Ini Penjelasan Ahlinya!

Pasien HIV Diminta Tak Gunakan Stavudin

FOTO | ISTIMEWAIlustrasi
A A A

FAKTA baru terungkap bahwa pasien HIV tidak disarankan untuk menggunakan stavudin sebagai obat penyembuh penyakitnya. Hal ini berkaitan dengan munculnya masalah baru yang bisa mengganggu penyembuhan. Masalah tersebut ialah Neuropati Sensorik pada penderita HIV (NS-HIV).

Dalam penelitian Ahli Neurologi FKUI Dr. dr. Fitri Octaviana , Sp.S(K)., M.Pd.Ked, yang berjudul "Faktor-faktor yang Memengaruhi Neuropati Sensorik pada Pasien HIV yang Mendapatkan Terapi Antiretroviral Tanpa Stavudin: Peran Inflamasi Lokal dan Sistemik", dijelaskan bahwa prevalensi (NS-HIV) pada pasien yang menggunakan obat antiretroviral (ARV) non stavudin selama lebih dari 12 bulan adalah 14,2%.

Di mana, pada penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa masalah NS-HIV pada pasien yang menggunakan pengobatan ARV dengan stavudin prevalensi angkanya mencapai 53%.

"Penelitian ini berkaitan dengan memperpanjang masa hidup pasien HIV dan ini tentunya berkaitan dengan penyelamatan nyawa seseorang," terang Dr. Fitri pada Okezone setelah sidang terbuka disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Mengapa NS-HIV mesti ditanggulangi dengan tepat?
Diutarakan Dr Fitri, ini berkaitan dengan kehidupan pasien. Mereka para pasien HIV yang juga ternyata mengalami masalah NS-HIV, akan merasa nyeri pada kaki atau tangannya. Di mana, kondisi ini bisa terjadi 'on/off' atau bahkan setiap hari.

Dengan adanya masalah NS-HIV ini pada pasien, maka ada banyak masalah yang bakal dihadapi. Sebut saja depresi berkelanjutan dan disabilitas karena aktivitas menjadi terbatas.

"Pasien HIV itu rentan mengalami neuropati sensorik. Penyakit ini bisa ditandai dengan rasa nyeri, baal, dan kesemutaan yang terasa panas," papar Dr. Fitri.

Lebih lanjut lagi, ternyata setelah didiagnosis memiliki masalah HIV, kata Dr Fitri, kondisi saraf pasien sebetulnya sudah rusak. Makanya, dengan tindakan pengobatan yang tepat, setidaknya tidak memperparah kondisi.

Selain masalah NS-HIV, gangguan saraf yang bisa dialami pasien HIV adalah infeksi sekunder radang otak.

"Pasien HIV sangat rentan terhadap infeksi. Nah, khusus untuk masalah saraf, pasien HIV tidak hanya mengalami neuropati sensorik, tapi juga tuberkulosis atau gangguan pada sitoplasma. Ini bisa terjadi karena imunitas pasien HIV semakin hari semakin berkurang sekalipun obat ARV rutin dikonsumsi," tambahnya.

Kode:47
Sumber:okezone.com
Rubrik:Kesehatan

Komentar

Loading...