Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Harga Anjlok

Pemerintah Diminta Alokasikan Dana Talangan untuk Beli Kopi Gayo

SAMSUDDIN Direktur CV Zahra Sentral Kupi, Buharhanuddin
A A A

BENER MERIAH – Kopi adalah merupakan sendi perekonomian masyarakat Gayo, karena hampir 85 persen masyarakat gayo pada umumnya dan Kabupaten Bener Mener Meriah khususnya adalah merupakan petani kopi.

Melihat kondisi buah kopi saat ini, diperkirakan pada bulan Oktober mendatang akan mulai panen besar (panen raya) namun sangat disayangkan harga kopi masih dibawah standar. Sementara harga kebutuhan pokok masyarakat cukup mahal.

Jika kondisi harga itu tidak beranjak naik sampai saat panen raya nanti berakhir, bisa saja perekonomian masyarakat gayo akan “lumpuh“ karena tidak dipungkiri sebahagian besar petani kopi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tidak musim panen kopi tersebut sudah berhutang pada pengepul kopi.

"Guna untuk mengantisiapsi hal itu, diharapkan Pemerintah menyediakan dana talangan minimal 100 milyar untuk membeli kopi masyarakat yang ada di Kabupaten Bener Meriah maupun yang ada di Aceh Tengah,"ujar Buharhanuddin, direktur CV Zahra Sentral Kupi saat diwawancarai wartawan, Kamis(27/8/2020).

Menurut Burhanuddin selaku eksportir kopi, saat ini para pengepul kopi hanya berani membeli kopi gelondong berkisar dari harga Rp6000 hingga Rp6.500 perbambu bahkan ia bersepekulasi pada saat panen raya nanti kemungkinan harga kopi turun dari harga saat ini.

Burhan menyatakan, kalau untuk saat ini, kenapa pengepul hanya berani membeli kopi gelondong (merah) Rp6000 perbambu sebab panen awal itu terase kopi terlalu tinggi yang mencapai 25 persen sementara harga dasar (harga patokan) para toke membeli kopi yang bukan green bean (asalan yang sudah menjadi biji hanya berkisar 40.000 -41.000 perkilo bila menurut rumus para toke pembelian kopi maka para pengepul hanya berani menghargai kopi gelondong Rp. 6000 perbambu.

Selain itu, faktor dasar turunnya harga kopi, tambah Burhanuddin, para buyer sekarang hanya berani mengontrak 4 dolar dan hampir dipastikan belum ada eksportir yang melakukan kontrak dengan para buyer baik dengan di eropa maupun di Negara lainnya saat ini karena situasi harga tersebut.

Justru itu, Burhan mengharapkan pemerintah Bener Meriah berani mengalokasikan dana talangan minimal 100 milyar saja dulu untuk tahap awal ini, jika pemerintah memberikan dana talangan 100 milyar maka sebanyak 1.818 ton kopi masyarakat seharga Rp55000 perkilonya dapat dibeli dan pengepul dapat membeli kopi gelondong dari petani seharga Rp10.000 hingga 11.000 perbambu,rinci Burhan.

“Apalagi kita sempat mendegar bahwa Presiden Jokowi akan membeli komuditi kopi gayo sampai 1 triliyun rupiah, nah itu menjadi kesempatan pemerintah daerah untuk mengejar janji presiden Jokowi dengan kondisi harga kopi saat ini,"harap Burhan.

Burhan menaksirkan hingga saat ini masih ada sebanyak 500 ton kopi di Bener Meriah yang belum terjual, hal tersebut karena berkurangnya permintaan luar negeri akibat pendemi COVID-19.

"Dan hingga akhir panen tahun 2020 yang puncak panen besarnya pada bulan Oktober –Desember menghasilkan sebanyak 10.000 ton kopi warga Bener Meriah,"terang Burhanuddin.

Oleh sebab itu , melalui media ini Burhanuddin kembali menyarankan pemerintah solusi untuk mengatasi anjoknya harga kopi arabika gayo maka pemerintah harus mengalokasikan dana talangan yang dipercayakan kepada Koperasi dengan mekanisme diatur sebagus mungkin.

“Dari semenjak bupati Ruslan Abdul Gani hingga pemerintahan sekarang ini saya sudah sering memberikan usulan terkait dana talangan takala harga kopi arabika anjolok, sebab perekonomian masyarakat di daerah ini tergantung dengan kopi karena kopi merupakan income mereka dalam memenuhi kebutuhan kelaurga,"cetus Burhanuddin.

Semantara itu, Windi Nosra salah satu pengepul kopi di Kampung Batin Wih Pongas mengatakan, untuk saat ini dia hanya berani membeli kopi gelondong Rp6000 perbambu sebab terase kopi pada saat ini terlalu tinggi mencapai 25 sedangkan harga dasar kopi Cuma 40.000 perkilo.

“Kopi saat ini belum banyak dalam satu hektar hanya menghasilkan 3 sampai 4 kaleng, mungkin bulan okteber nanti baru mulai panen raya dan kita berharap mudah-mudahan harganya saat panen raya naik minimal Rp10.000 perbambu,"pinta Windi.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...