Industri Otomotif Dunia,

Menuju Era Kendaraan Listrik

FOTO | ISTIMEWAMobil Listrik
A A A

JAKARTA - Siapa yang tidak mau memiliki kendaraan bebas biaya minyak, bebas polusi, dan tak perlu mengganti oli?

Industri otomotif dunia sedang bergerak menuju kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), dan Indonesia sangat berkepentingan untuk bergabung dalam revolusi teknologi ini.

Saat ini produksi minyak bumi nasional diperkirakan hanya 800.000 ribu barel per hari (bph), sedangkan kebutuhan mencapai 1,6 juta bph, sebagian besar disedot oleh pengguna kendaraan, baik transportasi publik maupun pribadi.

Setiap tahun, pertumbuhan konsumsi BBM transportasi meningkat 13% atau dua kali lipat pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5-5,2% per tahun.

Tekad pemerintah mendatangkan tekonologi EV sudah resmi dicanangkan dalam Peraturan Presiden No 22 Tahun 2017, yang bertujuan memenuhi target penurunan polusi udara dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Salah satu target dalam peraturan itu adalah peningkatan populasi kendaraan bertenaga listrik atau hybrid pada 2025, yaitu 2.200 unit mobil dan 2,1 juta unit sepeda motor.

Namun, bahkan ketika teknologi EV sudah hadir, lolos uji pemakaian publik, dan masuk tahap produksi massal, menghadirkannya di Indonesia bukan perkara mudah.

Lebih jauh lagi, ketika mobil itu sudah ada di Indonesia, bukan berarti semua orang bisa berbondong-bondong ke ruang gerai untuk membelinya. Banyak kendala unik di sini yang membuat pemilikan EV masih menjadi impian.

Tesla


Untuk merek mobil listrik, salah satu yang tersukses di dunia adalah Tesla. Di Indonesia, meskipun belum ada Agen Pemegang Merek (APM) Tesla, namun kendaraan tersebut bisa didapatkan melalui Importir Umum (IU) Prestige Image Motorcars. Tahun lalu, ada beberapa model Tesla yang diboyong importir tersebut ke Indonesia, di antaranya beberapa varian dari Tesla Model S dan Model X.

Dikatakan Presiden Direktur Prestige Image Motorcars, Rudy Salim, menjual mobil listrik Tesla di Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Pasalnya harga jual mobil jenis ini tergolong tinggi lantaran banyaknya pajak yang harus dibayarkan, mulai dari PIB (Pemberitahuan Impor Barang), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah), dan pajak jenis lainnya.

Sebagai contoh Tesla Model X 75 D yang dipasarkan di Indonesia seharga US$ 200.000 (Rp 2,7 miliar). Harga tersebut bisa lebih mahal apabila konsumennya menginginkan spesifikasi yang lebih tinggi.

“Tantangan menjual Tesla di Indonesia ada di harga. Banyak sekali pajak yang harus dibayarkan, sehingga harga jualnya meningkat 100 persen dibandingkan harga di negara asal. Belum lagi showroom ambil margin sekitar dua sampai tiga persen, lalu ada biaya lagi untuk menyiapkan garansinya. Kalau ditotal naiknya bisa lebih dari 120 persen,” kata Rudy Salim kepada Beritasatu, di Jakarta, Jumat (2/2).

Tantangan kedua datang dari sisi infrastuktur. Dikatakan Rudy, minat masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik Tesla sebenarnya cukup tinggi. Namun mereka ragu untuk membelinya lantaran belum adanya stasiun charger atau pengisian baterai.

“Di Indonesia sampai saat ini belum ada infrastuktur yang mendukung mobil listrik. Tahun lalu memang sempat heboh adanya pembangkit listrik umum yang disebar di beberapa titik. Tapi setelah kami cek, ternyata itu hanya colokan listrik biasa, bukan pembangkit listrik umum. Kalau mau ngisi baterai mobil Tesla di situ, butuh waktu 26 jam untuk bisa penuh. Padahal kalau pakai wall charger yang diintalasi di rumah, hanya butuh waktu empat jam pengisian dan bisa menempuh jarak hingga 440 kilometer,” tutur Rudy.

