Komisi IV DPRK Banda Aceh melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan dan para kepala Pukesmas di Kota tersebut. Pertemuan ini membahas penanganan COVID-19 yang terus merambah di ibu Kota Provinsi Aceh. Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Tati Meutia Asmara mengharapkan untuk daerah tersebut agar dilakukan pengadaan alat tes uji swab oleh Pemerimntah setempat. "Turut juga bertemu dengan direktur RSUD Meuraxa, dari pertemuan itu sangat banyak menemukan permasalahan baru, yaitu claster-claster baru yang terbentuk di Kota Banda Aceh," kata Tati Meutia Asmara kepada wartawan usai pertemuan dengan mitra kerja,Kamis (6/8/2020).

Mantan Petinggi Nomor Dua Khmer Merah Meninggal

FOTO | Mark Peters/Extraordinary Chambers in the Courts of Cambodia via APMantan Wakil Ketua Partai Demokratik Kamboja atau Khmer Merah, Nuon Chea
A A A

JAKARTA- Mantan petinggi nomor dua kelompok Khmer Merah, Nuon Chea, dilaporkan meninggal pada Minggu (4/8) kemarin dalam usia 93 tahun. Semasa hidup, Chea yang dikenal dengan julukan 'Saudara Nomor 2' adalah Kepala Biro Ideologi Khmer Merah yang memimpin revolusi di Kamboja hingga menelan dua juta korban jiwa.

"Kami membenarkan kabar terdakwa Nuon Chea (93) meninggal pada Minggu (4/8) pagi di Rumah Sakit Persahabatan Khmer Soviet. Keluarga mendiang sudah dikabari," kata juru bicara Mahkamah Luar Biasa Kamboja (ECCC), Neth Pheaktra, seperti dilansir Reuters, Senin (5/8).

Pheaktra tidak menjelaskan penyebab kematian Chea. Dia hanya mengatakan Chea sudah dirawat sejak awal Juli.

Aktivis yang juga kepala Pusat Dokumentasi Kamboja, Youk Chhang, menyatakan Chea bisa menghindari hukuman di dunia karena terlebih dulu meninggal. Menurut dia, Chea hanya salah satu contoh manusia yang menghancurkan bangsanya karena dibutakan oleh kekuasaan dan praduga.

"Dia bisa lari dari hukum dunia, tetapi dia tidak bisa lari dari hukuman Tuhan," kata Chhang.

Nuon Chea adalah salah satu terdakwa yang diadili dalam ECCC, atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan ketika rezim Khmer Merah memerintah pada 1975 hingga 1979. Mahkamah gabungan itu terdiri dari pakar hukum Kamboja dan dunia. Mereka dibentuk pada 2006 dengan tujuan mengadili para pimpinan Khmer Merah. Sayangnya hingga saat ini baru tiga orang yang divonis bersalah oleh mereka, sementara proses penyelidikan hingga persidangan sudah menelan biaya hingga US$300 juta (sekitar Rp4,3 triliun).

Chea tidak belajar soal ideologi komunis di Paris, Prancis seperti Pol Pot dan petinggi lainnya. Dia hanya mengenyam pendidikan di Thailand dan sempat menjadi anggota partai komunis setempat.

Chea kemudian ditunjuk sebagai Wakil Sekretaris Partai Komunis Kamboja pada 1960. Dia kemudian diberi wewenang mengurus unit interogasi S-21 di SMU Tuol Sleng yang diubah menjadi penjara.

Mantan Presiden Negara Demokratik Kamboja, Khieu Sampan, dan Chea divonis bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan lima tahun silam. Keduanya dihukum penjara seumur hidup. Dalam sidang terpisah, Chea juga terbukti bersalah melakukan pembantaian (genosida).

Dalam sidang yang digelar sejak 2011, Chea menyatakan tidak bersalah terhadap seluruh dakwaan.

"Posisi saya ketika terjadi revolusi adalah untuk melayani kepentingan negara dan rakyat," kata Chea saat itu.

"Saya berjanji membela negara saya karena melihat penindasan dan ketidakadilan. Saya rela meninggalkan keluarga untuk membebaskan negara dari kolonialisme dan penjajahan oleh para pencuri yang ingin menduduki dan menghapus Kamboja dari Bumi," ujar Chea ketika itu.

Sampan dan Chea bersama Pol Pot (Saudara Nomor 1) menguasai Kamboja dengan tangan besi pada 1975 hingga 1979. Kolaborasi maut ketiganya membuat sekitar 2 juta warga Kamboja tewas saat itu.

Ideologi komunis ekstrem yang mereka terapkan membuat seperempat populasi penduduk Kamboja lenyap karena kerja paksa, kelaparan, dan eksekusi mati. Kebijakan dan rekayasa sosial itu disebut dengan 'Tahun Nol'.

Rezim Khmer Merah ingin membuat masyarakat tanpa golongan sosial dan agama dengan kekerasan. Selama 4 tahun berkuasa, mereka melakukan kawin paksa, pemerkosaan, membunuh para pemuka agama, dan pembantaian di seluruh kamp kerja paksa.

Sayang tak semua petinggi Khmer Merah bisa diadili. Mantan Menteri Luar Negeri Negara Demokratik Kamboja, Ieng Sarry dan sang istri tidak bisa diseret ke pengadilan karena meninggal. Pol Pot pun sudah tutup usia pada 1998 lalu.

Chea juga mengangkat Kaing Guek Eav yang dijuluki sebagai Kamerad Duch sebagai kepala unit S-21 di Tuol Sleng. Di tempat itu mereka membantai penduduk Kamboja mulai dari lansia hingga balita.

Di akhir masa pemerintahan Khmer Merah, Chea memerintahkan Duch menghabisi seluruh tahanan di Tuol Sleng.

Sumber:CNN Indonesia
Rubrik:DUNIA

Komentar

Loading...