Hasrat masyarakat di wilayah tengah Aceh untuk pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kian masif. Bermacam upaya untuk proses percepatan lahirnya Provinsi ALA terus dilakukan, baik itu dari kalangan pimpinan daerah, tokoh pejuang, aktivis, mahasiswa hingga reje Kampung di wilayah tengah tersebut. Sejumlah pemuda memasang pamplet yang bertuliskan Kantor Bupati Bener Meriah Provinsi ALA yang dipasang persis didepan kantor Bupati Bener Meriah. Kamis ( 24/9/2020).

Libatkan Ulama dan Tokoh Untuk Edukasi Masyarakat Menghadapi Covid- 19 di Aceh

ISTIMEWAKepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwaddin
A A A

Oleh: Dr H Taqwaddin Husin, M.S.

Kondisi Covid-19 di Aceh makin riskan dan membahayakan. Hari ini, Kamis 30 Juli 2020, Serambi memberitakan bahwa jumlah yang terpapar mencapai 74 orang. Terjadi peningkatan drastis dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mengapa dan apa solusi yang dapat dilakukan oleh semua kita untuk mengeliminasi dan bahkan untuk menghentikan laju pensebaran Covid-19 tersebut.

Saya tak akan membahas sebab musabab. Biar saja orang lain yang akan mengkajinya.

Dalam waktu terbatas, sambil menunggu istri belanja kebutuhan Idul Adha, saya ingin sampaikan beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, saya sarankan kepada seluruh warga masyarakat atau penduduk Aceh agar hati-hati dan terapkan protokol alias aturan kesehatan. Yaitu, jangan keluar rumah jika tidak penting sekali, pakai masker jikapun harus keluar rumah, sering cuci tangan, jaga jarak dengan orang lain, jaga tubuh agar selalu bugar, jaga kebersihan, dan selalu berdoa.

Kedua, kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota saya sarankan agar melakukan edukasi yang merakyat kepada warga masyarakat. Libatkan ulama dan tokoh-tokoh masyarakat dalam edukasi bahaya Covid dan pentingnya Protokol Kesehatan. Sampaikan materi-materi tentang bahaya Covid serta cara pencegahannya dalam setiap khutbah Jum'at dan juga pada setiap ceramah-ceramah agama.

Kesan saya, warga masyarakat, termasuk tokoh-tokoh masyarakat masih ada yang beranggapan remeh dan bahkan berpikir negatif terhadap fakta Covid-19 dengan segala protokolnya. Sepertinya, masih ada yang tidak percaya banyaknya korban yang terpapar covid. Begitu pula terjadap yang meninggal dunia karena Covid.

Ketiga, hemat saya ini masalah kepercayaan publik kepada pemerintah. Makanya, upaya edukasi pencegahan dan penanggulangan Covid mesti dilibatkan para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat yang lebih dipercaya oleh warga masyarakat.

Saya prihatin, jika makin hari jumlah yang terpapar makin meningkat. Saya kuatir karena fasilitas dan SDM para dokter serta paramedis kita memiliki banyak keterbatasan. Sehingga, jika kuantitas yang terpapar semakin banyak, selaku Ombudsman RI Aceh, saya kuatir dengan kemampuan rumah sakit kita dalam melayani para pasien terpapar Corona ini secara optimal.

Sekali lagi, saya ingin sarankan agar Satgas Covid mengundang para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki massa dan pengaruh untuk meminta bantuan mereka guna melibatkan diri dalam upaya mencegah dan menanggulangi Covid-19 di Aceh.

Jangan sombong dan takabur menghadapi bencana misterius ini. Ini tanggungjawab kita semua.

Salam
Selamat Idul Adha 1441 H
Mohon maaf lahir dan batin

Penulis merupakan Kepala Ombudsman RI Aceh

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...