Gempa Pidie Jaya

Pengungsi Gempa Pidie Jaya Butuhkan Bahan Bangunan

FOTO | ANTARASuasana ruang kelas yang hancur akibat gempa bumi di SMK Negeri 1 Bandar Baru, Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (10/12). Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan sebanyak 151 sekolah mengalami kerusakan berat dan ringan akibat gempa bumi berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya, Aceh pada Rabu (7/12/2016).
A A A

PIDIE JAYA - Sejumlah pengungsi gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh masih membutuhkan bantuan bahan bangunan untuk mendirikan tempat tinggal yang runtuh.

"Kalau makanan dan minuman, kami sudah dapat Alhamdulillah. Apa yang kami butuh adalah bahan untuk rumah. Rumah sederhana juga tidak apa-apa," kata seorang pengungsi di Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Rukiyah (59) kepada Antara.

Menurut Rukiyah, rumahnya rusak akibat gempa bumi tersebut dan reruntuhan mulai dibersihkan oleh anggota TNI sejak Rabu (14/12).

Saat gempa bumi terjadi, Rukiyah tertimpa kusen pintu dan dibantu oleh menantunya untuk keluar dari rumah.

"Cucu saya patah pahanya, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh. Alhamdulillah sudah membaik," jelas Rukiyah menitikkan air mata.

Saat ini Rukiyah tinggal di tenda pengungsian bersama tiga anaknya.

Sementara itu, sejumlah pengungsi lain di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya berharap bantuan berupa kebutuhan untuk anak balita.

"Kami masih butuh selimut, butuh alas tidur untuk anak-anak. Lalu pampers dan susu balita juga butuh," kata pengungsi bernama Safiah Ahza.

Safiah bersama cucunya yang berumur 3 bulan datang ke posko bantuan di Masjid Al Istiqamah Rhieng untuk mendapatkan bantuan bersamaan dengan kedatangan Presiden Joko Widodo ke posko itu.

Selain itu, Nurhayati Zahra, pengungsi lain di Meureudu mengatakan pengungsi menggunakan selimut untuk menghalangi angin yang masuk dari celah tenda pengungsian pada malam hari.

Nurhayati menjelaskan dirinya mengungsi di halaman Mushala Ringmancang bersama sekitar 120 kepala keluarga lain.

Dia mengatakan kendati rumahnya tidak runtuh, namun keluarganya belum berani tinggal di dalam bangunan karena trauma akan gempa susulan.

"Waktu gempa terjadi, kami lari ke gunung. Televisi jatuh, rak piring jatuh, sudah tidak pikir rumah atau motor," kata Nurhayati.

Ibu dengan anak berusia 6 bulan itu mengatakan dia bersama keluarga melarikan diri ke Gunung Rungkum sejak gempa terjadi hingga sekitar pukul 12.00 WIB karena takut terjadi tsunami usai gempa bumi pada Rabu (7/12) itu.

Sumber:antara
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...