Pemko Subulussalam Benahi Objek Wisata Tahura

FOTO | ISTIMEWAPemerintah Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, mengoptimalkan potensi alam di sepanjang jalan nasional dalam upaya pembenahan objek wisata Taman Hutan Raya (Tahura) di Kecamatan Penanggalan.
A A A

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, mengoptimalkan potensi alam di sepanjang jalan nasional dalam upaya pembenahan objek wisata Taman Hutan Raya (Tahura) di Kecamatan Penanggalan.

Kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Subulussalam, Syafrianda di Subulussalam, Jumat mengatakan, kawasan tersebut akan dilakukan penataan kembali dengan penambahan sejumlah infrastruktur pendukung untuk memperindah lokasi Tahura sebagai tempat tujuan wisata baik baik asing maupun lokal.

"Tahura ini nantinya akan menjadi tujuan destinasi wisata baik asing maupun lokal, kita Subulussalam kaya dengan kayu kapur, potensi ini yang sedang kita optimalkan," katanya.

Ia mengatakan Tahura tidak hanya sebagai lokasi wisata saja, namun juga bisa dijadikan tempat penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, pariwisata, budaya dan lokasi rekreasi.

Selain kayu kapur, di kawasan tersebut juga terdapat kayu damar dan meranti serta sejumlah kayu lainnya. Pohon-pohon kayu tersebut terlihat berjejer di sisi kiri dan kanan gunung di jalan lintas Subulussalam-Medan.

Banyaknya pohon-pohon kayu rindang di kawasan itu, menyebabkan kondisi cuaca terasa dingin dan sejuk. Hal ini memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang melintasi kawasan Tahura tersebut, ujar dia.

Syafrianda menjelaskan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.941/Menhut-II/2013 tertanggal 23 Desember 2013 disebutkan luas Tahura Subulussalam mencapai 1.486 hektare yang terletak di Kecamatan Penanggalan Desa Jontor dan Lae Ikan.

"Dalam waktu dekat nama Tahura Subulussalam akan diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta," katanya.

Ia memaparkan pembangunan jangka panjang di lokasi Tahura Subulussalam seperti pengelolaan secara makro bersifat indikatif disusun berdasarkan kajian aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya.

Sedangkan rencana pembangunan jangka pendek, kata Syafrianda seperti perencanaan, perlindungan hutan, pengawasan dan pemanfaatan.

Ia menekankan bahwa Tahura Subulussalam telah memiliki master plan pembangunan fasilitas di daerah itu, seperti infrastruktur visitor center, guest house, shelter, menara pandang, jalan treal, coservation response unit (CRU) gajah, lokasi out bond, bumi perkemahan dan sejumlah fasilitas lainnya.

"Yang kita jual adalah keindahan hutan, ini bisa menjadi PAD Subulussalam. Semoga ini nanti bisa terealisasi. Sumber anggaran kami upaya dari APBN," katanya.

Sumber:ANTARA
Rubrik:Travel

Komentar

Loading...