Belum adanya bengkel yang mampu memperbaiki sistem kelistrikan dan sistem operasi dari mobil listrik juga masih menjadi kendala. Karenanya, Prestige Image Motorcars secara berkala mendatangkan teknisi dari Singapura untuk melakukan general check-up terhadap mobil-mobil Tesla yang sudah terjual.

Berbagai tantangan inilah yang membuat para importir kesulitan untuk menjual mobil listrik Tesla di Indonesia. Tahun lalu saja, penjualan mobil Tesla di Indonesia yang dicapai oleh Prestige Image Motorcars tak sampai 10 unit.

“Kalau kondisinya seperti ini, memang sangat sulit jualan Tesla,” keluh Rudy.

Toyota: Jangan Buru-buru


Masih banyaknya persoalan yang harus diselesaikan terkait mobil listrik menjadi alasan utama dari para pabrikan otomotif Jepang untuk tidak buru-buru bermain di segmen tersebut. Seperti pengakuan Public Relations Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Rouli Sijabat.

Rouli mengatakan, pada prinsipnya Toyota sangat mendukung wacana pengembangan mobil listrik di Indonesia. Namun lompatan teknologi ini menurutnya harus melalui tahapan yang jelas. Apalagi ia juga melihat infrastuktur yang ada di Indonesia belum mendukung untuk memasarkan mobil listrik.

“Mobil listrik ini memang sebuah keniscayaan, suatu saat pasti akan menuju ke sana. Kita juga sepakat dengan pemerintah bahwa mobil listrik akan menjadi salah satu kendaraan masa depan. Namun kita juga musti melihat kondisi di Indonesia saat ini. Ibaratnya kalau mobil listrik itu kelas 6, kita harus masuk dulu dari kelas 1, 2, dan seterusnya. Jadi ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan,” kata Rouli.

Yang kemudian dilakukan Toyota sebelum benar-benar sampai pada era mobil listrik adalah memasarkan mobil hybrid terlebih dahulu. Kendaraan ini menggunakan dua jenis teknologi sebagai sumber tenaganya, yakni mesin bensin dan juga baterai. TAM sendiri sudah mulai memasarkan kendaraan hybrid sejak 2009 melalui Toyota Prius, kemudian di 2011 meluncurkan Camry Hybrid. Hingga saat ini total kendaraan hybrid yang dijual Toyota di Indonesia mencapai sekitar 1.500 unit.

“Pengembangan mobil listrik tentunya sangat kita dukung. Tapi memang harus ada step-step-nya untuk menuju ke sana. Saat ini kendaraan hybrid yang paling mungkin untuk dipasarkan terlebih dahulu sambil menuju ke era full electric. Kalau infrastuktur dan hal-hal lainnya seperti insentif sudah lebih jelas, pastinya kita akan membantu pemerintah mewujudkan mobil listrik,” ujar Rouli.

Hal senada juga diungkapkan Marketing and After Sales Service Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy. Meskipun secara teknologi Honda sudah mampu memproduksi mobil listrik, namun ada banyak hal yang masih menjadi pertimbangannya untuk memasarkan mobil listrik di Indonesia.

Selain infrastruktur, Jonfis juga menyoroti penggunaan sumber pembangkit tenaga listrik yang belum memberi solusi terhadap kebersihan lingkungan, sehingga perlu dipikirkan juga berbagai alternatif energi pembangkit tenaga listrik lain yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, penanganan limbah baterai dari mobil listrik juga perlu mendapat perhatian khusus.

Melihat berbagai tantangan yang masih harus diselesaikan, menurut Jonfis yang paling tepat untuk saat ini yaitu memasarkan kendaraan yang rendah konsumsi bahan bakar.

“Secara produk dan teknologi, Honda sudah siap. Tapi kalau melihat kondisi saat ini, yang paling tepat ya memasarkan mobil dengan bahan bakar rendah dan harga terjangkau. Setelah itu turbo, hybrid, plug-in hybrid, lalu listrik,” tuturnya.

