Festifal Kanduri Laot 2019

Perahu Naga Bukan Adat Aceh

FOTO | BAYUPerahu Naga
A A A

SABANG - Sultan Ali Riayat Syah, sultan kesembilan pada kesultanan Aceh, pada masa itu berbagai adat di keluarkan dalam satu Qanun, Qanun Al-Asyi yang disebut juga Meukuta Alam dipakai sebagai pedoman oleh kerajaan-kerajaan islam di Asia Tenggara.

Dalam qanun ditetapkan bahwa cap/stempel negara yang tertinggi, yaitu cap sikureueng (stempel sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling ditengah-tengah nama sultan yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang sultan yang memerintah sebelumnya.

Menurut qanun tersebut bahwa delapan orang sultan yang mengelilingnya melambangkan empat dasar hukum (Al-Quran, Al Hadist, Ijma Ulama dan Qiyas) dan empat jenis hukum (Hukum, Adat, Qanun dan Reusam), yang berarti bahwa sultan dikelilingi oleh hukum.

Penggiat adat dan sejarah Aceh mengatakan, tentang kehadiran, Perahu Naga dalam khanduri laot yang digelar di kota Sabang baru baru ini, sangat tidak ada kaitanya dengan kebudayaan Aceh, "lihat dulu asal usulnya kalau berbicara adat. Duanwu Jie atau yang dikenal dengan sebutan festival Peh Cun di kalangan Tionghoa-Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok.

Peh Cun "mendayung perahu" berasal dari Bahasa Hokkian yang dipendekkan dari Pe Leng Cun/Pe Liong Cun Romanisasi: pê-lêng-chûn /pê-liông-chûn, bermakna "mendayung perahu naga". Walaupun perlombaan perahu naga bukan lagi praktik umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini.

Dalam masyarakat Hakka, perayaan Duanwu Jie biasa disebut Tôn-yòng dan festival mendayung perahu naga dinamakan phà liùng sòn. Perayaan sejenis Peh Cun ini juga telah dirayakan oleh suku Yue di selatan Tiongkok pada zaman Dinasti Qin dan Dinasti Han.

Perayaan yang mereka lakukan adalah satu bentuk peringatan dan penghormatan kepada nenek moyang mereka, kemudian setelah terasimilasi secara budaya dengan suku Han yang mayoritas, perayaan ini kemudian berubah dan berkembang menjadi perayaan Peh Cun yang sekarang kita kenal.

Lomba Perahu Naga tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak zaman negara-negara berperang, perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di Tiongkok Daratan, Hong Kong, Taiwan maupun di Amerika Serikat.
Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta dari manca negara, kebanyakan berasal dari Eropa ataupun Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut.

Sedangkan khanduri laot yang dilakukan oleh endatu kita adalah bertujuan mengucapkan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan hasil tangkapan nelayan, jadi secara adat masa itu dilakun syukuran setiap tahunnya, kanduri laot lebih dikedepankan para panglima laot yang melakukannya secara kebersamaan, dengan tujuan dapat terjalin dan memupuk silaturahmi, terjadi perdamaian perdamaian yang di ributkan di laut, sekaligus duek pakat (musyawarah) ulee-ulee teupin (kepala–kepala Teupin) membahas untuk peningkatan bagi para nelayan kedepannya.

Alangkah baiknya kalau berbicara adat, untuk kedepannya utamakan tradisi Aceh, sesuai yang di lakukan endatu dan beliau (seorang dari penggiat adat dan sejarah Aceh red) sangat setuju jika koeh ulee lumoe itu tidak dilakukan.

Laporan:Bayu
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...