Para Imigran yang Membangun Timnas Prancis dan Belgia

FOTO | ISTIMEWAPemain depan andalan Prancis, Kylian Mbappe, punya darah Kamerun
A A A

JAKARTA - Lahir di Prancis, Kylian Mbappe punya darah Kamerun dari ayahnya dan Aljazair milik sang ibu. Sementara Romelu Lukaku dan Vincent Kompany adalah keturunan Kongo.

Mbappe belum lahir saat Prancis menang 3-0 dan merebut gelar juara dunia untuk kali pertama di tahun 1998. Tapi skuat Jacquet Aime saat itu dan tim yang pimpin Didier Deschamps kini punya satu kesamaan: diisi banyak pemain keturunan dari orang tua para imigran.

Dalam perayaan kemenangan ketika itu, pemimpin politik Prancis menyebut sukses Les Bleus bukan sekadar sukses di atas lapangan. Tapi juga merupakan sukses kebijakan politis negara tersebut terkait kaum imigran.

Perkara imigran (baik dari Asia, Afrika, atau belahan dunia lain), telah jadi persoalan yang terus mengemuka di banyak negara Eropa. Masalah serupa menimpa juga negara-negara yang secara tradisional punya sejarah kuat di sepakbola.

Di Jerman, pemerintahan Angela Merkel dapat serangan dari lawan politik akibat kebijakan tentang imigran. Perkara kaum imigran dianggap punya pengaruh besar dalam keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa. Kondisi serupa terjadi juga di Swiss, dan juga Prancis.

Di Italia penolakan terhadap imigran bisa dilihat dari masih maraknya aksi rasisme dari suporter. Fabio Liverani yang menjadi kulit hitam pertama di Timnas Italia sempat jadi sasaran rasisme. Sebagai catatan, Italia saat ini menjadi salah satu negara dengan jumlah keturunan imigran paling sedikit di timnasnya.

Jika dihitung berdasarkan jumlah keturunan imigran di dalam tim, Prancis kini punya persentase paling besar. Sebanyak 78% penggawa Les Bleues punya latar belakang imigran (generasi pertama). Sementara di Belgia, pemain dengan latar belakang imigran berjumlah 47,8%.

Romelu Lukaku dan Vincent Kompany adalah anak imigran Kongo. Sementara Marouane Fellaini dan Nacer Cadli punya darah Maroko. Daftarnya bisa diperpanjang menjadi: Dedryck Boyata, Michy Batshuayi, Mousa Dembele, Axel Witsel dan Adnan Januzaj. Mereka setidaknya punya darah yang berbeda dari para orang tuanya.

"Saat semuanya berjalan lancar, saya membaca artikel di koran dan mereka menulis Romelu Lukaku si striker Belgia. Sementara saat situasi tak berjalan baik, mereka menyebut saya Romelu Lukaku, striker Belgia berdarah Kongo," curhat Lukaku pada Players' Tribune beberapa waktu lalu.

Bukan cuma Lukaku yang kerap dapat perlakuan tersebut. Fellaini juga sering kurang dapat apresiasi atas apa yang dia berikan untuk Belgia. Padahal, tanpanya, sulit buat Belgia menang atas Brasil.

Belgia menjadi kekuatan baru sepakbola dunia melalui program revitalisasi yang mereka sudah garap sejak awal abad ini dengan nama Project 2000. Program tersebut berbuah manis dengan kini mereka memiliki apa yang disebut sebagai Golden Generation.

Tapi sukses Belgia juga didukung oleh sebuah program nasional yang menggunakan sepakbola sebagai alat yang membantu kaum imigran lebih terintegrasi.

Dikutip dari Guardian, hanya 3,4% dari seluruh skuat Belgia saat ini lahir di luar negeri. Belgia bukan negara dengan jumlah pemain lahir di luar negeri terbesar di antara para semifinalis. Berada di posisi paling atas adalah Kroasia, di mana 15,4% pemainnya lahir di luar negara tersebut. Lalu Prancis dengan jumlah 10%, Belgia, dan terakhir Inggris (3,2%).

Menariknya, Prancis ternyata juga jadi 'eksportir' pemain. Menurut National Geographic, tujuh pemain Tunisia, 12 pemain Senegal, dan 13 pemain Maroko yang bermain di Piala Dunia 2018 ini lahir di Prancis. Ini merupakah 'warisan' dari kolonialisme Prancis di Afrika dan gelombang imigrasi yang besar ke negara tersebut.

Kode:47
Sumber:detik.com
Rubrik:Sport

Komentar

Loading...