Butuh 10 Tahun


Masalah infrastuktur yang belum siap juga menjadi catatan khusus dari pengamat otomotif Bebin Djuana. Menurutnya, pemerintah harus bisa menjamin ketersediaan tempat pengisian baterai di berbagai tempat, tidak hanya di kota-kota besar saja.

“Sekarang itu belum saatnya. Karena kalau tidak ada prasarananya, mobil listrik tidak akan bisa jalan dan hanya akan menjadi pajangan saja. Bukan hanya di Jakarta, tempat pengisian baterai ini juga harus merata disiapkan di setiap daerah. Jangan sampai ketika misalnya pergi ke Cirebon, mobilnya tidak bisa jalan karena kehabisan baterai,” ujar Bebin.

Melihat kondisi geografis Indonesia yang sangat luas, Bebin memprediksi proses penyiapan infrastruktur untuk mobil listrik paling cepat akan rampung dalam waktu 10 tahun.

“Perlu dipikirkan juga bagaimana proses pengolahan limbah baterai. Sebab limbah baterai lithium ion itu merupakan zat beracun yang sangat berbahaya dan bisa merusak lingkungan. Jangan sampai kebijakan mobil listrik yang tujuannya untuk membuat lingkungan lebih sehat, ternyata malah jadi merusak lingkungan,” tuturnya.

Sebelum sampai pada penerapan teknologi full electric, menurut Bebin memang lebih baik untuk mengembangkan mobil hybrid terlebih dahulu. Selain bisa menekan konsumsi bahan bakar, nantinya para mekanik juga bisa belajar bagaimana memperlakukan baterai lithium ion.

“Untuk menuju full electric, saya kira memang harus melalui hybrid terlebih dahulu ya. Di negara lain step-nya kan juga seperti itu. Jadi bisa sambil proses belajar dalam menangani mobil listrik,” tuturnya.

Mengirim tenaga ahli ke luar negeri untuk mempelajari teknologi mobil listrik juga dirasa penting, sehingga nantinya Indonesia juga bisa memproduksi mobil listrik.

“Teknologi mobil listrik ini kan terus berkembang. Misalnya sekarang itu baterai menjadi lebih cepat diisi, namun memiliki kemampuan jelajah yang lebih lama. Saya rasa perguruan tinggi di Indonesia juga punya kemampuan mengembangkan teknologi ini. Tapi tentunya harus di-update terus karena perkembangannya kan di luar negeri juga sangat pesat,” tutur dia.

Ditambahkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto, mengembangkan mobil listrik yang ramah lingkungan di Indonesia juga diperlukan penyesuaian tarif. Hal tersebut dapat diperoleh melalui insentif pajak dari pemerintah, sehingga harga jual mobil listrik nantinya menjadi lebih terjangkau.

“Harga dari negara asalnya saja sudah mahal. Apalagi saat masuk ke Indonesia dan kena pajak yang besar. Kalau terlalu mahal, nanti siapa yang mau beli?" kata Jongkie.

Jika masalah infrastruktur dan perpajakan sudah terpenuhi, Jongkie mengatakan secara perlahan masing-masing APM pastinya akan mulai memasarkan kendaraan listrik mereka di Indonesia. Awalnya tentu saja dengan meng-impor, hingga nantinya dirakit di Indonesia apabila permintaan pasar sudah semakin meningkat.

Alasan Harus Mobil Listrik


Dibandingkan kendaraan biasa, mobil listrik memang memiliki banyak kelebihan. Tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih efisien. Rudy Salim menerangkan, pada dasarnya mobil listrik tidak dijalankan dengan combustion engine, melainkan digerakkan dengan dinamo.

Berapa banyaknya dinamo sangat bergantung pada spesifikasi dari mobil listrik tersebut. Penggeraknya sendiri berasal dari baterai yang letaknya ada di bawah bangku. Ini membuat handling mobil terasa lebih nyaman karena beratnya terdistribusi secara merata.

