Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Masyarakat Mengeluh

Pasar Inpres Tapaktuan Penuh Sampah dan Bau Busuk

MUHAMMAD ILHAMSampah di Pasar Inpres Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan
A A A

ACEH SELATAN - Aroma busuk dan sampah berserakan, begitulah pemandangan saat memasuki pasar Inpres Tapaktuan pagi ini, Rabu (29/7/2020).

Pemandangan tumpukan sampah tersebut sangat kentara, mulai dari pintu masuk komplek pasar inpres hingga di dalam komplek pasar, terlihat sampah itu bertumpukan di depan para pedagang

Sampah-sampah organik itu telah membusuk dan menyeruakkan aromanya hingga menusuk hidung para pengunjung. Kondisi ini tentu saja menimbulkan beragam komentar dari masyarakat.

"Kutipan pajak kebersihan selalu kami setor, tapi sampah ini hanya ditumpuk-tumpuk saja, mau tidak mau kami harus jualan ditengah sampah, lalu kemana uang sampah itu," kata salah seorang pedagang yang tidak mau namanya disebutkan.

Menurutnya keluhan ini sudah sering disampaikan di media sosial, oleh beberapa pedagang pasar inspres namun tidak mendapat respon dari DLHK Aceh Selatan, dan ini kembali terulang untuk kesekian kalinya.

Seorang pengunjung pasar Inpres Tapaktuan, Rian Tomingse saat di tanyai pendapat nya oleh awak media, mengatakan prihatin atas kurangnya kepedulian pihak terkait terhadap pengendalian sampah di fasilitas umum di Aceh Selatan, pasalnya menurut pria ini hal tersebut dapat berdampak buruk bagi pengunjung pasar inpres Tapaktuan.

"Bukan hanya aroma busuk yang jadi masalah, akan tetapi dengan kondisi ini kami takutkan pasar inpres Tapaktuan akan menjadi sarang penyakit bagi pengunjungnya," jelasnya

Rian tomingse menambahkan buruknya pengendalian sampah di Aceh Selatan bukanlah hal baru, sebelumnya dibeberapa kecamatan lain telah sering menjadi pemberitaan di media online, sehingga ia mempertanyakan kenapa hingga saat ini persoalan sampah seperti tidak dapat terkendalikan.

"Kita sudah sering disuguhkan buruknya pengendalian sampah di Aceh Selatan melalui media-media, kali ini kami mendapatkan sendiri di pasar inpres Tapaktuan ini, lalu jadi pertanyaan kami kenapa hal ini berulang kali terjadi, ada apa dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Selatan, sehingga persoalan sampah ini seperti tak dapat tertangani?",jelasnya.

Ia menyesalkan lambatnya kinerja Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten (DLHK) Aceh Selatan dalam pengendalian sampah yang kembali terulang dari hari kehari, ia berharap pemerintah Aceh Selatan dapat mengevaluasi dinas terkait.

Sambungnya, jika melihat pada keseriusan pemerintah Aceh Selatan saat ini, maka apa yang terjadi di DLH Aceh Selatan berbanding terbalik dengan visi-misi Aceh Selatan Hebat yang saat ini di gaung-gaungkan, ditambah lagi, dalam situasi Pandemi dan zona kuning Covid-19, pemerintah Aceh Selatan terus menerus menggaungkan kebiasaan hidup sehat.

"Seharusnya DLH Aceh Selatan dapat sinkron dengan misi Aceh Selatan hebat, sinkron dengan keadaan pandemi, bukan malah sebaliknya, jika seperti ini publik tentu saja menilai bahwa DLH tidak becus mengurusi lingkungan, tak dapat sinkron dengan keadaan pandemi, jangan sampai sikap abai DLH ini menjadi preseden buruk bagi pemkab Aceh Selatan,"pungkasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...