Wakil Kanselir Jerman:

Masjid Salafi Dilarang, Pengkhotbahnya Harus Diusir

FOTO | REUTERSSejumlah warga Jerman saat berunjuk rasa menentang keberadaan masjid beberapa waktu lalu.
A A A

BERLIN - Wakil Kanselir Jerman Sigmar Gabriel menyampaikan sikap “toleransi nol” terhadap keberadaan masjid-masjid Salafi di negara itu. Menurutnya, masjid-masjid Salafi harus dilarang dan pengkhotbahnya harus diusir dari Jerman.

Seruan larangan itu muncul setelah Berlin dilanda serangan teror dengan kendaraan truk yang dibajak di sebuah pasar atau bazar Natal beberapa waktu lalu.

Gabriel—Pemimpin Partai Sosial Demokrat—yang juga pesaing Kanselir Angela Merkel, mengatakan bahwa setiap orang yang mendorong untuk melakukan kekerasan tidak akan menikmati perlindungan kebebasan beragama di Jerman.

Dia tidak terima dengan serangan teror truk di bazar Natal Berlin bulan lalu yang menewaskan 12 orang. Truk itu dibajak oleh Amis Amri untuk melakukan aksi yang dikenal sebagai serangan "lone wolf".

Salafisme merupakan cabang ultra-konservatif Islam, yang menurut pemerintah Jerman menyebarkan paham kekerasan. Gabriel dalam wawancaranya dengan Der Spiegel mengatakan bahwa setengah dari pengikut ISIS yang melakukan perjalanan ke Suriah adalah warga Jerman.

“Masjid Salafi harus dilarang, masyarakat yang terpengaruh, dan pengkhotbahnya harus diusir sesegera mungkin,” kata Gabriel, yang dilansir Minggu (8/1/2017). ”Jika kita serius memerangi terorisme, maka harus juga menjadi pertarungan budaya,” katanya lagi.

Partai yang dipimpin Gabriel saat ini berkoalisi dengan Partai Kristen Demokrat yang dipimpin Kanselir Angela Merkel. Namun, kedua pemimpin ini sejatinya bersaing untuk merebut simpati publik Jerman untuk meraih kekuasaan.

“Perkotaan jangan diabaikan, desa tidak boleh jatuh dalam kerusakan dan orang-orang jangan menjadi lebih dan lebih radikal,” ujar Gabriel.

Partai yang dipimpin Gabriel sudah mempersiapkan diri untuk pemilu pada tahun ini dengan memilih bersikap anti-imigrasi. Sikap itu dipilih untuk melawan gelombang pengungsi ke Jerman yang dianggap rawan terhadap serangan teror.

Sumber:sindonews.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...