“Karena tidak menggunakan bensin dan oli, tidak ada gas buang dan polusi yang dikeluarkan oleh mobil listrik, sehingga lebih ramah lingkungan. Untuk pemeliharannya juga lebih murah. Kalau untuk perangkat kerasnya, yang diganti paling hanya ban, rem, dan wiper. Sedangkan kalau mobil biasa perlu mengganti oli, filter, dan banyak komponen lainnya. Sementara oli itu sesuatu yang susah di-recycle,” ujar Rudy.

Selain lebih responsif ketika dikendarai, tidak adanya mesin di bagian depan juga membuat mobil listrik lebih aman saat dikendarai. Pada mobil biasa, keberadaan mesin di bagian depan seringkali menimbulkan masalah ketika terjadi kecelakaan. Misalnya terbakar atau mengenai tubuh si pengendara.

“Penggunaan mobil listrik juga lebih hemat. Biaya yang diperlukan untuk sekali charge dari 0 hingga full sekitar Rp 150.000, dan itu bisa digunakan untuk menempuh perjalanan 440 kilometer. Sementara kalau pakai bensin non subsidi, biayanya bisa sampai Rp 800.000,” paparnya.

Meskipun belum ada stasiun charger, proses isi ulang baterai juga bisa dilakukan dari listrik rumah atau wall-charger yang diinstalasi khusus. Dengan syarat daya listrik yang dimiliki pemilik rumah harus sekitar 5.000 VA sampai 10.000 VA.

“Kalau dayanya 10.000VA, proses pengisian baterai bisa 4-6 jam. Tapi kalau hanya 5.000 VA, tinggal dikali dua saja. Sebenarnya ada juga yang super charger, hanya 20 menit untuk pengisian 50 persen, tapi saat ini teknologinya belum ada di Indonesia,” ujar Rudy.

Meskipun proses pengisian baterai bisa dilakukan di rumah, Rudy tetap mengaggap penting adanya tempat-tempat pengisian baterai yang memiliki kemampuan fast charging di berbagai titik layaknya pengisian BBM .

“Kita perlu super charger yang ada di banyak titik. Kalau sekarang kan masih susah, harus pulang ke rumah dulu. Akan menjadi masalah kalau tidak sempat pulang dan harus menempuh perjalanan jauh. Semuanya ini harus dipikirkan kalau memang ingin mobil listrik banyak dipakai di Indonesia,” pungkas Rudy.

PLN Mendukung


PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) rupanya telah memahami instruksi menyambut era EV dan kendala yang dihadapi, dengan mencanangkan program peningkatan daya listrik rumah tangga. Masyarakat diimbau meningkatkan daya listrik dengan janji bebas biaya instalasi, sebagai bagian dari misi perusahaan untuk mengantarkan masyarakat Indonesia masuk era modern.

"PLN kan gencar mendorong masyarakat untuk beralih ke mobil dan sepeda motor listrik, karena itu instalasi listrik di rumah juga harus memadai," kata Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto November silam.

Sebagai bagian dari kampanye penggunaan kendaraan listrik, PLN sudah menerapkan pemakaian sepeda motor listrik bagi para petugas lapangannya.

Saat ini PLN bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang tengah menggodok rencana untuk menyederhanakan golongan pelanggan listrik, di mana rumah tangga dengan kapasitas listrik 1.300 volt ampere akan diimbau untuk menaikkan daya ke 5.500 VA.

Imbauan ini disertai janji insentif berupa pembebasan biaya naik daya dan pengenaan tarif per KwH serta biaya abunemen yang sama seperti ketika belum naik daya.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Sommeng mengatakan kendaraan listrik akan membantu penghematan energi primer seperti batubara dan minyak bumi.

"Energi primer kalau bisa digunakan untuk menghasilkan listrik saja, jangan untuk transportasi. Kalau untuk kendaraan, sebaiknya memakai tenaga listrik," kata Andy.

Saat ini hampir semua produsen kendaraan terkemuka di dunia telah memiliki varian mobil listrik, namun pasar kendaraan listrik di Indonesia masih sangat minim karena daya dukung infrastruktur yang kurang memadai untuk isi ulang baterei kendaraan baik di rumah maupun di tempat umum.

Di samping itu kendaraan listrik relatif masih jauh lebih mahal dibandingan kendaraan bermesin konvensional.

