Bungkam Saat Sidang,

Novanto Diminta Kooperatif

FOTO | BERITASATU.COMTersangka kasus korupsi proyek e-KTP, Setya Novanto (tengah) di bantu petugas KPK, memasuki ruang sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu 13 November 2017.
A A A
Namun tentu pertanyaannya secara hukum bukan soal keluhan-keluhan tersebut, tapi apakah keluhan itu atau sakit yang diderita itu mempengaruhi seseorang hingga tidak bisa menjawab pertanyaan dan tidak layak diajukan di persidangan,

JAKARTA - ‎Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta Ketua DPR nonaktif, Setya Novanto untuk kooperatif menjalani proses persidangan perkara dugaan korupsi proyek KTP elektronik (e-KTP) di Pengadilan Tipikor Jakarta yang telah dibuka Majelis Hakim, Rabu (13/12).

KPK menegaskan persidangan ini merupakan kesempatan dan ruang bagi Novanto untuk membantah keterlibatannya dalam perkara yang merugikan keuangan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut.

"Kami harap terdakwa bisa kooperatif dalam persidangan ini. Kalau memang ada bukti-bukti yang ingin digunakan untuk menyangkal KPK maka hadirkanlah bukti itu di proses persidangan," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (13/12).

Febri menyatakan, sikap kooperatif ini tidak hanya menguntungkan bagi Novanto sebagai terdakwa. Lebih dari itu, persidangan ini dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat mengenai penegakan hukum di Indonesia, terutama menyangkut keseriusan negara dalam memberantas korupsi.

"Agar proses pengadilan ini juga menjadi pelajaran berharga bagi publik tentang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, jadi bukan hal-hal lain," katanya.

Diketahui, Novanto yang duduk di kursi terdakwa lebih banyak diam saat ditanya Majelis Hakim. Novanto mengaku sedang menderita sakit diare hingga 20 kali. Pernyataan ini dibantah Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK yang menyebutnya hanya dua kali ke kamar kecil di Rutan KPK sepanjang malam sebelum dihadirkan di persidangan.

Bahkan, sebelum dibawa ke Pengadilan Tipikor Jakarta, pada Rabu (13/12) pagi Novanto diperiksa oleh tim dokter KPK.

Menurut Febri, hasil pemeriksaan tim dokter menyatakan, Novanto sehat dan layak menjalani persidangan. Untuk itu, Febri justru mempertanyakan apakah penyakit yang dikeluhkan Novanto yakni batuk, flu, dan diare dapat memengaruhi Ketua Umum Partai Golkar nonaktif itu hingga tidak bisa menjawab pertanyaan majelis hakim.

"Namun tentu pertanyaannya secara hukum bukan soal keluhan-keluhan tersebut, tapi apakah keluhan itu atau sakit yang diderita itu mempengaruhi seseorang hingga tidak bisa menjawab pertanyaan dan tidak layak diajukan di persidangan," tegasnya.

Agar proses pengadilan ini juga menjadi pelajaran berharga bagi publik tentang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, jadi bukan hal-hal lain,
Kode:47
Sumber:beritasatu.com
Rubrik:Nasional

Komentar

Loading...