Anggota Komisi II DPR Aceh Sulaiman SE mengaku terkejut setelah mendengar kabar bahwa Provinsi Aceh harus impor garam dari Thailand. Bahkan komoditas tersebut termasuk dalam komoditas impor terbesar ke Provinsi ujung barat Indonesia. Dimana berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Provinsi Aceh pada Mei 2020 sebesar US$ 245 ribu.

Pedagang Pasar Lamdingin Keluhkan Transportasi dan Musim Angin

HT ANWAR IBRAHIMPasar lamdingin
A A A

BANDA ACEH -Pedagang pasar Samudera Kutaraja Gemilang, Lamdingin mengeluh karena belum adanya transportasi umum yang beroperasi ke wilayah tersebut.

Akibatnya setiap hari setelah membeli barang di pasar Lambaro, Aceh Besar para pedagang membawa barang tersebut ke pasar Lamdingin dengan menggunakan becak untuk dijual kembali.

"Jadi habis beli barang pada pemasok di Lambaro, baru kami bawa dengan becak ke pasar Lamdingin dengan ongkos yang cukup mahal yaitu pulang pergi (PP) Rp60 ribu setiap hari," kata Fauzi, salah seorang pedagang sayur, Kamis (25/6/2020) pagi.

Oleh karena itu, Fauzi dan rekan-rekannya berharap kepada Pemerintah Kota supaya menyediakan bus angkutan umum seperti membuka rute Tran Kutarajasampai ke pasar ini.

"Coba pak dilihat jam 10:00 Wib pasar masih sepi begini, tak ada pembeli. Ini salah satu penyebab, belum adanya labi-labi atau bus kutaraja yang mau masuk kemari," ujarnya.

Para pedagang kata Izwaini, merasa berat dengan kondisi pasar yang sepi pembeli dan dagangannya kurang laku. Apalagi dengan kondisi yang laku tapi kami tetap bayar retribusi Rp5000 setiap hari.

"Tempat ini setiap tahun kami bayar sewa Rp 3 juta dan 5000 setiap hari untuk retrubusi," ungkapnya.

Lain pedagang sayur lain pula yang diungkapkan oleh pedagang ikan segar. Mareka rata-rata mengeluhkan soal ikan dagangan mareka yang kurang laku di pasar Gemilang Lamdingin.

Menurut Hidayat, dagangan kurang laku karena masih banyak pedagang yang diberi kesempatan berjualan ikan enceran di TPI Lampulo. Sehingga pembeli lebih cendrung datang dan membeli ikan di Lampulo.

"Untuk membeli ikan, warga masih datang ke Lampulo, seharusnya yang menjual disana harus yang jumlah ikan banyak, paling sedikit yang jual untuk 10 kilogram. Tapi ini beli 2 atau 3 kg pun beli di sana, otomatis di pasar ini sepi pembeli," ujarnya.

Begitu juga dengan kondisi pasar di musim kemarau, anginnya sangat kencang karena bangunan pasar tanpa dinding terutama sebelah barat sehingga membuat pedagang kesulitan.

"Karena tidak ada dinding di sebelah barat, maka disaat musim angin kita susah berjualan, bahkan ikannya menjadi kering," ungkap Hadi.

Selain itu, ongkos becak dari kota maupun dari Lambaro juga sangat mahal.

"Ongkos becak dari kota kesini sampai 20 ribu, dan dari Lambaro 30 ribu. Kalau Pp 60 ribu. Jadi ini saja sudah cukup berat bagi kami pedagang disini," keluhnya.

Bila ada kekurangan akan terus dibenahi

Sebelumnya Kadis Perdagangan Kota Banda Aceh, Muhammad Nurdin mengatakan, Pasar ikan selalu identik dengan bau, kotor dan tidak teratur.

Namun karena citra negatif inilah kata Nurdin yang menjadi salah satu alasan pemerintah Kota Banda Aceh untuk membangun pasar ikan dengan konsep bersih, nyaman dan tertip serta terjamin, tidak becek dan tidak bau.

Pasar ini katanya, menyediakan aneka produk sayurmayur dan perikanan yang menawarkan pasar bersih, higienis, dan nyaman dan tidak becek serta tidak bau.

"Nah, hingga pelayanan yang memudahkan dalam transaksi," ujarnya.

Apabila masih terdapat kekurangan, itu sesuatu yang wajar, karena masih baru.

"Proses pemindahan pedagang dari pasar lam Peunayong saja belum sampai sebulan. Jadi wajar bila ada kekurangan di sana sini dan nanti terus kita benahi," ujar M Nurdin.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...