Coba Sepeda Motor Listrik Dulu


Siang itu di akhir Oktober, tiga skuter matic parkir berjajar di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sepintas tidak ada yang berbeda dengan kendaraan lainnya. Namun begitu dibuka bagian jok motor maka terlihat jelas perbedaanya. Ada perangkat pemutus arus atau yang dikenal MCB (Miniature Circuit Breaker).

Tiga kendaraan motor listrik tersebut memang dipamerkan dan akan dicoba oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Beberapa kali kedua petinggi itu mengitari halaman Kementerian ESDM. Motor tersebut tidak memiliki suara atau terdengar seperti kendaraan konvensional.

Sepeda motor dengan merek dagang Viar itu mampu melaju dengan kecepatan 60 - 70 km/jam dan menempuh jarak 60 km. Adapun konsumsi energi listrik motornya mencapai 1,6 kilo Watt hour (k‎Wh). Dengan harga listrik Rp 1.400 per kWh, maka biaya menempuh 60 km itu hanya sekitar Rp 2.500. Jauh lebih hemat dibandingkan dengan sepeda motor konvensional yang memakai bahan bakar minyak (BBM).

Jonan mengatakan dibutuhkan 1,5 liter BBM untuk menempuh jarak 60 km. Bila sepeda motor itu menggunakan BBM jenis Premium yang dibandrol Rp 6.550 untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali maka pengendara merogoh kocek sekitar Rp 10 ribu.

"Kalau hemat Rp 7.000 sehari maka sebulan bisa sekitar Rp 200 ribu (hemat dari penggunaan BBM)," ujarnya seusai menjajal skutik listrik tersebut.

Sepeda motor listrik yang dicoba Jonan itu dibandrol dengan harga Rp 16,7 juta. Motor serupa telah dibeli Jonan pada 29 Oktober 2017 kemarin. Jonan juga menyampaikan kepada produsen motor listrik agar nantinya menjual produknya ke masyarakat dengan harga yang kompetitif.

“Saya menyarankan jika sudah diproduksi massal nanti, kalau bisa harga jualnya itu dapat bersaing dengan motor yang menggunakan bahan bakar minyak,” sebutnya.

Untuk mendorong pemanfaatan kendaraan listrik, akhir Agustus lalu Jonan telah menggandeng para pemangku kepentingan untuk memberikan sumbang saran terkait. Rancangan Peraturan Presiden tentang Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik untuk Transportasi Jalan.

“Bapak Presiden juga minta kalau bisa cepat selesai dan didorong setidaknya selesaikan peraturannya dulu,” ujarnya.

Dalam pertemuan yang diikuti pelaku usaha, asosiasi, pengamat, dan Kementerian terkait, Jonan juga menyampaikan bahwa akan mengusulkan kepada Presiden untuk menerapkan kebijakan larangan penjualan kendaraan mesin diesel dan bensin pada tahun 2040.

Sampai saat ini, aturan teknis untuk EV masih digodok olej pemerintah. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menuturkan Rancangan Perpres itu masih dirancang namun dia belum berani membeberkan seperti apa isi naskahnya.

"Masih dalam proses," katanya kepada Beritasatu di Jakarta, Jumat (2/2).

Secara terpisah, Kepala Satuan Komunikasi Korporat I Made Suprateka menambahkan motor skutik sudah dimanfaatkan PLN sebagai kendaraan operasional. Sebanyak 60 unit kendaraan listrik itu tersebar di area PLN Distribusi Jakarta Raya.

Dia mengungkapkan dalam menunjang program kendaraan listrik, maka PLN menyediakan stasiun pengisian listrik umum (SPLU). Perangkat tersebut sudah tersebar di Ibukota dan beberapa kota besar lainnya.

Namun Made mengaku tidak ingat secara rinci jumlahnya saat ini dan rencana penambahan stasiun di tahun ini.

"Yang jelas kami terus berupaya menyediakan SPLU itu," ujarnya.

Kode:47
Sumber:beritasatu.com
Rubrik:Tekno

Komentar

Loading...