah satu orang terkaya di dunia dengan saham besar di News Corp, Citigroup, Apple, Twitter, dan banyak perusahaan kelas dunia lainnya. Dia juga menguasai jaringan televisi satelit yang ditonton di negara-negara Arab lainnya.

Raja Salman telah mengeluarkan dekrit tentang pembentukan Komisi Antikorupsi yang punya kewenangan besar dan dipimpin langsung oleh Putra Mahkota, hanya beberapa jam sebelum komisi tersebut memerintahkan penangkapan.

Televisi Al Arabiya menyebutkan bahwa komisi tersebut punya hak untuk menyidik, menangkap, melarang perjalanan, atau membekukan aset siapa saja yang dianggap melakukan korupsi.

Hotel Ritz Carlton di Riyadh, yang secara de facto milik kerajaan, dikosongkan pada Sabtu itu sehingga memicu spekulasi bahwa gedung tersebut akan dipakai menampung para tahanan kerajaan. Bandara khusus untuk pesawat-pesawat pribadi ditutup, diduga untuk mencegah para pengusaha kaya kabur sebelum dilakukan penangkapan lagi.

Amerika
Pangeran Alwaleed diketahui pernah terlibat adu argumen dengan Donald Trump ketika masih menjadi calon presiden AS pada 2015. Pangeran adalah bagian dari kelompok investor yang membeli Plaza Hotel di New York dari Trump, dan juga membeli sebuah yacht mahal darinya.

Sebagai presiden, Trump telah membina hubungan baik dengan Putra Mahkota Mohammed, yang dalam beberapa tahun terakhir makin menancapkan kuku di lembaga-lembaga terpenting kerajaan.

Namun meroketnya karier Putra Mahkota juga menimbulkan perdebatan di tengah warga Arab. Banyak yang memuji visinya, dan juga upayanya untuk mengatasi masalah ekonomi kerajaan dan membuat rencana untuk melepas ketergantungan negara itu dari minyak.

Namun ada juga yang menganggapnya masih terlalu muda dan terlalu haus kekuasaan. Sebagian mengkritik dia karena "melangkahi" saudara-saudaranya yang lebih tua dan mengonsentrasikan kekuasaan hanya di satu cabang keluarga kerajaan.

Sementara itu Alwaleed dikenal sebagai figur yang suka bicara keras soal masalah dalam maupun luar negeri. Pada 2015 dia menyebut Trump sebagai "aib" untuk Partai Republik dan rakyat Amerika.

Sebelum itu, Wali Kota New York, Rudolph W Giuliani menolak bantuan US$ 10 juta dari Alwaleed untuk korban serangan teroris 11 September 2001 karena sang pangeran sering mengkritik kebijakan luar negeri Amerika.

Sebagai triliuner dan pangeran, Alwaleed tentu punya kekuasaan cukup besar, namun dia dinilai sebagai outsider dalam keluarga kerajaan. Bukan pemberontak, namun lebih karena pernyataan-pernyataan dia yang blak-blakan atas berbagai isu. Misalnya, dia mendukung gerakan agar kaum perempuan Arab Saudi diperbolehkan menyetir mobil, jauh sebelum kerajaan secara resmi menyatakan hal tersebut.

Pada 2015, dia berjanji untuk mendonasikan kekayaannya senilai US$ 32 miliar untuk amal setelah dia meninggal nanti. Belum diketahui apakah Komisi Antikorupsi akan menyita aset-asetnya.

Penangkapan para pangeran itu dilakukan beberapa jam setelah Raja Salman mencopot Menteri Urusan Garda Nasional, Pangeran Mutaib bin Abdullah, yang menguasai lapisan ketiga Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Lapisan ketiga inilah yang dinilai masih belum dikuasai oleh Putra Mahkota.

Putra Mahkota Mohammed ditunjuk sebagai menteri pertahanan pada 2015. Awal tahun ini, Raja Salman menyopot Pangeran Mohammed bin Nayef dari jabatan menteri dalam negeri, menempatkannya dalam tahanan rumah, dan memberi kewenangan lebih jauh kepada Putra Mahkota Muhammed untuk memimpin pasukan di Kementerian Dalam Negeri yang bertindak sebagai lapisan kedua Angkatan Bersenjata negara itu.

Sejak itulah muncul desas-desus bahwa Komandan Garda Nasional Pangeran Mutaib di lapisan ketiga Angkatan Bersenjata akan dicopot juga, dan sudah terbukti sekarang. Pangeran Mutaib sebelumnya pernah masuk daftar pewaris takhta kerajaan.

Kode:47
Sumber:beritasatu.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...