Menikmati Wajah Baru Cihampelas

FOTO | ISTIMEWACihampelas Skywalk
A A A

LAMA dikenal sebagai pusat perdagangan di Kota Bandung, pernah Jalan Cihampelas tenggelam dalam suasana semrawut. Pengguna jalan berebut tempat dengan pedagang kaki lima. Keberadaan Teras Cihampelas mengubah wajah suram.

Wajah Yadin (44), warga Cihampelas, Kecamatan Cipaganti, Bandung, semringah. Lukisan cat bertuliskan promosi usaha batagor dan bakso tahu miliknya sudah hampir rampung. Warna-warni cat yang dilabur di atas etalase kaca membuat kios berukuran 1,5 meter x 1,2 meter itu semakin segar dipandang mata.

Etalase kaca ini baru ia beli seharga Rp 600.000. Setelah 21 tahun berdagang batagor dan bakso tahu, etalase itu adalah yang pertama ia miliki. Ia juga tak pernah mampu menyewa kios. Ia hanya berjualan di trotoar Jalan Cihampelas.

”Sekarang setelah Teras Cihampelas ini rampung, mimpi punya etalase kaca dan kios tercapai. Semoga omzet Rp 1 juta per hari saat jualan di trotoar meningkat,” katanya.

Teras Cihampelas adalah infrastruktur teranyar yang dirampungkan Kota Bandung. Bangunan ini difungsikan sebagai trotoar setinggi 4,6 meter di atas Jalan Cihampelas.

Dengan lebar 9 meter, Teras Cihampelas menjadi semacam kanopi menutup jalan sepanjang 450 meter atau baru sekitar seperempat dari panjang Jalan Cihampelas.

Keberadaan taman bunga dan tanaman penuh warna serta naungan pohon besar di sepanjang Jalan Cihampelas membuat suasana lebih asri. Untuk mewujudkan bangunan ini, Pemerintah Kota Bandung mengeluarkan biaya Rp 49 miliar.

Arsitek Teras Cihampelas, Sigit Wisnu Aji, mengatakan, Teras Cihampelas adalah gagasan Wali Kota Ridwan Kamil. Kamil melihat bangunan serupa saat berkunjung ke New York, Amerika Serikat. Dinamakan Skywalk, bangunan itu digunakan untuk pejalan kaki.

Akan tetapi, kata Sigit, bangunan ini bertransformasi di Bandung. Selain berfungsi sebagai trotoar, Teras Cihampelas digunakan untuk menampung pedagang kaki lima (PKL). Ada 192 PKL Cihampelas berjualan di sana.

Sigit mengatakan, dari berjualan di pinggir jalan, mereka kini menggunakan kios anyar. Luasnya beragam. Ukuran 1,2 meter x 1 meter untuk pedagang kerajinan dan kaus.

Sementara kios lebih besar berukuran 1,2 meter x 1,5 meter untuk pedagang kuliner. Bahan kios pelat anti karat dicat warna-warni agar selaras dengan lantai yang penuh warna.

Kalangan difabel juga mendapat tempat di Teras Cihampelas. Di sana ada elevator sehingga pengunjung difabel tidak perlu meniti tangga untuk sampai ke atas.

”Ada jalan khusus juga. Lebih landai, lantai tidak licin, hingga besi pegangan yang aman. Kami ingin semua bahagia,” katanya.

Sejahtera
Dua hari sebelum Yadin menata barang dagangannya, dirinya hadir bersama ratusan PKL Cihampelas memenuhi undangan Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung.

Tergabung dalam Forum Komunikasi Warga dan Pedagang Kaki Lima Cihampelas, mereka diminta memaparkan usulan pengelolaan Teras Cihampelas.

Sebagai juru bicara adalah Setiobudi (48), warga setempat. ”Intinya pengelolaannya dari, oleh, dan untuk PKL,” katanya.

Setiobudi mengemukakan, untuk mewujudkan hal itu, warga tidak berkeberatan apabila harus membayar Rp 5.000-Rp 7.000 untuk biaya perawatan kios dan Teras Cihampelas.

Dengan perhitungan ada 192 orang yang akan menyewa kios, sebulan diperkirakan terkumpul Rp 30 juta. Uang itu digunakan untuk membiayai ongkos air bersih, listrik, petugas keamanan, dan kebersihan.

Meski ingin mengelola secara mandiri, Setiobudi berharap pemerintah tidak pergi begitu saja. Pedagang butuh pinjaman modal dan peningkatan keahlian berdagang agar hidup lebih sejahtera.

”Silakan mengelolanya, kami akan membantu,” kata Kamil setelah mendengar pemaparan Setiobudi.

Salah satu bantuan yang akan diberikan adalah pinjaman usaha. Kamil mengatakan, sejak awal, pendirian Teras Cihampelas akan dibuat sinergis dengan program lain di Kota Bandung.

Kali ini, pedagang di Teras Cihampelas bisa memanfaatkan program pembiayaan Melawan Rentenir (Melati) yang dikelola Bank Perkreditan Rakyat Kota Bandung.

Kamil mengatakan, pinjaman itu tanpa bunga, hanya biaya administrasi awal 6 persen. Selanjutnya, pedagang bisa mencicil pinjaman selama 12 bulan. ”Sudah ada 13.000 warga Bandung yang memanfaatkan kredit program Melati,” katanya.

Diuntungkan
Siang itu, Setiobudi kebetulan menyambangi keceriaan di kios Yadin. Sebagai perwakilan warga, ia bertugas memantau kios agar digunakan pedagang sesuai fungsinya sebelum diresmikan Ridwan Kamil pada Sabtu (4/2).

Setiobudi menuturkan, simbiosis saling menguntungkan itu adalah bonus dari keberadaan Teras Cihampelas. Selain pengguna jalan kini punya akses trotoar lebih baik, ada keuntungan ekonomi yang didapat warga.

”Saya tidak memiliki kios, tetapi saya ikut diuntungkan,” katanya.

Setiobudi mengutarakan, bukan uang tunai yang ia dapatkan saat mendampingi warga. Keberadaan Teras Cihampelas ini membuat pekerjaannya sebagai pemandu wisata lebih ringan.

”Setiap bulan saya biasa bawa 20-30 turis Malaysia. Mereka sangat suka belanja. Selain Pasar Baru, Cihampelas menjadi favorit. Barang-barang yang dijual di Cihampelas dan Pasar Baru 70 persen lebih murah ketimbang Malaysia,” tuturnya.

Sebelum Teras Cihampelas dibangun, ia kerap tak enak hati apabila wisatawan minta diantar ke Cihampelas. Hampir tidak ada trotoar nyaman dilintasi di sana, terutama saat musim liburan.

PKL, pengguna jalan, dan pengguna kendaraan bermotor saling sikut berebut tempat. Akibatnya, banyak turis mengeluhkan kondisi yang tidak nyaman itu.

”Saya sudah mengabarkan kepada kenalan saya di Malaysia agar datang lagi ke Bandung. Sekarang Cihampelas sudah jauh lebih nyaman. Jangan khawatir akan ditabrak mobil lagi. Datang dan nikmati wajah baru Cihampelas,” katanya.

Sumber:kompas.com
Rubrik:Travel

Komentar

Loading...